TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 125. Rumah 40 M.


__ADS_3

“Wah rumah papa besar sekali.” Devano turun dan berlari dari mobil yang telah terparkir cantik di halaman rumah mewah Edward.


“Sayang, hati-hati.” Laura hendak mengejar, namun di cegah oleh sang suami.


“Jangan lari, lihat. Gaunmu panjang, kamu yang seharusnya berhati-hati.”


Laura melihat gaun yang ia kenakan. Ya, pakaiannya panjang menjuntai.


“Ayo.” Edward meraih jemari Laura, kemudian mereka berjalan bersama.


“Selamat sore, tuan, nyonya.”


Bu desa membukakan pintu untuk para majikannya. Di ruang tamu sudah berjejer para asisten rumah, menunggu kedatangan keluarga Hugo.


“Bu, perkenalkan mereka adalah mama mertua dan saudari iparku.” Laura menujuk bergantian nyonya Hugo dan Felisha. “Dan anak kecil itu, keponakan ku.” Menujuk Devano yang tengah duduk di atas sofa bersama suaminya.


Laura pun memperkenalkan satu persatu asisten rumahnya, dengan nama yang ia berikan.


“Kenapa nama mereka mirip semua?” Tanya Felisha.


“Itu, mbak. Aku sering salah menyebut nama asli mereka. Jadi aku yang memberi nama itu pada mereka. Supaya lebih mudah saat memanggil.” Jelas Laura sembari mengusap tengkuknya.


Felisha dan nyonya Hugo pun terkekeh. Mereka maklum, karena Laura mengingat begitu banyak nama.


“Bu, kamarnya sudah siap?”


“Sudah, nyonya.”


Laura mengangguk, “mari, ma, mbak. Aku antar ke kamar.”


“Tapi, La kami tidak membawa pakaian ganti.”


“Kamu tenang saja, Fel. Di kamar kalian sudah tersedia beberapa pasang.” Jawab Edward yang sedang menemani Devano di atas sofa.


“Ayo.” Laura pun mengajak mertua dan iparnya menuju kamar masing-masing.


Setelah kepergian ketiga wanita itu, Edward meminta asisten dapur membuat makan malam. Ia memberitahu beberapa menu kesukaan sang mama dan juga adiknya.


Kemudian pria itu pun mengajak Devano ikut menyusul ke kamar.


“Boleh aku mandi bersama mami?” Tanya Devano dengan polos. Saat menuju kamar yang berada di dekat ruang keluarga. Pertanyaan bocah itu, langsung membuat mata sang papa membulat.


“Tidak. Kamu mandi di kamar mama mu, di sana sudah ada pakaian untukmu juga.”


“Tapi, pa?”


“Dev, papa bilang tidak, ya tidak. Mami lelah, sayang. Kasihan jika harus memandikan kamu juga.”


Devano berdecak sebal. Ia pun menuruti kata papanya.


Di dalam kamar, Edward buru-buru menghampiri sang istri yang sedang berganti pakaian.


Pria dewasa itu sudah mengunci pintu kamarnya. Ia ingin memanfaatkan kesempatan yang ada, karena nanti malam Devano akan ada di antara mereka.


“Biar aku bantu.” Tangan kekar Edward sudah berada di punggung sang istri untuk membantu menurunkan resleting gaun itu.

__ADS_1


“Terima kasih, pi.”


Gaun itu pun jatuh di atas kaki Laura, dengan sigap wanita muda itu menutup dadanya dengan tangan.


Edward menyeringai di balik punggung sang istri. Pria itu kemudian melabuhkan sebuah kecupan basah pada pundak sang istri.


“Sekali saja, mami. Nanti malam kan tidak bisa.” Bisiknya di telinga sang istri.


Pria dewasa itu lupa, tadi ia mengatakan pada sang putra jika Laura sedang lelah. Sekarang, ia justru membuat sang istri semakin lelah.


Dan Laura, wanita itu hanya bisa mengangguk. Tanpa melawan karena akan percuma.


Tanpa menunggu lama, Edward pun membawa tubuh sang istri ke dalam kamar mandi, dan menghabisi wanita itu di sana.


****


Edward menuruni anak tangga dengan bersenandung kecil. Pria itu nampak segar, dengan tampilan santainya.


Ia menuju arah mini bar, kemudian mengambil air mineral, lalu meminumnya.


“Habis berapa kali?” Celetuk Felisha di balik pilar.


Seketika membuat pria itu tersedak.


“Pelan-pelan, Ed.” Felisha pun menampakkan dirinya. Kemudian menepuk punggung saudara kembarnya itu.


“Jaga bicara mu, Fel. Bagaimana jika Devan mendengarnya?”


“Dev ada di ruangan menonton, katanya sudah lama kita tidak mengajaknya ke bioskop.”


Edward mengangguk. Ia kembali meneguk airnya.


“Masih mandi.”


Felisha memicingkan matanya. Bukannya sudah satu jam berlalu.


“Ini masih sore, Ed.” Celetuknya.


Edward mencebik. Sembari mengedikan bahunya.


“Nanti malam ada orang ketiga di antara kami. Jadi, ya manfaatkan kesempatan yang ada.”


Felisha hanya mampu menggeleng kan kepalanya. Mungkin karena saudaranya terlambat menikah, pria itu menjadi gila dalam urusan itu.


“By the way, habis berapa rumah sebesar ini?”


Edward diam sejenak, ia kemudian memindai sekelilingnya, supaya tidak ada yang mendengar. Takut nanti sampai di telinga sang istri.


“40M. Beserta isinya.” Jawaban singkat setelah ia merasa aman untuk menyebutkan harga.


“Wah.” Felisha menganga mendengar jawaban dari Edward. Ia hanya bisa menelan ludahnya kasar.


“Lalu rumah Johan?” Tadi Felisha juga sempat melihat rumah yang berada tepat di depan rumah Edward, meski tidak sebesar rumah saudaranya ini.


“5M, tidak semua perabotan yang aku isi. Hanya ranjang, sofa ruang tamu, pendingin udara, lemari pendingin, kompor, mesin cuci. Sisanya biar mereka memilih sesuai keinginan.”

__ADS_1


Felisha lagi-lagi menganga mendengar ucapan Edward. Pria itu benar-benar luar biasa. Ia memang memiliki loyalitas tinggi terhadap orang yang ia sayangi.


“Apa kamu ingin rumah juga?” Kini giliran Edward yang bertanya. Namun Felisha menggeleng.


“Apa aku tidak boleh tinggal bersama mama selamanya?”


“Tentu, sayang. Sampai kapan pun kamu boleh tinggal dengan mama. Tetapi ingat, jika kamu mau pindah, katakan padaku.”


“Apa boleh aku meminta untuk Devano?” Tanya Felisha lagi.


“Tentu, dan kamu harus ingat. Devano berhak atas sebagian harta yang aku punya.”


“Terima kasih, Ed.” Felisha pun menghambur memeluk sang kakak.


“Ada apa ini?” Suara Laura tiba-tiba menginterupsi mereka berdua. Yang seketika membuat pelukan mereka terlepas.


“Tidak apa-apa, baby. Hanya saja sudah lama kami tidak berbincang berdua.”


Laura mengangguk. Ia pun permisi untuk melihat persiapan di meja makan.


Waktu menunjukkan pukul 7.30 malam. Keluarga Hugo pun telah berkumpul di meja makan. Laura menghidangkan makanan untuk anggota keluarganya.


Makan malam berjalan dengan tenang. Setelah makan malam, seperti biasa mereka akan berkumpul di ruang keluarga.


Namun kali ini, Devano meminta pergi ke kamar lebih dulu. Ia ingin tau kamar yang di tempati papa dan maminya.


Laura menuruti, ia pun mengajak Devano ke kamar.


“Rumah ini atas nama siapa, Ed?” Tanya sang mama, mengamati setiap penjuru ruangan itu.


“Laura, ma.” Nyonya Hugo pun mengangguk. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Toh itu memang sudah menjadi tradisi di keluarga mereka.


Mereka kembali berbincang, dari perbincangan ringan, hingga membahas masalah perusahaan.


Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam, mereka pun membubarkan diri.


“Ma, aku tidur dengan mama saja, ya. Devan kan tidur dengan Ed dan Laura.” Ucap Felisha saat mereka berjalan menuju kamar.


Nyonya Hugo tersenyum. Ia pun mengiyakan keinginan sang putri. Wanita paruh baya itu memaklumi, mungkin saja Felisha masih memiliki rasa trauma, tidur sendirian.


Berbeda dengan Edward, sampai di kamar ia mendapati anak dan istrinya telah terlelap dengan posisi saling memeluk.


Pria itu pun berlalu ke ruang ganti, melakukan ritual malamnya, kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah bantal guling.


Edward mendekat ke arah ranjang, kemudian meletakan di sebelah kanan Devano.


“Maafkan papa, Dev. Papa tidak bisa tidur jika tidak memeluk mami mu.” Ucap Edward sembari mengecup kening Devano.


Pria itu kemudian mematikan lampu utama. Memutari ranjang, lalu naik di sebelah kiri sang istri. Mendekap dari belakang, tubuh semampai yang telah menjadi teman tidurnya selama hampir 3 bulan ini.


“Good night, mami.”


.


.

__ADS_1


.


T. B. C


__ADS_2