TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 42. Kamu Pelakor, Laura!


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, kini pagi pun telah menyapa. Laura terbangun dari tidurnya dan mendapati sisi ranjang disampingnya kosong. Ia melihat jam besar yang menempel di atas televisi sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Dengan malas gadis itu membangunkan tubuh lelahnya. Kemarin, pria dewasa itu mengatakan sudah cukup mengempurnya dua kali.


Tetapi itu hanya ucapan semata. Pulang dari makan malam, Edward seperti kemasukan roh tak kasat mata. Ia begitu bersemangat mengajak Laura ke puncak kejayaan, bahkan hingga tiga kali benda keras tak bertulang itu memuntahkan laharnya.


“Dasar pria tua me*sum.” Gerutu gadis itu. Tangannya terulur meraih ponsel yang ada di atas nakas sebelah kanannya.


Deg…


Jantung Laura tiba-tiba berdetak lebih kencang, tangannya gemetar dan mulutnya menganga sempurna.


“Siapa wanita dan anak ini?” Gumamnya setelah melihat lock screen dari ponsel itu.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia mencoba membuka ponsel itu.


“Ini bukan ponselku.” Ucapnya lagi. Setelah sandi yang ia masukan salah.


Gadis itu melihat ke arah nakas yang berada di sebelah kiri ranjang. Disana terlihat sebuah ponsel yang sama, dengan ponsel yang ia pegang sekarang.


Seketika Laura menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan tangan yang lain masih menggenggam ponsel itu.


“Ini ponsel milik Ed.” Ucapnya lirih.


Ia teringat saat ia dan Melani membeli ponsel baru, gadis itu membeli ponsel yang sama dengan milik Edward agar pria itu tidak sakit mata melihat ponsel lamanya.


Seketika tubuh gadis itu terhempas ke sandaran ranjang. Bagaikan di hantam batu besar. Dunianya seakan runtuh.


‘Aku akan menikahimu, setelah kamu lulus’


Ucapan pria dewasa itu kembali terngiang di benak gadis itu. Seketika kepalanya menggeleng.


“Tidak-tidak. Dia sudah punya keluarga.”


Gadis itu memberanikan diri, menekan lagi tombol Power ponsel itu. Dan wajah seorang wanita dewasa yang tersenyum bersama seorang anak laki-laki pun kembali terlihat.


“Apa mereka anak dan istrinya?”


Laura pun meletakan ponsel itu kembali pada tempatnya.


Ia menekuk lutut lalu menumpangkan kepalanya di atasnya. Gadis itu menjambak rambutnya sendiri.


Ia sekarang merasa sangat bersalah. Begitu banyak dosa yang telah ia lakukan. Tinggal dengan seorang pria asing, melakukan hubungan di luar nikah dan sekarang sebuah kenyataan baru dia dapatkan. Pria yang selalu mengucapkan kata rindu, selalu memperlakukannya dengan kasih sayang, ternyata suami orang.


“Ayah, Ibu. Maafkan aku.” Gadis itu pun terisak. Ia hanya ingat kedua orang tuanya sekarang.


“Tuhan, tolong jangan hukum kedua orang tuaku atas apa yang aku lakukan. Aku mohon. Hukum saja aku, Tuhan.” Air matanya keluar semakin derasnya.


“Baby, hei.. ada apa?” Pria dewasa itu datang menghampiri Laura, lalu mengangkat bahu gadis itu.


“Baby, kenapa menangis, hmm?” Tanya pria yang masih mengenakan bathrobe nya.


Laura menggeleng, ia lalu menyeka air matanya.


“Katakan padaku ada apa, Ara?” Edward membawa tubuh polos yang hanya berbalut selimut itu kedalam dekapannya.

__ADS_1


“A-aku, hiks..hiks.. aku merindukan kedua orang tuaku.” Dusta gadis itu. “Tadi aku bermimpi bertemu mereka.” Ucapnya lagi.


“Sudah, jangan menangis lagi, baby. Maaf tadi aku meninggalkan mu lebih dulu. Perutku tidak bisa di ajak kompromi.” Jelas pria itu. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Laura yang masih tertidur.


Gadis itu menggeleng dalam dekapan Edward.


‘Dimana pun kalian, aku mohon maaf. Aku tidak tau jika dia pria beristri dan memiliki anak.’


*****


Rasa malas menghinggapi diri Laura. Setelah membersihkan dirinya, ia belum beranjak dari ruang ganti milik Edward itu.


Gadis itu meraih botol obat yang ia letakan di atas meja rias.


“Pantas saja kamu mengatakan tidak akan menghamili ku sekarang. Ternyata kamu sudah memiliki anak.”


Laura mengambil satu butir obat itu, lalu menenggaknya.


“Kamu tenang saja, tuan Hugo. Aku tidak akan pernah melahirkan anakmu.” Gadis itu menutup kembali botol obatnya.


“Menikahiku setelah lulus? Heh. Tidak perlu. Kamu tidak perlu mengambil keputusan itu, hanya karena merasa bertanggung jawab telah mengambil sesuatu yang penting dalam diriku.” Laura tersenyum getir, ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


“Kenapa nasibmu begitu buruk, Laura?”


Mungkin sebelumnya ia tidak menyesal telah menyerahkan sesuatu yang berharga dalam dirinya kepada Edward.


Tetapi setelah ia mendapati kenyataan ini, gadis itu merasa sangat-sangat menyesal. Dia telah menyakiti seorang istri dan juga seorang anak.


Bagaimana bisa, setiap malam ia berbagi peluh dengan Edward, sementara di luar sana yang entah dimana. Sepasang ibu dan anak menanti kedatangan Edward.


“Tetapi, jika mereka anak dan istrimu, kenapa kalian tinggal terpisah? Apa mereka yang kamu kunjungi setiap akhir pekan?” Gadis itu seolah bertanya pada Edward.


“Baby, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah menyiapkan sarapan.” Pria itu mendekap pinggang Laura dari belakang.


‘Baby? Lalu kamu memanggil dia apa, Ed?’


“Kamu sarapan saja dulu. Aku sedang malas. Hari ini aku tidak ingin kuliah.” Sahut gadis itu.


Edward membalik tubuh gadis itu. Ia meraba wajah dan leher gadis itu.


“Apa kamu sakit?” Tanyanya khawatir.


Laura menggeleng. “Tidak, Ed. Aku hanya malas saja. Lagipula hari ini kelas ku juga mendapat dosen yang menyebalkan.” Jawab gadis itu, ia memegang kedua tangan Edward yang sedang menangkup pipinya.


“Benarkah? Apa perlu aku mengganti dengan dosen yang baru?” Tanya pria itu serius.


Laura mencebikan bibirnya. Pria ini selalu saja begitu. Apapun yang tidak ia sukai akan langsung di ganti. Dan apa yang ia sukai akan langsung di miliki.


‘Tolong jangan terlalu memanjakan aku, Ed. Aku tak sanggup jika suatu saat harus jatuh cinta padamu’


“Tidak perlu. Jangan berlebihan. Mereka butuh pekerjaan. Aku hanya malas saja.”


Pria dewasa itu menganggukkan kepalanya. Ia mendekap sejenak gadisnya.


“Ayo kita sarapan dulu. Nanti kamu lanjutkan lagi istirahatnya.”

__ADS_1


“Hmm”


*****


Setelah kepergian Edward, kini tinggallah Laura sedirian di penthouse mewah itu.


Ia berdiri mematung di balkon kamar Edward. Pandangannya menerawang. Andai ia tidak mau menerima tawaran pria dewasa itu. Andai ia menerima tawaran Yulia. Mungkin nasibnya tidak akan menjadi orang ketiga seperti ini.


“Pelakor.”


Sebuah kata itu tiba-tiba keluar dari bibirnya.


“Sekarang lagi musimnya pelakor, dan tanpa sengaja aku bergabung menjadi salah satu anggotanya.” Gadis itu bermonolog.


“Ya.. kamu seorang pelakor, Laura. Belum juga lulus sarjana. Kamu sudah mempunyai sebuah gelar.”


Ia bergidik ngeri ketika bayangan wanita dewasa yang ia lihat di ponsel Edward, tiba-tiba datang melabraknya, lalu menjambak dan menelan*janginya.


“Astaga. Aku belum siap. Jika wanita itu memang benar istrinya, semoga kami tidak pernah bertemu.”


Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. “Tetapi kalau wanita itu bukan istrinya, kenapa dia memasang fotonya?”


Laura seperti orang yang tidak waras, ia berbicara sendiri. Dan menjawab pun sendiri.


“Pantas saja di internet tidak ada pembahasan tentang hubungan asmaranya.”


Laura benar-benar di ambang kebingungan. Ia sudah mencari tau tentang pria itu sebelumnya. Tetapi tidak banyak informasi yang ia dapatkan. Lalu pagi ini, sebuah kenyataan bagaikan menghantamnya dengan keras.


“Apa aku melompat saja dari sini?” Gadis itu melihat ke bawah. “Dengan begitu aku bisa bertemu dengan orang tua ku, kan?”


.


.


.


T. B. C


Nah lho.. Laura lebih dulu tau… 🤔🤔


—————


Terimakasih untuk semua dukungannya teman Readers. 🤗🤗


*I love you sampai puncak pokoknya **❤️❤️*


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.


Like


Komen


Vote atau Gift


Yang punya IG, boleh follow akun aku

__ADS_1


@fivenovember_


Pay-pay 🤸‍♀️🤸‍♀️


__ADS_2