
Keesokan harinya, Laura memutuskan meninggalkan panti setelah makan siang. Ia teringat akan kondisi kamar Edward saat mereka tinggalkan kemarin.
“Bagaimana aku bisa lupa membereskan kamar sebelum pergi kemarin?”
“Hah” gadis itu membuang nafasnya kasar. “Aku harus cepat sampai, sebelum Ed sampai terlebih dulu.”
Gadis itu pun memacu mobil tuanya dengan kecepatan tinggi.
“Ah.. kenapa harus macet sih?” Ingin rasanya ia mengumpat. Di saat seperti ini kenapa jalanan harus padat merayap begini.
Hampir 3 jam berada di jalanan. Kini mobil tua itu telah terparkir sempurna di basemen gedung penthouse tempat tinggal Edward.
Gadis itu menarik nafasnya lega. Karena saat ia tiba, hari masih terang.
Saat hendak menuju lift, mata Laura tanpa sengaja melirik ke arah parkiran khusus milik Edward.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.” Gadis itu menunjuk deretan mobil mewah yang terparkir disana.
“Ada enam mobil.” Ia menganggukkan kepalanya. Lalu melanjutkan kembali langkahnya.
Namun ia tiba-tiba berhenti dan berbalik melihat ke arah mobil-mobil mewah itu. “Astaga, ada enam mobil?” Mata gadis itu membulat sempurna.
“Itu artinya, tuan me*sum sudah ada di atas?” Ia bermonolog. Lalu bergegas memasuki lift.
“Pria tua itu benar-benar ya, katanya akan tiba sebelum makan malam? Bagaimana bisa dia tiba di siang hari begini?” Gadis itu masih tetap menggerutu sampai pintu lift terbuka di depan penthouse mewah itu.
Laura pun menarik nafasnya panjang sebelum ia membuka pintu utama penthouse itu.
“Sepi?” Gadis itu celingukan memindai ruangan luas itu, namun tidak ada tanda-tanda ada orang disana.
Ia memutuskan naik ke kamar tidur Edward. Laura harus membereskan semua kekacauan yang terjadi di kamar pria dewasa itu.
Saat ia memegang handle pintu, Laura merasakan pintu itu tidak terkunci. Seketika jantungnya berdebar.
‘Apa dia ada di dalam kamar?’ Tanya batinnya.
Dengan pelan dan hati-hati gadis itu membuka dan menutup kembali pintu kamar.
Ia merasa lega, karena sang pemilik kamar kini sedang tidur pulas, terlentang di atas ranjang. Dengan mengendap-endap, Laura berlalu menuju ruang ganti. Ia akan membersihkan kamar mandi dan ruang ganti terlebih dahulu.
Hampir tiga puluh menit Laura membersihkan kamar mandi dan juga ruang ganti. Ia pun beralih membersihkan kamar tidur.
Saat ia meletakan alat bersih-bersihnya di sudut ruangan, samar-samar ia mendengar isak tangis seseorang, tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang.
Gadis itu mendekat ke arah ranjang, suara isakan itu semakin keras terdengar. Ia melihat Edward meringkuk di atas ranjang, memeluk dirinya sendiri. Tetapi matanya tetap terpejam.
“Jangan tinggalkan aku.” Edward bersuara di sela tangisannya.
“Ed?” Laura mengerutkan dahinya. Ia mendudukkan tubuhnya dengan pelan.
Pria dewasa itu semakin terisak, ia semakin erat memeluk dirinya sendiri.
“Jangan pergi… jangan tinggalkan aku… aku mohon.”
Laura mengamati wajah pria dewasa itu, peluh begitu deras membasahi wajah tampannya. Dahinya berkerut, dengan kedua alis yang hampir menyatu.
__ADS_1
‘Dia mimpi buruk lagi?’
“Ed..” Laura memberanikan diri mengusap lengan pria itu.
“Jangan tinggalkan aku.”
Gadis itu pun merebahkan diri disamping Edward. Ia memeluk tubuh pria itu dari belakang.
“Ed, aku tidak akan meninggalkan mu.” Ucap gadis itu di telinga pria dewasa itu. Ia mengecup bahu Edward yang masih terbungkus baju kaos berwarna putih.
Mungkin alam bawah sadar pria itu dapat merasakan ada yang mendekapnya dari balik punggung. Tanpa membuka mata, Edward membalik tubuhnya danp mendekap tubuh semampai gadis itu.
“Jangan pergi.” Ucap pria itu masih dalam tidurnya.
“Aku tidak akan pergi, Ed.” Laura mengusap lembut kepala Edward dan membawa ke atas dadanya.
‘Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ed? Kenapa setiap kamu tidur sendiri, kamu selalu bermimpi buruk? Bolehkah aku tau, Ed?’
Tanpa terasa, mata Laura pun ikut terpejam.
******
Entah berapa lama waktu berlalu, pria dewasa itu akhirnya menggeliat. Ia merasa tidurnya sangat nyaman. Dengan pelan ia membuka matanya. Dan mendapati kepalanya berada di dekapan gadis manisnya.
Edward mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah cantik alami milik Laura. Lalu ia mengecup rahang gadis itu.
“I miss you, baby”
Gadis itu menggeliat, ia membuka matanya mendapati Edward yang sedang menatapnya.
“Kamu sudah bangun?” Tanya gadis itu, ia mengusap wajah tampan pria itu.
“Hmm, bahkan yang lainnya juga ikut bangun, baby.” Suara pria itu terdengar serak.
“Apa?” Tanya gadis itu, bukannya ia tidak tau maksud Edward. Gadis itu bahkan dapat merasakannya.
“Jangan pura-pura tidak tau, baby. Bersiaplah aku akan menghabisi mu sekarang.”
Pria dewasa itu sedikit bangkit dari posisi tidurnya, ia lalu mengukung gadis pujaannya.
Ia memberikan kecupan hangat pada kening gadis itu. Sungguh Edward telah jatuh hati pada gadis yang usianya lebih muda 14 tahun darinya.
Pertama kali melihat Laura di parkiran bank, entah mantra apa yang telah gadis itu gunakan, sehingga membuat Edward begitu terpesona akan dirinya.
Tidak hanya kening, pria itu kemudian mengecup kedua mata Laura, lalu berpindah ke pipi tirus gadis itu dan berakhir pada bibir tipis nan memabukan.
Setelah puas di area wajah, bibir tebal Edward berpindah ke leher, lalu berlabuh di dua bantal kenyal kesukaannya.
“Mmhhhh” suara keramat pun keluar dari bibir Laura.
Sang pemimpin kekuasaan tersenyum menyeringai, mendengar lawannya sudah masuk perangkapnya.
Ia pun mulai melepaskan satu persatu kain penutup tubuh lawannya, lalu melakukan hal yang sama pada dirinya.
Pria dewasa itu memandangi sekali lagi tubuh polos lawannya. Ia selalu saja kagum akan indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini.
__ADS_1
‘Aku mencintaimu, Laura Anastasia.’
Edward hanya dapat mengucapkan kata-kata itu dalam hatinya.
“Edhh.. jangan memandangku terus.” Ucapan Laura terdengar seperti sebuah undangan bagi Edward. Ia pun mulai mendekatkan benda keras tak bertulangnya ke arah pusat sasarannya.
“Akhh” de*sah keduanya bersamaan. Setelah benda itu berhasil masuk.
Mereka sejenak saling menatap penuh damba. Mengatur nafas yang saling memburu. Setelah semuanya stabil, perjalanan menuju puncak pun kembali di lanjutkan.
Hampir tiga puluh menit memacu perjalanan, Edward merasa ia akan segera sampai di puncaknya.
“Hhh..apa.. kamu.. ingin hhh di dalam lagi, baby.” Tanya pria itu menggeram. Ia memelankan pergerakan benda keras tak bertulangnya.
“Mmhhh” gadis itu hanya mampu mengangguk, matanya terpejam menikmati apa yang pria dewasa itu lakukan pada tubuhnya.
“Sesuai keinginan mu, nyonya. Arghh.” Pria itu melaju semakin kencang dan dalam. Hingga puncak yang di nanti pun tiba.
Seperti biasa, setelah mereka mencapai puncak kejayaan. Edward akan membalik posisi, membuat tubuh semampai Laura berada di atasnya tanpa melepas tautan mereka.
Pria dewasa itu akan mengecup tanpa henti ubun-ubun gadisnya, sebagai ungkapan cinta kasih yang tidak di sadari oleh sang gadis itu sendiri.
“Ed..” Laura mendongak, setengah menumpu tubuhnya di atas dada bidang Edward.
“Ada apa, baby? Kamu mau lagi?” Tanya pria itu. Yang ikut mengangkat sedikit kepalanya lalu mengecup hidung Laura.
“Bukan, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Laura. Ia membalas mengecup rahang Edward di akhir ucapannya.
“Tanyakan lah, baby. Jika aku tau jawabannya, aku pasti akan menjawab.” Tangan Edward pun tidak berhenti mengusap punggung polos gadisnya.
“Itu,… apa kamu sering bermimpi buruk?” Tanya gadis itu ragu.
Deg…
“Apa iya? Darimana kamu tau?” Bukannya menjawab, Edward malah balik bertanya.
“Tadi kamu mengigau, Ed.
“Aku tidak ingat, baby. Aku terlalu lelah hingga ketiduran menunggumu.” Dusta pria dewasa itu.
Jujur, ia belum sanggup menceritakan pada Laura tentang apa yang pernah ia alami.
‘Maafkan aku, baby. Aku belum siap untuk bercerita. Aku janji suatu saat akan mengatakan semuanya padamu.’
.
.
.
T. B . C
Ayo lho… kira-kira ada apa di masa lalu babang Ed, sampai-sampai dia mimpi buruk? 🥺🥺
——
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah memberi dukungan… ❤️
I love you full pokoknya ❤️❤️