
Hari menjelang siang, Laura memutuskan menginap di salah satu hotel melati di kota itu. Mungkin untuk satu malam, karena sekarang ponselnya telah aktif kembali.
Kemungkin ia akan ditemukan oleh Edward sangat besar. Bisa saja kan pria itu melacak keberadaannya melalui nomer ponselnya.
Gadis itu sudah memutuskan, jika dalam waktu dekat ia ditemukan oleh Edward, ia akan menyelesaikan urusan mereka secara baik-baik.
Bagaimana pun juga, pria itu sudah baik padanya. Memberi ia uang untuk menebus panti. Walaupun harus menukar dengan tubuhnya, tetapi Edward tidak langsung mengambilnya.
Ia akan bicara, dan mengakhiri hubungan mereka. Hubungan yang entah apa namanya.
Tidak pernah ada kata jadian, tidak pernah ada kata cinta, tetapi hubungan mereka telah melewati batas.
“Mari kita bicara baik-baik, tuan Hugo. Kita akhiri hubungan yang tidak jelas ini. Lagipula kamu sudah mempunyai nyonya Felisha.”
Deg..
Tiba-tiba ponsel Laura yang berada di dalam ranselnya berdering. Dengan perasaan yang campur aduk, gadis itu merogoh ponselnya.
Ia memejamkan matanya. Takut melihat nama siapa yang tertera di layar benda pintar itu.
Perlahan, ia membuka satu matanya untuk melihat.
“Hah.” Gadis itu membuang nafasnya kasar. Ternyata Melani yang menghubunginya.
“Apa yang kamu harapkan, La. Mana mungkin pria tua me*sum itu yang menghubungimu.”
Gadis itu mengusap layar ponselnya untuk menjawab panggilan dari sang sahabat.
“Hallo, La? Kamu dimana?” Tanya Melani tanpa basa-basi.
“Hallo, Mel. Memangnya kenapa?”
“Kamu tau, kemarin ada seorang pria tampan yang datang menemui aku, dia mengaku bernama Johan. Dia mencarimu.”
Laura memukul keningnya. Dia lupa, ada Johan yang siap mencarinya kemana saja.
“Lalu kamu bilang apa, Mel? Apa dia mengancammu?”
“Aku bilang tidak tau. Yang aku tau, kamu lagi cuti kuliah beberapa hari kedepan. Dia tidak mengancam. Bahkan dia memberikan aku nomer ponselnya. Kalau ketemu kamu, di suruh melapor padanya.” Ucap Melani panjang lebar. Suara gadis itu terdengar girang.
“Dia sudah mempunyai calon istri, Mel.” Ucap Laura yang tau isi pikiran sahabatnya.
“Baru calon kan, La. Bukan istri” sahut Melani terkekeh.
Deg..
Entah kenapa Laura merasa tersindir dengan ucapan Melani.
“La.. kamu ada dimana?” Tanya gadis itu lagi.
“Aku ada di luar kota, Mel. Dimananya, aku tidak mau memberitahu mu. Yang jelas aku perlu sendiri untuk saat ini.” Ucap Laura sendu.
“La, kamu baik-baik saja, kan?” Ada nada kekhawatiran terdengar dari ucapan Melani.
“Aku baik-baik saja, Mel. Hanya perlu waktu untuk menenangkan diri.”
“Baiklah, jika terjadi sesuatu. Hubungi aku ya, La.”
__ADS_1
“Iya, Mel. Terimakasih.”
Panggilan itu pun berakhir. Laura sempat membuka aplikasi WhatsApp nya. Ia juga melihat panel percakapannya dengan Edward.
Terlihat pria itu terakhir online sekitar 2 jam yang lalu.
Dan itu saat ponsel gadis itu masih belum terisi daya penuh.
“Apa yang aku harapkan? Dia pasti sedang sibuk di kantornya sekarang.”
*******
Tubuh kekar yang sedang tidur telungkup di atas tempat tidur berukuran sedang itu menggeliat. Entah berapa lama ia tertidur. Ia merasakan tenaganya telah kembali pulih.
Mungkin ini untuk pertama kalinya, ia bisa tidur sendiri tanpa bantuan obat maupun sebuah pelukan.
Hanya karena guling yang memiliki aroma seperti aroma tubuh Laura. Membuat pria itu merasa nyaman dalam tidurnya.
“Aku benar-benar sudah tidak waras. Haruskah aku membawa guling ini ke penthouse?” Pria itu tergelak. Jika tau begini, harusnya ia juga menempatkan bantal panjang itu di ranjang penthousenya.
Edward meraih ponsel yang ada di saku jaket kulitnya. Ia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari sang asisten.
Dengan cepat, pria itu menghubungi kembali nomer kontak Johan.
“Ada kabar apa, Jo?” Tanya Edward setelah panggilannya di jawab Johan.
“Iya, bos.. aku menyewa seorang detektif swasta untuk melacak nomor ponsel nona.” Jawab Johan.
“Lalu, apa hasilnya?” Edward perlahan bangkit dari tempat tidur. Ia melihat sebuah bingkai foto kecil di atas meja belajar milik Laura.
Edward menyunggingkan bibirnya. Ia mengusap bingkai foto Laura yang sedang menggunakan seragam sekolah menengah atas.
“Bos, sekarang ada dimana?” Kini Johan yang bertanya.
“Aku berada di panti asuhannya. Oh ya, Jo. Kirim beberapa tukang bangunan kemari. Aku akan merenovasi panti ini.”
“Lalu, bagaimana dengan nona, bos? Bos tidak menjemputnya?”
“Nanti saja. Biarkan dulu dia bersenang-senang diluar sana. Aku akan menjemputnya setelah dia puas bersantai.” Ucap Edward terkekeh.
“Kapan aku mengirim tukangnya, bos?”
“Besok. Aku akan berada disini sampai besok. Aku ingin memberi hadiah kecil untuk para penghuni disini. Oh ya, nanti tolong kamu belikan pakaian, makanan dan alat tulis. Kalau bisa kamu kirim malam ini.”
Selain ingin merenovasi panti asuhan ini. Edward juga ingin memberikan kebutuhan sehari-hari untuk anak-anak panti.
“Untuk berapa orang, bos?”
“Anak-anak panti 30 orang, nanti aku kirim detail usia mereka.”
“Baik, bos.”
“Jangan lupa kirimkan juga pakaian ganti untukku, Jo.”
“Iya, bos. Ada lagi?”
“Tidak ada, Jo.” Panggilan pun di akhiri oleh Edward.
__ADS_1
Menyimpan kembali ponselnya kedalam saku jaketnya, Edward juga ikut memasukkan bingkai foto itu.
Biarlah dia disebut pencuri, ia hanya ingin menyimpan foto di dekat tempat tidurnya.
Pria itu keluar dari kamar milik Laura, ia menuju ruangan dimana ia bertemu ibu Maria.
“Permisi, Bu.” Ucapnya memasuki ruangan yang pintunya masih terbuka itu.
“Kamu sudah bangun rupanya. Pasti sudah lapar, ayo kita makan siang dulu.” Ucap ibu Maria.
Terlihat di atas meja di depan sofa telah tersaji beberapa piring, ada juga nasi dan lauk pauk yang terpisah.
“Terimakasih, Bu.”
Mereka pun makan dengan tenang. Edward lagi-lagi merasakan kehadiran Laura disana dari rasa makanan yang ia nikmati.
“Ada apa, nak?” Tanya ibu Maria yang melihat Edward melamun.
“Ah, tidak Bu. Rasa makanan ini mengingatkan aku pada Ara, Bu.”
“Ara?” Tanya ibu Maria bingung.
“Aku memanggil Lalamu, dengan nama Ara. Karena aku ingin, hanya aku yang memanggilnya begitu.” Pria itu tersenyum di akhir ucapannya.
Ibu Maria menganggukkan kepalanya. Ia melanjutkan kembali acara makannya.
Setelah selesai bersantap siang, Edward meminta data usia para anak-anak panti. Ibu Maria memberi apa yang pria itu minta.
Edward pun mengirim data itu kepada Johan, agar sang asisten bisa segera membeli segala sesuatu yang ia perintahkan.
“Oh ya, Bu. Apa aku boleh membawa bingkai foto itu?” Edward menunjuk sebuah bingkai foto berukuran sedang, dimana disana Laura terlihat menggunakan toga, mungkin saat kelulusan sekolah menengah atasnya.
“Kamu ingin membawanya?”
“Iya, Bu.” Pria itu menganggukkan kepalanya. “Aku akan meletakkannya di samping tempat tidurku.”
Ibu Maria menganga mendengar ucapan pria dewasa itu. Ia merasa tingkah Edward seperti remaja belasan tahun yang baru pertama kali jatuh cinta.
“Ibu boleh saja menganggap ku tidak waras. Karena aku juga merasa diriku sudah tidak waras semenjak bertemu dengan putrimu itu.” Pria itu tergelak. Ia tau apa yang di pikirkan ibu Maria terhadap dirinya, tetapi ia tidak perduli.
.
.
.
T. B. C
————
Terimakasih untuk semua dukungannya.. ❤️❤️
Aku sayang kalian semua 🤗🤗
I LOVE YOU TILL THE END
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1