
Keesokan harinya, seperti apa yang di perintahkan Edward, Johan mengirim 10 orang tukang ke panti asuhan.
Edward memerintahkan mereka untuk memperbaiki beberapa tempat, memperbaharui warna dinding kamar anak-anak, menambah tempat bermain, dan memperbaiki perpustakaan.
Ia ingin memberi kejutan pada pujaan hatinya, jika suatu saat gadis itu pulang.
“Terimakasih, nak. Ibu tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan mu.” Ucap ibu Maria dengan mata berkaca-kaca.
Edward mendekap tubuh wanita paruh baya itu. Ia sudah menganggap ibu Maria seperti ibunya sendiri.
Mereka kini tengah mengawasi para tukang yang bekerja.
Dan untuk anak-anak, setelah pulang sekolah nanti mereka akan menginap di hotel yang terletak tidak jauh dari panti, selama panti masih di perbaiki.
“Ibu cukup mendoakan aku saja. Supaya aku selalu sehat. Dengan begitu aku bisa tetap bekerja dan membantu orang-orang di sekitarku.”
“Ibu pasti akan selalu mendoakan mu, nak.” Ucap ibu Maria tulus.
“Bu, aku Edward Alexander Hugo, meminta restu kepadamu. Untuk menikahi putrimu, Laura Anastasia.” Edward menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
Ibu Maria menganggukkan kepalanya. Ia melihat ketulusan di mata pria dewasa itu.
Sebagai orang tua, ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Dan ibu Maria yakin, Edward pria yang tepat untuk Laura.
“Berjanjilah pada ibu, kamu akan selalu membahagiakan putri ibu?” Ucapnya.
Edward menggelengkan kepalanya.
“Bu, aku tidak mau berjanji akan selalu membahagiakan Laura, tetapi aku akan selalu berusaha membahagiakan dia. Jika sekarang aku berjanji, aku takut suatu hari nanti tidak bisa menepatinya dan membuat ibu kecewa.” Ucap Edward panjang lebar.
“Ibu percayakan Laura padamu, nak.” Ibu Maria mengusap lengan pria dewasa itu.
“Apa kamu akan pulang hari ini?” Tanya ibu Maria.
“Aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan, Bu. Doakan ya, supaya semuanya berjalan lancar.”
“Tentu, nak.”
Setelah makan siang di panti, Edward pamit dengan ibu Maria, yang masih disana mengawasi para tukang.
Pria itu menghubungi sang asisten supaya mengirimkan alamat dimana kini sang pujaan hatinya.
Rasa rindunya kini sudah tidak tertahan. Selain itu, ia ingin segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Kini ia tau, penyebab utama gadis itu pergi karena melihat Edward bersama Devano dan Felisha.
“Tunggu aku, baby. Aku datang.”
Sementara itu di kota tempat pelariannya, Laura kini sedang bermalas-malasan di dalam kamar hotel.
Rencananya ia ingin pindah, tetapi karena tidak ada satupun panggilan masuk dari Edward ataupun Johan, ia pun mengurungkan niatnya.
Lagipula, uangnya juga sudah menipis. Pergi lebih jauh lagi akan membuat ia kekurangan biaya hidup.
“Ya sudahlah, kita berjalan-jalan di luar hotel saja nanti malam.” Gadis itu merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
Menjelang sore tubuh gadis itu menggeliat. Ia merasa sudah terlalu lama tertidur.
Deg..
Laura melihat ada tangan pria di pinggangnya. Gadis itu menelan ludahnya kasar. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
‘Ya Tuhan, tangan siapa ini?’
Ia merasakan hembusan nafas teratur di ceruk lehernya. Mungkin pria di belakangnya ini sedang tertidur.
Dengan perlahan Laura menoleh ke arah belakang, tanpa membalik badannya.
Deg…
“Ed..?”
__ADS_1
Gadis itu tidak percaya. Bagaimana pria ini bisa berada di dalam kamar hotelnya. Tidak ada menghubunginya selama 2 hari ini, tetapi tiba-tiba berada disini memeluknya sekarang.
‘Ah, aku lupa pria ini siapa?’
Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya menjadi telentang. Ia pun mengangkat lengan pria itu agar melepaskan pinggangnya.
“Aku lelah, baby. Ayo kita tidur lagi.” Ucap Edward dengan mata yang masih terpejam. Ia pun kembali memeluk erat pinggang Laura.
‘Apa-apaan pria tua ini?’
“Tidur baby, jangan mengumpat ku.” Edward merubah posisi tidurnya, dan membawa tubuh Laura ke atas tubuhnya.
Gadis itu mengalah, ia menelisik wajah tampan pria itu. Memang terlihat gurat kelelahan disana.
Dengan terpaksa, Laura pun merebahkan tubuhnya di atas tubuh pria itu.
‘Apa kamu tidak tidur dengan baik dua hari ini?’
Tanpa Laura inginkan, matanya pun ikut terpejam menemani pria itu ke alam mimpi.
*****
“Aku merindukanmu, baby.” Edward mengecup seluruh permukaan wajah Laura.
Tidak melihat gadis ini dua hari saja membuat dia begitu merindukannya.
“Engh.”
Laura merasa tidurnya terganggu, ia membuka matanya malas.
“Ayo bangun, baby. Ini sudah malam. Kamu tidak mandi?” Pria itu kembali mengecup pipi gadisnya.
Laura hanya diam. Ia belum siap menerima semua ini.
“Baby, apa terjadi sesuatu dengan pita suaramu? Kenapa tidak berbicara sedikit pun?” Edward menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
Sungguh ia merindukan aroma tubuh Laura.
“Aku tidak mau.” Jawab Edward.
“Tuan Hugo, tolong lepaskan a—, hmmpptt
Sebuah cium*an mendarat pada bibir tipis gadis itu. Cium*an yang sangat lembut.
Edward begitu merindukan rasa bibir gadis itu. Berpisah selama dua hari, seperti berpisah selama berhari-hari.
Pria itu terus menye*sap tanpa memberi jeda.
Laura memukul bahu pria itu, hingga Edward melepaskan bungkamannya.
“Apa kamu mau membunuhku?” Ucap gadis itu dengan nafas tersengal.
“Sudah sering melakukannya, kenapa masih tidak bisa mengatur nafas, baby?” Pria itu mengusap lembut bibir Laura yang sedikit membengkak.
“Ed, lepaskan aku. Aku mohon.” Ucap Laura dengan memelas.
“Aku tidak akan pernah melepaskan mu, baby. Sudah cukup kamu lepas selama 2 hari ini. Aku tidak akan mengijinka kamu pergi lagi.”
“Kamu yang mengatakan jika aku boleh—,” Edward kembali mengecup bibir gadis itu.
“Aku sangat merindukan ocehanmu, baby.” Pria itu meraih tubuh Laura, dan mendekapnya. Dengan posisi duduk di tengah ranjang.
“Jangan pergi-pergi seperti ini lagi, baby. Kamu tau, aku seperti orang yang tidak waras tanpa kamu.” Edward mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam aroma tubuh Laura.
Tangan kekar pria itu tidak hentinya mengusap punggung Laura.
“Jangan tinggalkan, aku.”
Deg..
Laura merasakan ada air yang membasahi ceruk lehernya.
__ADS_1
‘Apa pria tua ini menangis?’
Perlahan tangan gadis itu ikut mendekap tubuh Edward, dan mengusap punggung pria itu.
“Aku mencintaimu, baby.” Ucap pria itu lirih.
Deg…
‘Apa aku tidak salah dengar?’
Hening, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara diantara mereka berdua. Hanya terdengar dentingan dari jam dinding yang tersedia di kamar itu.
Perlahan Laura tersadar, ia ingat kembali kepada Devano dan juga Felisha. Seketika kepala gadis itu menggeleng.
“Tidak, ini salah.” Ucapnya. Ia berusaha mendorong tubuh Edward.
“Apanya yang salah, baby?” Tanya Edward, nampak kedua mata pria itu memerah menahan tangisnya.
“Semua yang kita lakukan salah, Ed.”
Edward menggelengkan kepalanya dan meraih jemari gadis itu.
“Tidak ada yang salah dengan hubungan kita, baby.” Pria dewasa itu mencium lembut tangan gadis itu.
“Jangan merayu ku, tuan Hugo. Kamu sama saja dengan pria hidung belang di luar sana.”
Mata Edward membola sempurna mendengar ucapan Laura.
“Tidak baby, aku bukan pria seperti itu.”
“Bohong. Kamu pembohong, tuan Hugo.” Laura memukul dada bidang pria itu. Ia meluapkan semua kekesalan yang ia rasakan beberapa hari ini.
“Tidak ada yang membohongimu, baby.” Edward menangkap tangan gadis itu.
Laura mencebikan bibirnya.
“Lalu siapa Devano? Siapa nyonya Felisha?”
Edward diam. Ia memandang lekat pada mata gadisnya yang mulai berair.
“Kenapa kamu hanya diam, tuan Hugo? Kamu tidak bisa menjawabnya?” Tanpa bisa di bendung lagi, setetes air mata pun menuruni pipi gadis manis itu.
Tangan Edward terulur menghapus air mata gadis itu.
“Kamu ingin tau siapa mereka?”
.
.
.
T. B. C
————
Sudah siap dengan penjelasan Edward tentang Felisha dan Devano?
Next bab ya, Genk 😅🤭
Jangan lupa
Like
Komen
Vote dan Gift
TerimaGaji 🤸♀️🤸♀️
I LOVE YOU TILL THE END
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️