TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 112. Aku Lelah, Papi.


__ADS_3

“Sayang, bangun.. ini sudah sore.” Edward mengusap lembut kepala sang istri. Pria itu kini tengah menatap wajah lelah sang istri yang sedang berkelana di alam mimpi. Sesekali melabuhkan sebuah kecupan hangat pada kening istrinya.


Edward benar-benar mewujudkan fantasinya hari ini. Setelah satu putaran berakhir di ruang tamu, pria itu membiarkan dirinya dan Laura beristirahat.


Setelah ia merasa tenaganya kembali, Edward melanjutkan di tempat lain yang ia inginkan. Sementara, Laura hanya pasrah. Tubuhnya di bawa kesana kemari oleh sang suami. Ia membiarkan pria itu bekerja keras, meski sesekali wanita itu ikut mengimbangi.


Tak ingin membantah atau menolak, selain karena ia mencintai pria itu, Laura juga menganggap pelayanan yang ia berikan kepada Edward adalah bentuk dari rasa terima kasihnya kepada pria itu.


Laura tidak bisa membalas kebaikan Edward dengan materi, maka ia memberikan jiwa raganya untuk sang suami. Lagipula, melayani suami adalah tugas seorang istri, supaya suami tidak mencari pelayanan di luar rumah.


“Sayang.” Edward mencium bertubi-tubi pipi tembem istrinya. Bukannya pria itu tidak kasihan pada Laura dengan tak memberinya istirahat, tetapi Edward ingat jika mereka belum makan siang. Sementara kini waktu sudah menujukkan pukul 5 sore.


6 jam merasai sang istri, tak pula membuat pria dewasa itu merasa pu*as. Justru ia ingin mengulang lagi dan lagi. Namun hal itu Edward urungkan, mengingat istrinya masih muda. Ia juga tidak mau jika Laura menganggapnya pria yang hanya menginginkan tubuh wanita muda itu.


Laura terusik, tubuh polosnya menggeliat seperti ulat. Namun matanya enggan terbuka.


“Aku lelah, papi. Kita menginap disini saja.” Wanita muda itu merubah posisi tidurnya menjadi menyamping ke kanan, membelakangi sang suami.


“Iya, kita menginap. Tetapi kita makan dulu. Kamu belum makan siang, sayang.” Sebuah kecupan Edward labuhkan pada pundak yang terpampang indah di depan mata.


“Makan apa? Aku malas turun, papi.” Tenaga Laura benar-benar terkuras. Kakinya masih terasa bergetar. Suaminya memang sudah tidak waras.


“Baiklah. Aku akan ke bawah membeli makanan. Kamu tidur saja lagi.”


Edward beranjak, keluar dari dalam selimut dengan tubuh polosnya. Pria itu berjalan santai menuju kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa pertempurannya dengan sang istri.


Setelah satu jam, pria itu telah kembali dengan membawa makanan kesukaan sang istri di tangannya.


“Baby, sayang. Bangun. Aku membeli makanan kesukaan mu.”


Tubuh semampai itu masih tergolek lemah tak berdaya. Melihat itu, rasa bersalah menyelimuti hati Edward. Rasa cinta yang begitu menggebu kepada wanita itu, membuat dirinya gelap mata. Mengikuti keinginan na*su yang tiada habisnya.


“Baby, maafkan aku. Aku telah menyakitimu.” Lirih pria itu.


Untaian kata yang terucap, memaksa Laura untuk bangkit. Ia tidak mau sang suami merasa bersalah hanya karena hal menyenangkan seperti ini.


Dengan sisa tenaganya, wanita muda itu membuka mata, menatap sayu sang pria pujaan hati yang kini tertunduk lesu. Ia pun menyadarkan punggungnya pada kepala ranjang. Dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


“Papi, aku mau di suapi.”


Edward mendongak. Senyum manis terkembang pada wajah tampannya.


“Seperti keinginan mu, baby.”

__ADS_1


Dengan telaten, Edward menyuapi sang istri. Sesekali ia menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Edward juga perlu mengisi tenaganya. Bersama Laura, ternyata lebih melelahkan daripada bekerja seharian di kantor.


“Aku mau timunnya, pi.”


Edward menurut, ia mengambil irisan timun yang tersedia dan memasukkan kedalam mulut sang istri.


“Pi?”


“Hmm?”


Laura meraih gelas air putih yang ada di atas nakas, kemudian meneguk isinya.


“Aku mau besok kita bicara dengan Leo. Aku tidak mau, Teresha lebih dulu menemui Leo.”


Edward menatap Laura penuh tanya.


“Aku tau, Teresha punya hak lebih besar terhadap Leo. Tetapi, aku ingin Leo tau dari aku. Bukan orang lain. Papi boleh menganggap ku egois, aku hanya ingin adikku tidak membenciku, walau mungkin dia akan marah padaku.”


Edward meletakan piring yang masih berisi seperempatnya di atas nakas.


“Apa terjadi sesuatu di toilet kafe tadi pagi?” Pria itu menatap lekat mata sayu sang istri.


Laura mengangguk.


Pria itu membuang nafasnya pelan.


“Baiklah. Besok pulang kuliah kamu ke kantor. Setelah itu kita pulang ke panti. Aku mengerti sayang, kamu sangat menyayangi adikmu. Tetapi kamu harus ingat jangan bicara hal buruk tentang orang tuanya kepada leo.”


Laura kembali mengangguk. Ia memang hanya akan mengatakan kebenaran tentang adiknya saja. Biarlah nanti Leo tau dengan sendirinya, bagaimana perangai sang ibu.


“Mau makan lagi, pi. Aku masih lapar.” Ucap Laura dengan manja.


Edward menurut, ia mengambil lagi piring yang tadi ia letakkan, dan kembali menyuapi sang istri.


“Apa di dapur masih ada bahan makanan?”


“Kenapa?”


“Itu sudah mau habis, pi. Aku masih lapar.” Ucap Laura menunjuk piring di pangkuan Edward.


“Apa kamu hamil, baby?”


“Ih papi. Aku serius, aku lapar.” Rengek Laura.

__ADS_1


“Tetapi, bisa saja kan, Hugo junior sudah tumbuh di rahim mu?” Edward menatap penuh harap pada perut yang terbungkus selimut.


Laura berpikir sejenak. Bukannya dia datang bulan sehari setelah menikah? Dan itu baru 2 minggu. Yang artinya, masa suburnya pun telah berlalu.


“Masa subur ku baru saja lewat, pi. Kita tunggu periode ku bulang depan ya. Jika aku tidak dapat, ya kemungkinan Hugo junior sudah ada.”


Wanita muda itu berucap sembari mengusap perutnya sendiri. Ia juga mengharapkan hal yang sama dengan suaminya. Laura menyadari, jika sang suami sudah tidak muda lagi, sebelum pria itu berumur setengah abad, Laura ingin memiliki setidaknya satu anak yang sudah beranjak remaja.


Edward mengangguk patuh. Meski belum pernah menikah, namun pria itu sudah berpengalaman dengan wanita hamil, bahkan ia ada di ruangan operasi menemani Felisha waktu itu.


“Jadi kamu mau makan lagi?”


Dan Laura pun mengangguk sambil tersenyum.


“Bagaimana jika kita mandi dulu? Setelah itu, kita keluar untuk makan malam?” Edward memberi penawaran.


Laura nampak berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk.


Dengan sigap Edward menyibak selimut, meraup tubuh sang istri, dan menggendongnya menuju kamar mandi.


“Tunggu!” Laura berseru.


Membuat Edward berhenti di ambang pintu ruang ganti.


“Di kamar mandi, hanya mandi. Tidak ada ke puncak-puncak. Kakiku masih tremor.”


Wanita itu memberi peringatan siaga satu kepada sang suami.


Edward tersenyum, kemudian melabuhkan kecupan di pipi Laura yang kian membulat.


“Baiklah, mami. Aku juga bukan pria ma*niak.”


Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi yang berada di dalam ruang ganti.


‘Apanya yang bukan pria ma*niak? Lalu 6 jam menguasai tubuhku itu apa namanya? Psikopat? Dasar pria tua me*sum.’


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


Selamat menunaikan Ibadah Puasa untuk teman Readers yang merayakan. 🙏🙏


__ADS_2