
“Ada yang bisa saya bantu, tuan Hugo?” Suara Laura di buat semendayu mungkin. Ia kini berdiri di ambang pintu ruangan kerja sang suami, di rumah mewah mereka.
Sudah hampir seminggu, pria dewasa itu selalu sibuk di ruangan kerjanya. Meski ia pulang dari kantor tepat waktu, namun setelah makan malam bersama sang istri, Edward akan kembali bekerja di ruangan kerjanya, dan baru akan kembali ke kamar, saat waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Edward menganga, biji salak di tenggorokannya naik turun, kala melihat sang istri muda berdiri di ambang pintu dengan gaya dan pakaian yang menantang.
Wanita itu memakai kemeja kerja sang suami, yang sengaja ia kancing hanya di bagian bawahnya saja, dan membiarkan tiga kancing teratas terbuka. Serta Laura juga tidak menggunakan bawahan, sehingga paha mulusnya terpampang nyata.
Untung saja, di rumah itu hanya ada mereka berdua. Para asisten rumah sudah beristirahat di rumah belakang. Ada petugas keamanan, itu pun mereka berjaga di pos depan, dan sesekali berkeliling di areal luar rumah.
Dengan langkah yang di buat sesensu*al mungkin, Laura berjalan mendekat ke arah sang suami yang sedang menatapnya tak berkedip.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan Hugo?” Wanita itu sekali lagi mengulang pertanyaannya. Dengan lancang, ia duduk di atas pangkuan sang suami. Dan mengalungkan kedua tangan pada leher pria dewasa itu.
“Kenapa belum tidur?” Suara Edward terdengar berat. Ia memang mudah kehilangan akal, jika di goda oleh sang istri.
Laura menghela nafasnya pelan. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tanpa melepas tangannya dari leher sang suami.
“Aku tidak bisa tidur. Apa di tempat ini lebih menyenangkan daripada di dalam kamar bersamaku?” Laura melontarkan pertanyaan yang membuat Edward tercengang.
“Apa maksudmu, Ra?”
Laura kembali menghela nafasnya. Tangan wanita itu perlahan turun, namun Edward kembali menaikannya.
“Selama seminggu ini, papi selalu berada disini setelah makan malam. Kadang aku tidak tau, kapan papi kembali ke dalam kamar?”
Suara Laura terdengar serak, ia sekuat tenaga menahan air mata yang ingin keluar, dengan menengadah ke atas.
“Sayang, hei?” Edward menangkup kedua pipi sang istri. Yang otomatis membuat rangkulan Laura terlepas dari leher suaminya.
“Maafkan aku, sayang.”
Kepala Laura menggeleng. Ia lepaskan tangan sang suami dari pipinya.
“Apa aku sudah tidak menarik lagi karena tubuhku mulai membulat? Apa papi menemukan teman tidur yang lain? Katakan saja. Biar aku—
“Sudah! Cukup!”
Kini giliran Edward yang menghela nafasnya. Ia lupa, jika istrinya saat ini sedang hamil dan suasana hatinya mudah sekali berubah.
__ADS_1
“Maafkan aku. Kantor sedang mendapat proyek besar. Pembangunan gedung apartemen di pinggiran kota. Maaf, aku tidak sempat mengatakan padamu. Aku sudah memikirkan dengan matang menerima proyek ini. Karena aku ingin, nanti setelah kehamilan mu memasuki bulan ke delapan, aku sudah tidak terlalu sibuk. Aku ingin punya banyak waktu untukmu. Menemani mu. Menunggu kelahiran anak kita.”
Laura merasa terharu mendengar penjelasan panjang lebar sang suami. Tangisnya pun tak dapat di bendung lagi. Wanita itu kemudian terisak.
“Hei, mami, baby. Kenapa kamu menangis?”
Kepala Laura menggeleng. Ia kemudian memeluk tubuh sang suami. Menyerukan wajahnya pada lekukan leher sang suami.
“Maafkan aku. Aku kira papi sudah tidak tertarik lagi dengan ku, karena tubuhku sudah semakin gendut.”
Edward mencebik. Dengan lembut, ia mengusap punggung wanita pujaan hatinya itu.
“Aku yang minta maaf. Selama seminggu ini mengabaikan mu. Tetapi percayalah. Tidak pernah ada yang lain, selain kamu. Kamu satu-satunya.”
Laura kembali menatap wajah sang suami. Pria itu tersenyum kepadanya.
“Maafkan aku, pi.”
Edward pun mengusap pipi bulat sang istri yang telah basah.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku pikir, ini tidak akan menganggu mu. Karena itu, aku mengerjakannya dirumah. Justru, aku berpikir sebaliknya. Jika aku lembur di kantor, kamu akan berpikir yang tidak-tidak.” Pria itu kemudian mengecup kening sang istri.
“Maksud papi?”
“Ini.” Edward menarik sedikit kemeja yang sang istri gunakan.
Laura menghela nafasnya pelan. “Aku mencari di internet, cara merayu suami. Dan aku disarankan menggunakan pakaian tidur transparan. Karena aku tidak punya, tidak cukup waktu juga untuk membelinya, jadi aku gunakan saja kemeja papi.”
“Dasar gadis nakal.”
Laura mencebik. “Aku bukan gadis lagi.”
“Tetapi menurutku, kamu tetaplah seorang gadis.” Jawab sang suami. Tangan pria itu mulai nakal. Membaut Laura menggigit bibir bawahnya.
“Untung saja dirumah ini hanya ada kita berdua. Bagaimana jika ada orang lain. Aku sungguh tidak ikhlas jika orang lain melihat penampilan mu begini.”
Laura memejamkan matanya, ketika tangan sang suami dengan lancang berada di punggungnya.
“Benar-benar gadis nakal. Berani kamu hanya menggunakan kemeja, tanpa dalaman yang lain? Hmm?”
__ADS_1
“Sstt.. pi…”
“Apa?”
“Aku—.”
Edward memutar tubuh sang istri. Membuat wanita itu duduk menghadapnya. Kemudian ia bangkit dari atas kursi kerjanya. Membawa tubuh sang istri kedalam kamar mereka.
“Kenapa tidak di sini saja?” Tanya Laura saat mereka sudah berada di ambang pintu.
“Kamu sedang hamil, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian. Ranjang adalah tempat ternyaman saat ini.”
“Apa papi tidak ingin mewujudkan fantasi papi yang lain? Bercin*ta di ruangan kerja. Akan menyenangakan bukan. Papi atasannya, dan aku sekretarisnya.” Laura masih mencoba merayu sang suami.
Pria itu mencebik. Melanjutkan langkah menuju kamar mereka. Andai Laura tidak sedang hamil, mungkin ia sudah melakukan apa yang sang istri ucapkan, sebelum wanita itu memintanya.
“Kita lakukan nanti saat bayi dalam perutmu sudah di luar. Untuk saat ini, hanya di ranjang tempat teraman untuk kita bergulat. Buka pintunya.”
Laura mebuka pintu, setelah mereka di dalam, ia kembali menutupnya. Edward pun membawa tubuh sang istri ke atas peraduan.
Dengan hati-hati pria dewasa itu meletakan tubuh sang istri. Seolah tubuh Laura, adalah barang yang mudah pecah, jika di letakan dengan sembarangan.
Setelah tubuh sang istri terbaring di atas ranjang, Edward mulai melepaskan segala kain yang menutupi tubuh kekarnya.
Ia berdiri di ujung tempat tidur dengan bertolak pinggang. Membuat Laura menggeliat kepanasan.
“Apa yang kamu inginkan dariku, nyonya?”
“Habisi aku, Tuan.”
Edward mencebik. Ia kemudian merangkak di atas tubuh sang istri.
“Seperti yang anda inginkan, nyonya.”
.
.
.
__ADS_1