TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 56. Dia, Cinta Pertamaku!


__ADS_3

Matahari kini telah bersinar dengan cerahnya. Saat waktu menunjukkan pukul 8 pagi.


Membasuh mukanya dengan sebotol air mineral yang ia beli di warung dekat panti asuhan, wajah Edward kini terlihat lebih segar.


Ia melangkah mendekat ke arah pintu gerbang panti yang masih tertutup, tetapi terlihat jika sudah ada orang yang mulai beraktivitas disana.


“Permisi, pak.” Edward sedikit mengetuk pintu besi itu agar orang di dalam sana mendengarnya.


Orang itu, yang tak lain adalah pak Toto sang tukang kebun panti, mendekat ke arah pintu gerbang.


Ia membuka pintu itu, agar bisa melihat siapa yang datang.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya sopan.


“Apa saya boleh masuk? Saya ingin bertemu dengan pengurus panti ini.”


Pak Toto berpikir sejenak. Ia belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Apa mungkin ini calon donatur?


“Saya ingin menjadi donatur di panti ini, pak.” Ucap Edward.


“Oh, mari pak ikut saya.” Pak Toto mempersilahkan tamunya masuk.


Edward menatap ke sekeliling halaman panti yang begitu asri. Ia membayangkan bagaimana gadisnya tumbuh dewasa di tempat ini. Seketika senyum tersungging dari bibir pria dewasa itu.


“Pak, kenapa sepi?” Tanya Edward yang tidak melihat adanya anak-anak di halaman panti.


“Anak-anak pada sekolah, pak.” Jawab pak Toto yang berjalan di samping Edward.


“Tidak ada balita?”


“Anak-anak disini paling kecil usai 5 tahun pak, mungkin sedang bermain di rumah belakang.”


Edward hanya menganggukkan kepalanya. Ini untuk pertama kalinya ia memasuki panti asuhan milik orang tua Laura. Jadi ia belum tau seluk beluk panti ini.


“Mari pak, silahkan masuk.” Pak Toto membukakan pintu ruangan dimana biasanya ibu Maria menerima tamu.


“Pak, tunggu disini dulu. Saya akan panggilkan pengurus panti ini.”


Setelah sendirian disana, Edward mengamati ke setiap penjuru ruangan. Tampak beberapa bingkai foto terpanjang di dinding dan juga meja.


Hati Edward tergelitik melihat foto seorang gadis kecil yang diapit oleh dua orang dewasa. Ia pun mendekat ke arah foto itu.


“Itu pasti kamu, baby.” Edward mengeluarkan ponsel mahalnya dan mengambil beberapa gambar yang ia yakini itu adalah sang pujaan hati semasa kecil.


“Kamu mirib sekali dengan ibumu.” Edward mengusap bingkai kecil di atas meja, dimana itu merupakan foto Laura dan ibunya saat ia berusia 15 tahun.


“Maaf, ada yang bisa di bantu?” Suara wanita paruh baya menginterupsi tindakan Edward.


Pria itu meletakan kembali bingkai yang ia pegang pada tempatnya.


Edward berbalik, ia melihat ada dua orang wanita paruh baya kini sedang menatapnya.


‘Salah satu dari mereka, pasti bernama ibu Maria.’


Edward mendekat ke arah mereka berdua.


“Saya ingin bertemu dengan ibu Maria.” Ucap Edward tanpa basa-basi.


“Ya, saya Maria.” Ucap wanita berbaju kemeja lengan panjang berwarna putih.

__ADS_1


“Saya Edward, Bu.” Pria itu menjulurkan tangannya, dan disambut hangat oleh ibu Maria.


“Mari silahkan duduk.” Bibi Lily mempersilahkan tamunya untuk duduk terlebih dulu.


Edward menoleh ke arah wanita itu.


“Saya Lily, asisten dari Maria.” Ucapnya.


Edward menganggukkan kepalanya, ia lalu mendudukkan bo*kongnya di atas sofa.


“Sebentar biar saya buatkan kopi.” Bibi Lily pergi meninggalkan mereka berdua.


“Apa ada yang bisa saya bantu, pak?” Tanya ibu Maria lagi. Ia meneliti, sepertinya pria ini bukan orang sembarangan.


“Bu, sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri dulu. Aku Edward Alexander, orang Laura akui sebagai majikannya.” Ucap pria itu.


“Apa?” Kedua alis ibu mari hampir saja menyatu.


“Iya, Bu. Tetapi aku bukanlah majikannya.”


“Maaf saya belum mengerti maksud anda, pak.”


“Aku—,”


“Maaf menyela. Ini Silahkan diminum kopinya.” Ucap bibi Lily.


“Terimakasih, Bu.” Ucap Edward. Ia menyeruput sedikit kopi yang disajikan, lalu meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.


“Hah” pria dewasa itu menghela nafasnya. Ia lalu mulai menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Laura. Tetapi ia tidak mengatakan jika ia dan Laura telah tidur bersama.


Edward tidak mau ibu Maria marah pada gadis itu. Ia sadar sesadar sadarnya, apa yang ia lakukan dengan Laura itu salah. Meski di lakukan dengan keadaan mau sama mau.


Tetapi sebuah kesalahpahaman, membuat gadis itu pergi meninggalkannya.


“Jadi kamu mencintainya?” Tanya ibu Maria setelah beberapa waktu bungkam mendengar cerita Edward.


“Iya, Bu. Dia adalah cinta pertamaku, setelah ibuku.” Ucap pria itu lirih.


“Kamu serius dengannya?”


“Tentu, Bu. Aku bahkan berencana menikahinya setelah ia lulus. Dan dia tau itu.”


“Kamu tau jika dia pernah mengalami sakit hati karena penolakan oleh keluarga mantan kekasihnya dulu?” Kini giliran bibi Lily yang bertanya.


“Aku tau, bahkan aku sudah membuang jauh pria itu. Yang akhir-akhir ini dia kembali datang mengusik Laura.”


“Lalu apa keluargamu akan menerima anakku?” Tanya ibu Maria.


“Kamu sepertinya dari keluarga yang lebih mampu dari mantan Laura yang sebelumnya, apa mungkin keluargamu mau menerima seorang anak yatim piatu?” Imbuhnya lagi.


“Bu, meski yatim piatu, tetapi setatus Laura jelas. Dia bukan anak haram.” Ucap Edward.


Dari kecil keluarganya tidak pernah membeda-bedakan setatus sosial orang lain. Bagi keluarganya, semua orang sama di mata Tuhan.


“Lalu apa keluarga mu bisa menerima anak kami yang tidak memiliki apa-apa?” Tanya bibi Lily.


“Bu, di dalam keluarga ku, pria lah yang bertanggung jawab untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya. Tugas wanita hanya harus selalu berada disamping prianya, memberikan dukungan, kasih sayang, dan selalu mendoakan yang terbaik untuk prianya.” Jawab Edward panjang lebar.


“Tetapi, keluargaku juga tidak melarang, jika ada wanita yang ingin bekerja dan memiliki usaha sendiri, asalkan tetap mengutamakan keluarganya.”

__ADS_1


Ibu Maria menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang di ucapkan oleh pria itu.


Mereka pun kembali mengobrol.


******


“Sayang, kenapa kamu terlihat kusut begitu?” Tanya Monica yang melihat sang kekasih tidak seperti biasanya.


“Aku lelah, sayang. Semalam aku tidur hampir larut malam, dan tadi pagi aku bangun saat subuh.” Pria itu menyadarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


“Kasian sekali sayangku ini.” Monica mendekat, dan berdiri di belakang kursi yang di tempati pria itu. Ia pun mulai memijat bahu kekasihnya.


“Apa nona Laura belum ketemu?”


“Belum, sayang. Bahkan bos belum pulang dari mencarinya.” Ucap Johan sambil memejamkan matanya.


“Kamu sudah mencoba melacak GPS ponsel nona Laura? Atau mungkin kamu melacak plat mobil yang nona bawa.” Monica memberi saran.


Johan tersentak, kenapa ia tidak berpikir sejauh itu. Seketika ia menarik tubuh Monica dan mendudukkan di pangkuannya.


“Sayang, kenapa kamu baru mengatakan hal itu?”


“Memangnya kamu tidak melakukan hal itu?”


Johan menggeleng.


“Astaga, Johan.. kenapa kamu menjadi bodoh begini?” Gadis itu membenturkan keningnya pada kening pria itu.


“Aku panik, sayang. Semalam bos hampir memakanku hidup-hidup. Jadi aku tidak bisa berpikir jernih.” Johan membela diri.


“Ya sudah, ayo kita hubungi teman detektif mu. Lebih cepat kita menemukan nona Laura, lebih cepat juga kita bisa menikah.” Sambung pria itu lagi, sambil mengecup pipi sang kekasih.


.


.


.


T. B. C


———


Bab ini backsoundnya lagu dari BCL


—sunny… sunny…. Apa kabar mu..?? Kabar ku baik-baik, saja… sunny… sunny—


❤️❤️❤️


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


TerimaGaji


I LOVE YOU TILL THE END

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2