
Satu minggu berlalu. Hari ini, adalah hari yang paling di nantikan oleh Johan dan Monica. Hari dimana mereka akan mengikrarkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan.
Sejak kemarin, keluarga Hugo yang merupakan keluarga dari pihak mempelai pria, telah di sibukkan dengan acara persiapan pernikahan.
Meski biaya di tanggung oleh pihak keluarga Monica, namun ada beberapa yang juga di tanggung oleh nyonya Hugo untuk Johan.
Wanita paruh baya itu menganggap Johan seperti putranya sendiri, apalagi selama 8 tahun ini, pria muda itu telah mengabdikan dirinya kepada Edward. Jadi, tidak masalah untuk nyonya Hugo mengeluarkan uang untuk pernikahan Johan.
Semua anggota keluarga telah berkumpul di tempat acara, namun belum memasuki aula dimana acara akan di langsungkan.
Pihak mempelai pria, mengambil satu kamar besar, untuk mereka berhias. Begitu pula pihak mempelai wanita.
Para wanita dari keluarga Hugo, mengenakan gaun yang senada yaitu warna peach, hanya berbeda motif jahitan saja.
Edward menginginkan sang istri menggunakan gaun yang tertutup dan berlengan panjang. Ia tidak mau sedikit pun kulit istrinya terlihat. Apalagi bagian dada wanita itu, kini lebih besar dari sebelumnya karena ulah pria itu.
Sementara Edward dan Devano juga mengenakan setelan yang sama, senada dengan para wanita.
“Kenapa menangis?” Suara Edward menginterupsi para wanita yang tengah mematut diri. Sontak mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Edward sedang berbicara dengan Johan yang sedang menyeka sudut matanya.
Asisten Edward itu terlihat lebih tampan saat mengenakan setelan tuxedo berwarna putih.
“Tidak apa-apa, bos. Aku hanya terharu.” Kepala pria itu menggeleng kecil.
Ketiga wanita Hugo pun mendekat.
“Ada apa, Jo?” Nyonya Hugo bertanya.
“Aku hanya terharu nyonya. Semua orang sangat baik padaku. Keluarga Hugo, keluarga Gunawan, kalian bahkan tidak membiarkan aku mengeluarkan sepeser uang untuk acara pernikahan ku.”
Laura yang melihat mata Johan mulai berair, langsung menyerahkan beberapa lembar tissue kepada pria itu.
“Terima kasih, nona.” Johan pun menghapus air matanya.
Sejak seminggu yang lalu, perasaan Johan tidak karuan. Bukan karena ragu untuk menikah, namun karena rasa sungkan yang tiba-tiba menghantui.
Ia tidak mengeluarkan uang sepeser pun dalam acara pernikahannya, biaya gedung dan dekorasinya sudah di tanggung ayah Monica.
Sementara untuk prasmanan dan segala kudapan yang tersedia dan juga seragam yang di gunakan keluarga Hugo, semua di tanggung oleh nyonya Hugo.
Ia merasa beruntung, meski tidak ada orang tua disisi saat hari paling bahagianya, namun banyak orang yang menyayanginya.
“Kemarilah.” Nyonya Hugo meraih pundak pria muda itu, kemudian mendekap tubuh yang lebih tinggi darinya itu.
“Jangan pikirkan apapun, bagiku kamu sudah seperti putraku. Ini hanya hal kecil, tidak sebanding dengan pengabdian mu selama ini kepada Edward.”
“Terima kasih, nyonya.”
“Sudah jangan menangis. Nanti matamu sembab. Jangan sampai para undangan mengira kamu menikah karena terpaksa.”
__ADS_1
Johan pun tersenyum haru. Ia mengusap air matanya dengan tissue yang di berikan Laura tadi.
Tak berselang lama, seorang petugas EO datang, meminta Johan untuk segera mendatangi tempat acara.
Mereka pun keluar, dan menuju tempat dimana acara akan di selenggarakan.
*****
Di dalam aula yang mampu menampung seribu orang itu, telah ramai para undangan.
Johan hanya mengundang petinggi, dan karyawan di HUGO’S TOWER, ia tidak mungkin mengundang semua karyawan HUGO GROUP. Sementara undangan yang lain datang dari pihak keluarga Monica.
Hampir 10 menit berlalu, Johan telah menunggu dengan jantung yang bergemuruh kencang.
Ia merasakan bulir-bulir air, telah keluar di pori-pori kulitnya. Demi mengusir rasa gugup yang tiba-tiba melanda, Johan tak henti mengamati arloji di pergelangan tangannya.
Waktu seakan berjalan dengan lambat, membuat jantung itu kian berdetak tak karuan. Dalam hatinya, Johan tak henti memanggil nama Monica supaya cepat datang.
Namun, bukannya cepat datang, Monica tak juga kunjung tiba.
Hampir putus asa. Akhirnya pintu berhias bunga mawar itu terbuka. Menampilkan Monica yang datang mengandeng lengan sang papa. Dan Johan pun bisa bernafas lega.
Wanita yang telah di pacari Johan selama 2 tahun terakhir ini, terlihat lebih cantik dari biasanya. Mengenakan gaun panjang berwarna putih, dengan kain tipis penutup kepala yang menjuntai panjang hingga di belakang tubuh Monica.
Pak Gunawan menyerahkan Monica pada calon suaminya, Johan pun menerima tangan Monica dengan senang hati.
“Aku titip anakku padamu, Jo.” Pak Gunawan menepuk pundak calon menantunya.
Pak Gunawan pun undur diri dari sana.
“Sayang, kamu sangat cantik.”
“Kamu juga sangat tampan, sayang.”
Waktu menunjukkan tepat pukul 10 pagi. Dan acara pun di mulai. Johan dan Monica mengucapkan janji suci pernikahan secara bergantian. Kemudian saling menyematkan cincin. Dan di akhiri dengan ciuman hangat.
Dari kursi undangan, Laura merasa terharu melihat semua prosesi pernikahan itu. Ia kembali teringat akan pernikahannya dengan Edward.
“Kenapa menangis?” Edward berbisik, saat tak sengaja melihat sang istri menyeka sudut matanya.
“Aku terharu.” Jawab Laura singkat.
Sepasang pengantin anak manusia yang kini telah resmi menjadi suami istri, akan melakukan ritual melempar bunga.
Laura ingin ikut, namun Edward melarangnya.
“Jangan macam-macam. Atau kita pulang sekarang!” Ancam pria itu. Dan Laura hanya bisa membuang nafas pasrah.
Setelah ritual melempar bunga, pasangan pengantin baru itu, berkeliling menghampiri para tamu mereka. Ini lah konsep pernikahan yang Monica dan Laura pilih. Pengantin lah yang menghampiri tamunya, bukan berdiri di atas panggung, dan di salami satu persatu.
Johan dan Monica tiba di meja yang di tempati oleh keluarga Hugo, dan keluarga Gunawan. Mereka mengalami para tetua lebih dulu.
__ADS_1
Hingga mereka tiba pada kursi yang di tempati oleh Edward dan Laura.
“Bos?”
Edward berdiri, kemudian merangkul bahu asistennya. “Selamat, Jo. Jadilah suami yang baik.” Ucapnya terkekeh. Edward pun menyalami Monica dan memberi selamat.
Laura ingin memeluk Johan, namun tatapan mata suaminya seakan mengatakan tidak. Maka wanita itu hanya memeluk Monica, dan mengucapkan selamat.
“Kak Johan, mbak Monica, semoga kalian berdua bahagia selalu. Dan segera di berikan momongan.” Doa yang biasa orang katakan saat menyalami pengantin baru.
Johan dan Monica pun mengamini dan memberikan doa yang sama untuk Laura dan Edward.
Tangan Edward menengadah ke arah sang istri. Dan Laura mengerti, kemudian ia membuka tas yang sedari tadi ia bawa kemana-mana.
Wanita itu mengeluarkan sebuah map, kemudian memberikan kepada suaminya.
“Jo, seperti janjiku padamu. Aku memberi mu sebuah rumah, sebagai hadiah pernikahan mu dengan Monica.”
Edward menyerahkan map itu kepada Johan. Di hadapan keluarga mereka.
“Ambilah, Jo. Mulai besok, kalian sudah bisa menempatinya.” Imbuh Edward.
Dengan tangan gemetar, Johan meraih map itu. Kemudian memberikan kepada sang istri.
Pria berusia 30 tahun itu kemudian menghambur memeluk tubuh atasannya. Ia benar-benar beruntung.
“Terima kasih, bos.” Ucapnya dengan suara serak menahan tangis.
Edward hanya bisa menepuk punggung asistennya.
“Sudah jangan menangis. Kamu itu laki-laki. Malu sama Devano, dia saja tidak menangis.” Ucap Edward tergelak.
“Pak Ed, terima kasih.” Monica ikut terharu. Sebelumnya mereka berencana tinggal di apartemen yang sekarang Johan tempati, sampai mampu membeli rumah. Namun tak di sangka, mereka mendapatkan hadiah sebesar itu dari sang atasan.
“Itu tidak seberapa, Monic.”
Keluarga mereka pun ikut terharu. Terutama Laura. Ia tidak menyangka jika suaminya menyiapkan hadiah rumah untuk Johan.
“Pi, kalau boleh tau. Kak Johan dan mbak Monica tinggal dimana?”
“Mereka tinggal di depan rumah kita.”
Laura dan Monica menganga. Mereka sama-sama tercengang. Perumahan yang Edward tempati itu adalah salah satu kawasan elite di ibu kota. Dan Monica tau, berapa harga di kawasan itu, karena Edward sempat mengajaknya bertemu pengelola saat hendak membeli rumah untuk Laura.
.
.
.
T. B. C
__ADS_1