TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 61. Tentang Felisha.


__ADS_3

“Kamu ingin tau siapa mereka?”


Laura menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah tau siapa mereka?” Ucap gadis itu.


“Memangnya siapa mereka?” Tanya Edward kembali.


“Jangan pura-pura kamu, tuan Hugo. Aku sudah tau semuanya.” Suara gadis itu terdengar meninggi.


“Baby, bukankah waktu itu aku sudah mengatakan jika aku ada janji dengan keponakanku?” Edward berusaha berbicara selembut mungkin.


“Bohong.” Teriak gadis itu. “Kamu pembohong, tuan Hugo.” Suara Laura melemah. Ia mengusap air mata yang terus saja menganak sungai.


Edward meraih tubuh gadis itu. Membuatnya duduk di atas pangkuan pria itu.


“Ssttt..” Tangan Edward dengan lembut mengusap pipi basah gadisnya.


“Darimana kamu mengambil kesimpulan jika aku berbohong, baby?”


“A-aku. Aku melihatmu di pusat perbelanjaan. Dan aku mendengar dengan telingaku sendiri. Anak kecil itu memanggilmu papa.” Laura memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Bukannya waktu itu, kamu mengatakan tidak keluar panti? Kenapa sekarang kamu mengatakan jika kamu melihat ku di pusat perbelanjaan?” Pertanyaan Edward membuat Laura kehabisan kata-katanya.


“A-aku—,”


“Sstt..” Edward mendekap erat tubuh Laura. Agar gadis itu tidak lagi memberontak.


“Sekarang aku bertanya padamu.” Pria itu memutar tubuh Laura, membuat gadis itu duduk menghadap kepadanya.


“Kamu juga memanggil ibu Maria dengan sebutan ibu. Apa itu artinya dia adalah ibu kandungmu?”


Laura menggelengkan kepalanya.


“Begitu juga aku, baby. Meski Devano memanggilku papa. Bukan berarti dia adalah putra kandungku.” Edward mengecup singkat pipi gadis itu.


“Apa dia anak tirimu?” Tanya gadis itu.


Edward terkekeh mendengar pertanyaan yang Laura ucapkan.


“Baby, sudah aku katakan. Dia keponakanku.”


“Keponakan darimana? Tega sekali seorang ayah mengakui anaknya sebagai keponakan.” Gadis itu mencebikan bibirnya.


“Dia keponakanku, baby. Dia anak dari Felisha.”


“Dan nyonya Felisha adalah istrimu.” Tebak Laura.


“Baby, mana ada seorang kakak yang menikahi adik kandungnya?” Tanya Edward.


“A-apa maksudmu?”


“Apa yang kamu dengar?” Edward membenturkan dahi mereka berdua.


“Te-tapi, nyonya Felisha mengatakan jika dia bernama Felisha Darmawan, bukan Felisha Hugo.” Laura mengingat saat wanita dewasa itu memperkenalkan dirinya.


“Dia menggunakan nama suaminya.”


Laura menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti apa yang Edward katakan.


“Kemarilah, baby. Dengarkan aku.” Pria dewasa itu membawa tubuh Laura ke tengah ranjang. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur, dengan tubuh Laura di atasnya.


“Felisha adalah adikku. Lebih tepatnya, dia adalah saudari kembarku. Kata mama, aku keluar dari dalam perut mama terlebih dulu, beberapa menit kemudian baru Felisha.” Edward menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Laura hanya diam mendengarkan apa yang akan di katakan oleh pria dewasa ini.


“Aku dan Felisha di besarkan di Inggris oleh kakek dan nenekku, sampai kami berusia 10 tahun.”


Laura memandang wajah tampan itu. Tangannya pun terulur mengusap butiran keringat yang mulai membasahi dahi pria itu.


“Saat kami berusia 10 tahun, kakek dan nenekku kembali ke negara ini. Saat itu, bisnis yang di bangun papaku berkembang sangat pesat.”


‘Kamu sangat tampan’


“Dari kecil, aku terbiasa melakukan apapun berdua dengan Felisha. Hingga, saat kami pindah ke negara ini, hubungan kami merenggang karena kehadiran orang ketiga.” Edward terkekeh di akhir ceritanya.


“Orang ketiga?” Tanya gadis itu dengan mengerutkan alisnya.


Edward menganggukkan kepalanya. Ia menghujani ciuman di pucuk kepala gadis itu.


“Papa kandungnya Devano.”


“Saat belajar beradaptasi dengan kehidupan di negara ini, kami di pertemukan dengan seorang anak laki-laki yang seusia kami waktu itu. Dia adalah David Darmawan. Anak dari asisten papaku.”


Laura hanya menganggukkan kepalanya. Ia berusaha mencerna setiap kalimat yang Edward ucapkan.


“Kami disekolahkan di sekolah yang sama dengan anak itu, tujuannya agar kami memiliki teman. Lama kelamaan, aku mulai bisa menerima kehadiran David. Tetapi—,” Edward menjeda kalimatnya. Ia menarik nafasnya dalam lalu membuangnya.


“Baby, aku lapar.” Ucapnya dengan mata memelas.


“Astaga, Ed.” Laura memukul dada pria itu. Ia sedang serius mendengarkan cerita, pria ini malah membuat lelucon.


“Baby, aku serius. Aku hanya makan tadi siang saja.” Ucapnya lagi.


Laura pun bangkit dari dekapan pria itu. Ia menegakan duduknya. Dan meraih telepon yang ada di meja nakas.


“Aku akan menghubungi layanan kamar.”


“Aku sudah pesan makanan, ayo lanjutkan lagi ceritamu.” Ucap gadis itu. Ia meraih satu bantal dan meletakan di pangkuannya.


“Kemarilah,” Edward meraih pinggang gadis itu supaya menempel padanya.


“Mau di lanjutkan? Atau kamu mau aku menghabisi mu dulu?” Tanya Edward menyeringai.


Seketika tangan Laura mencubit pinggang pria itu.


“Dasar pria tua me*sum. Kenapa pikiranmu selalu saja begitu?”


“Aw, sakit baby. Lagipula aku hanya me*sum padamu saja.” Edward mengusap pinggangnya yang mendapatkan cubitan itu.


“Ayo, Ed lanjutkan ceritamu.” Rengek gadis itu lagi.


“Kalau aku tidak mau?”


“Aku tidak akan kembali padamu.” Ucap Laura tegas.


“Jadi kamu mau kembali padaku, baby?” Tanya Edward berbinar.


“Tergantung dari ceritamu, tuan Hugo.”


“Baiklah, baby.” Edward kembali mendekap tubuh Laura. Entah kenapa posisi seperti ini sangat ia sukai.


Pria itu menghela nafasnya sejenak, ia lalu melanjutkan ceritanya.


“Saat aku sudah terbiasa dengan kehadiran David, dia malah menikung ku. Felisha yang dari dulu bergantung padaku, justru semakin dekat dengan bocah itu.” Edward mencebikan bibirnya. Ia kembali teringat akan kisah masalalunya.


“Lalu?”

__ADS_1


“Awalnya aku cemburu, bukan karena aku mencintai saudari kandungku, tidak. Tetapi aku cemburu karena Felisha lebih dekat dengannya dari pada aku.”


Pandangan Edward menerawang jauh. Masa remaja yang hampir dia lupakan, kini ia berusaha untuk mengingatnya, demi membawa sang kekasih hati kembali pulang.


“Waktu berlalu, hingga—,” Edward menelan ludahnya kasar. Ia kembali mengingat masa-masa sulit dalam hidupnya.


“Hingga suatu hari, aku harus kehilangan papaku dan David kehilangan ayahnya.” Pria itu menundukkan kepalanya. Dekapan pada pinggang gadis itu pun melemah.


Laura menoleh, menatap sang pria yang kini menundukkan pandangannya.


“Hei, bukannya kamu tidak suka, jika orang lain menunduk saat berbicara.” Laura mengangkat dagu pria itu.


“Hmm.” Pria itu mengangguk.


Laura menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, lalu meraih kepala pria itu. Dan meletakan di atas dadanya.


Dengan lembut, Laura mengusap kepala pria itu. Berharap bisa memberi ketenangan.


“Papaku dan ayahnya David, mengalami kecelakaan. Saat itu, papaku meninggal di tempat. Dan ayahnya David meninggal sehari setelahnya. Sebelum meninggal, ayah David menitipkan putranya kepada keluargaku, karena ibunya David sudah meninggal saat ia balita. Dan kami menyanggupinya.” Edward memejamkan matanya yang mulai terasa perih.


“Sejak saat itu, aku membiarkan Felisha tetap dekat dengan David. Bagaimana pun, kami bertiga mempunyai nasib yang sama, tetapi David lebih malang, dia sendirian.”


Edward mengeratkan pelukannya pada pinggang Laura. Menenggelamkan kepalanya di atas dada berbalut kaos putih itu.


Entahlah, Edward selalu merasa nyaman berada dalam dekapan Laura.


“Jangan tinggalkan aku, baby.”


.


.


.


T. B. C


————


Jeng—Jeng—Jeng!!!


Mohon maaf ya, jika cerita tentang Felisha dan Devano itu, aku buat Edward yang menceritakannya. Bukan sebuah Flashback masalalu. 🤗🤗


Dan.. seingat aku, ada 4 atau 5 Readers yang komen di bab-bab sebelumnya, yang menebak jika Felisha itu kembarannya Edward. 👏👏


Yeyy🥳🥳


Selamat ya buat yang komennya bener.


Silahkan kirimkan bunga atau kopi untuk Laura dan Edward 😁😅


Btw, cerita tentang Felisha masih panjangggggggg ya.. mungkin sampai 10 bab 😅😅 ah.. canda 10 bab 🤣🤣


——


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


TerimaGaji

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2