TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 63. Tentang Mimpi Buruk.


__ADS_3

Isak tangis kepedihan dari Edward, terdengar begitu menyayat hati Laura. Pria yang ia lihat selalu tegas, percaya diri, berwibawa. Kini tengah menangis di dalam dekapannya.


Tidak ada yang bisa Laura lakukan selain berusaha menenangkan pria itu, dengan mengusap kepala dan punggungnya.


Ia pernah ada di dalam posisi Edward. Kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Tentu Laura tau apa yang pria dewasa itu rasakan.


“Baby, kamu pernah bertanyakan, apa aku mimpi buruk atau bukan?” Pria itu kembali berucap ketika suasana hatinya mulai tenang.


“Hmm.. tidak perlu di ceritakan, Ed. Itu—,”


“Aku akan menceritakan semuanya, baby. Aku tidak mau kehilangan mu lagi.” Edward menenggelamkan wajahnya pada bantal kenyal kesukaannya.


“Setelah peristiwa kecelakaan itu, aku sering mimpi buruk, baby. Selalu tentang kejadian itu. Kamu tau, David meregang nyawa dalam dekapanku. Dia hanya sempat berpesan untuk menjaga Felisha dan anaknya.”


Flashback On.


“Dav, bangun. Jangan begini aku mohon.” Edward menguncang tubuh yang penuh dengan darah itu. Ia memangku kepala sahabatnya.


Perlahan mata David kembali terbuka, dengan sekuat tenaga ia meraih wajah Edward.


“E-Ed, a-ku mo-hon, ja-ga Fel dan a-nak-ku.” Ucap David terbata.


“Tidak Dav, kamu yang akan menjaga mereka, bukan aku.”


Kepala David menggeleng lemah. Pria itu tersenyum samar.


“A-ku ti-tip me-re-ka. Ka-ta-kan pa-da a-nak-ku, a-ku menyayanginya.”


Tangan David terlepas dari wajah Edward. Mata pria itu kembali tertutup.


“Dav, tidak. Aku mohon bertahan lah Dav.”


Edward mengguncang tubuh sang sahabat sekaligus iparnya itu.


“Dav.. aku mohon.. jangan pergi.. jangan tinggalkan aku..” Edward menangis kencang mendekap tubuh kaku David. Ini untuk kedua kalinya ia kehilangan orang terdekatnya.


Flashback Off.


“Jangan pergi. Aku mohon.” Ucap Edward dalam dekapan Laura.


Gadis itu melihat, mata pria itu terpejam di atas dadanya. Buliran keringat mulai membasahi dahi pria itu.


‘Jadi kamu menahan kepedihan begitu dalam, Ed?’


Laura mengusap lembut kepala Edward. Gadis itu melabuhkan sebuah kecupan di atas rambut pria itu.


“Baby, jangan tinggalkan aku.” Pria itu mendongak dengan mata yang berair.


Laura menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia memprovokasi pria ini sekarang.


“Ed, boleh aku bertanya sesuatu?”


Edward menganggukkan kepalanya.


“Apa kamu minum obat tidur dosis tinggi?”

__ADS_1


Edward kembali mendongak, menatap mata gadisnya.


“Darimana kamu tau, baby?”


“Tanpa sengaja aku melihatnya di laci meja rias.” Ucap Laura jujur.


“I-ya, baby. A-aku minum obat itu supaya bisa tidur. Jika tidak, kejadian itu selalu menghantui tidurku, baby.”


“Aku mengerti, Ed.”


“Dulu sebelum aku minum obat itu. Aku selalu tidur dengan mama. Mama akan mendekapku, seperti yang kamu lakukan. Dan mimpi itu akan menghilang.” Jelas pria itu.


“Tetapi semenjak aku tinggal di penthouse, aku memutuskan minum obat itu. Supaya aku bisa merasakan tidur dengan nyenyak.”


Di balik kesempurnaan yang ia miliki, Edward tetaplah manusia biasa. Ia memiliki kekurangan. Meski ia memiliki banyak harta, namun semua itu tidak berguna, jika tidak bisa menghapus kehampaan dalam hatinya.


Setiap malam rasa ketakutan pada mimpi buruk yang akan datang dalam tidurnya, membuat pria itu menjadi lemah.


“Ed..?”


“Mmm?”


“Apa Devano tau tentang papanya?” Tanya Laura. Ia sebenarnya kasihan melihat Edward menangis mengingat masalalunya. Tetapi rasa penasaran juga begitu besar di hatinya.


Edward menggelengkan kepalanya.


“Devano belum tau. Yang ia tau, aku papanya.” Ucap Edward lirih.


“Baby, kamu tau. Devano lahir sebelum waktunya. Setelah kepergian David, Felisha menjadi seperti mayat hidup. Ia hanya melamun di atas tempat tidur. Tidak ada makanan dan minuman yang ia telan. Air matanya terus menurus menuruni pipinya.”


“Felisha yang dulunya bersemangat, sekita menjadi lemah. Bahkan ia sempat mencoba mengakhiri hidupnya untuk bertemu dengan David.”


“Ed..” Laura mengusap punggung Edward, berusaha untuk menenangkan pria itu.


“Ia bahkan lupa, jika di dalam perutnya ada bayi yang memerlukan asupan darinya. Karena kondisi mental Felisha yang memburuk, mama mengambil keputusan, meminta dokter untuk melakukan operasi, agar bayi malang itu bisa diselamatkan.”


Laura meluruh tubuhnya, ia tidur di atas ranjang dengan Edward yang memeluknya dari samping, tetapi kepala pria itu berada di dadanya.


Gadis berusia 21 tahun itu berusaha menyelami rasa yang Edward rasakan. Begitu perih, begitu pedih.


Pria itu tidak sempat menikmati masa remajanya. Dan ketika ia sudah mulai bisa berdiri sendiri, ia harus kembali di hadapkan dengan kehilangan orang terdekatnya.


Laura merasa nasib mereka berdua hampir sama. Mungkin Edward masih beruntung karena masih memiliki ibu kandung di hidupnya.


“Baby, aku belum sanggup mengatakan pada Devano tentang papanya. Aku belum sanggup jika dia tau, aku yang menyebabkan papanya meninggal.” Nada suara Edward kembali terdengar berat.


“Tidak Ed, ini bukan salahmu. Semuanya adalah kehendak Tuhan.” Laura berusaha menguatkan pria itu.


Pria itu menggeleng.


“Andai aku mendengarkan apa yang David katakan waktu itu. Mungkin sekarang Devano akan bahagia dengan mama dan papanya.”


Setiap ia melihat Devano, rasa bersalah akan selalu menghampirinya. Melihat senyum bocah itu, selalu mengingatkan ia kepada sang sahabat.


“Baby, dulu di makam papa, aku berjanji akan menjaga mama dan Felisha. Setelah itu, di makam David, aku berjanji akan menjaga Felisha dan Devano.”

__ADS_1


“Aku mengerti, Ed. Kamu anak, kakak dan papa yang baik.” Laura meraih kepala Edward, membuat pria itu mendongak, lalu ia melabuhkan sebuah kecupan di kening pria tampan itu.


“Jadi karena itu kamu tidak menikah hingga berusia 35 tahun?”


Edward menganggukkan kepalanya.


“Felisha sangat posesif kepada ku, setiap kali melihatku dengan seorang wanita, dia akan bertindak layaknya seorang kekasih.” Ucap Edward terkekeh.


Laura menganga mendengar ucapan Edward.


“Sejak kapan dia begitu?”


“Sejak kondisinya membaik, mungkin saat Devano berusia 3 tahun.” Edward sendiri tidak yakin.


“Kamu tau kenapa Devano memanggilku papa? Itu karena aku kasihan pada bocah itu. Ia sudah kehilangan papanya sejak masih di dalam kandungan. Setelah lahir, ia juga tidak mendapatkan kasih sayang mamanya karena kondisi mentalnya yang belum stabil.”


Edward menghela nafasnya.


“Jadi aku berinisiatif, menjadi seorang ayah untuknya. Memberikan kasih sayang seorang ayah, memanjakannya. Setidaknya ia masih merasakan itu dari sosok ku di hidupnya.” Jelas pria itu panjang lebar.


Laura kagum akan apa yang di ungkapkan oleh Edward. Ia mengambil tanggung jawab seorang ayah untuk keponakannya.


“Maafkan aku baby, dari awal tidak aku jujur padamu. Aku takut jika Felisha akan berbuat nekat padamu, jika dia tau kamu dekat denganku.”


Edward melabuhkan sebuah kecupan di rahang gadis itu.


“I love you, Laura.”


Gadis itu hanya tersenyum.


‘Semoga Tuhan selalu memberkatimu, Ed. Kamu pria yang baik. Semoga suatu hari nanti Tuhan memberikanmu pasangan yang baik juga’


.


.


.


T. B. C


Masih semangat, Genks?!


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Biar aku tambah semangat lagi ❤️


TerimaGaji 💃💃

__ADS_1


__ADS_2