
Rendra tercengang mendengar apa yang di ucapkan oleh salah satu Rektor di tempat ia mengajar.
Bagaimana bisa ia di pindah tugaskan ke cabang universitas yang ada di pulau lain?
“Pak, apa bapak tidak salah? Mungkin bukan saya yang di maksud.”
“Bukannya anda yang bernama Rendra Arga Pratama? Di kampus ini, hanya ada satu dosen yang memiliki nama itu.” Ucap pak Gunawan. Rektor yang tidak lain adalah ayah dari Monica, kekasih Johan.
“Tetapi pak, saya disini belum lama. Kenapa sudah di pindah tugas?” Rendra masih belum bisa menerima keputusan sepihak dari universitas ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tetapi seketika ia bagaikan di terjang badai.
“Maaf pak Rendra, ini sudah menjadi keputusan dari atasan. Saya hanya menjalankan tugas.” Pak Gunawan menyerahkan map yang berisi surat pemindahan tugas untuk Rendra.
‘Siapa pemilik universitas ini? Apa aku pernah bertemu dengannya?’
“Mungkin beliau melihat potensi dalam diri anda. Anda masih muda, dan belum menikah. Tentu tepat jika di tempatkan di daerah.” Ayah Monica itu menambahkan.
Ia berusaha sehalus mungkin mengusir dosen muda ini dari tempatnya bekerja. Karena sang calon menantu mengatakan, bosnya Edward Hugo mengancam akan memecat Johan, jika dirinya tidak berhasil memindahkan Rendra.
“Baiklah, pak.” Rendra membuang nafasnya kasar. Ia menerima map itu. Mulai hari ini dia sudah tidak bekerja lagi di kampus ini.
Itu artinya dia tidak akan bertemu dengan sang mantan kekasih lagi.
Bisa saja ia menolak dan berhenti menjadi dosen agar tetap berada di ibukota. Tetapi menjadi dosen adalah cita-citanya sejak dulu.
‘Mungkin takdir memang tidak berpihak kepada kita, La.’
“Saya permisi pak.”
Dengan langkah gontai, Rendra meninggalkan ruangan sang Rektor. Ia berjalan menuju ruangan kerjanya untuk membereskan barang-barangnya.
Pria berusia 27 tahun itu sengaja melewati kelas dimana tempat Laura. Setidaknya ia bisa melihat sang mantan untuk terakhir kalinya.
Ia juga ingin minta maaf atas apa yang ia ucapkan tadi malam.
Sungguh Rendra tidak bermaksud menghina gadis yang masih ia cintai itu. Rasa cemburu yang menyelimuti hatinya, membuat ia tidak bisa mengontrol ucapnya.
Saat melihat ke dalam kelas itu, Rendra mendapati bangku yang sering Laura tempati dalam keadaan kosong.
“Apa dia tidak kuliah?” Gumamnya. Pria itu menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, namun tidak melihat sang gadis.
Saat hendak meninggalkan pintu kelas itu. Seorang mahasiswa keluar dan tersenyum kepadanya tanda menyapa.
“Eh, tunggu.” Ia mencegat mahasiswa yang hendak melewatinya itu.
“Ada yang bisa saya bantu, pak?” Ucap sang mahasiswa ramah.
“Itu, apa mahasiswi atas nama Laura Anastasia tidak masuk kuliah?”
“Oh, Lala? Katanya dia ijin, pak.” Jawab remaja laki-laki itu.
Rendra menganggukkan kepalanya. Ia tidak mungkin terlalu banyak bertanya pada mahasiswa ini.
“Terimakasih.” Dosen itu pun berlalu meninggalkan sang mahasiswa.
Remaja itu hanya mengedikan bahunya, tanda tak acuh.
*********
Laura yang dicari-cari Rendra, kini tengah sibuk membersihkan kamar Edward.
Rencana tidur lebih lama hari ini, harus batal gara-gara gedoran di pintu kamar Edward, yang memaksa kedua manusia itu harus bangun.
Johan dengan tangan terkepal menggedor pintu kamar atasannya untuk mengingatkan, jika hari ini, sang atasan harus menemani seorang klien dari negara tetangga untuk meninjau sebuah proyek pembangunan rumah sakit bertaraf internasional.
__ADS_1
“Nona maaf, saya sudah selesai membersihkan ruangan bawah.” Ucap Putri, orang yang di percaya Johan untuk membersihkan penthouse mewah itu, kecuali kamar-kamar tidur disana.
“Hmm. Terimkasih mbak.” Ucap Laura tulus, ia kebetulan keluar dari kamar, untuk membawa pakaian kotor ke tempat pencucian.
“Apa mbak mau makan siang disini?” Tanya gadis itu.
“Ah, tidak terimkasih, nona. Jika tidak ada yang saya kerjakan lagi, saya mohon undur diri.” Gadis berusia 25 tahun itu menolak tawaran dari Laura. Masih ada waktu sebelum makan siang, maka ia akan mencari pekerjaan di unit lain.
Laura menganggukkan kepalanya. Ia paham, mungkin Johan memberi aturan padanya.
“Hati-hati di jalan ya, mbak.”
“Terimakasih, nona.”
Setelah kepergian Putri, Laura melanjutkan lagi pekerjaannya, membersihkan kamar yang begitu luas baginya.
“Luas kamar ini, setara dengan luas kontrakanku.” Ucap gadis itu.
Setelah selesai membersihkan kamar Edward. Laura turun ke bawah membuat makan siang, untuk dirinya sendiri.
Sambil bersenandung ria, gadis itu dengan lincah mengolah bahan makanan yang tersedia menjadi hidangan yang menggugah selera.
Saat hendak menata makanannya di meja makan, ia mendengar suara pintu utama kembali terbuka.
“Apa ada yang—,”
Deg..
Laura tersentak, ia menelan ludahnya kasar. Hampir saja ia menjatuhkan sendok dan wajan yang ia pegang.
Gadis itu mengira, jika Putri yang kembali kesana. Tetapi tidak.
Seorang wanita dewasa, nan anggun sedang berjalan ke arahnya dengan menenteng tas mahalnya.
Ia melihat wanita itu semakin dekat dengan senyum terkembang di wajah cantiknya.
‘Ayah, Ibu, tunggu aku di pintu akhirat, aku akan segera menemui kalian.’
Laura merasakan hawa di sekitarnya menjadi panas, ketika wanita dewasa itu telah berada di hadapannya.
Ia ingin sekali menyapa, namun lidahnya seperti kelu. Ingin rasanya ia menghilang seperti makhluk tak kasat mata.
“Hai, kamu pasti Laura, kan?” Suara wanita itu terdengar begitu lembut.
Tidak terdengar seperti seorang istri yang angkuh dan sombong. Tetapi kenapa Edward menduakannya?
‘Dia tau nama aku?’
Kepala gadis itu seketika mengangguk.
“Ternyata kamu manis juga. Ed sudah bercerita tentang kamu.” Ucap wanita itu lagi.
“Bercerita?” Gumam Laura yang masih di dengar oleh wanita itu.
“Iya, kamu asisten yang mengurus rumah ini, kan?”
Deg…
‘Asisten? Mengurus rumah?’
Laura mencebikan bibirnya. Jadi Edward mengatakan kepada istrinya ini, kalau Laura asistennya?
‘Asal anda tau nyonya, aku asisten suamimu di atas ranjang.’
__ADS_1
“Kenalkan, aku Felisha Hugo. Ah, bukan. Aku Felisha Darmawan.” Wanita dewasa itu menjulurkan tangannya kehadapan Laura.
Dengan ragu, gadis itu menyambut uluran tangan dari wanita yang mengaku bernama Felisha Hugo atau Felisha Darmawan itu.
“Aku Laura, senang bertemu dengan mu, nyonya Hugo.” Gadis itu menekankan kalimat terakhirnya.
‘Nyonya Hugo? Hmm.. apa Ed pernah bercerita tentang keluarganya?’
Felisha menyunggingkan bibirnya. Ia meneliti tampilan gadis di hadapannya ini.
“Maaf nyonya, bagaimana anda bisa masuk?” Laura bertanya seperti orang bodoh.
“Tentu saja, Ed memberikan aku kartu akses.” Felisha mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah kartu khusus untuk memasuki lift menuju penthouse Edward.
‘Bodoh, kenapa aku malah menanyakan hal itu, dia istrinya kan? Sudah pasti di berikan kartu akses masuk kesini.’
Laura merutuki kebodohannya dalam hati.
“Tadi aku juga ingin mengetuk, tetapi pintu di depan tidak terkunci. Ya sudah aku masuk saja.” Ucapnya lagi, ia menatap lekat pada Laura.
‘Dia terlihat sederhana, apa benar ia hanya seorang asisten? Tetapi mengapa Ed memanggilnya, baby?’
“Kamu membuat makan siang ini?” Tanpa di persilahkan, Felisha mendudukkan bo*kongnya di salah satu kursi meja makan.
“Iya, Nyonya.” Sebisa mungkin Laura bersikap layaknya seorang asisten rumah tangga, agar wanita dewasa ini tidak mencurigainya.
“Apa aku boleh ikut makan siang disini? Sepertinya kamu sendirian di rumah?”
Lagi-lagi lidah Laura seakan bertulang. Kaku untuk berucap. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita makan siang bersama. Sepertinya, masakanmu sangat lezat.”
‘Suamiku, sayang. Maaf hari ini aku nakal. Tiba-tiba saja aku ingin mengerjai gadis ini.’
.
.
.
T. B. C
————
Akankah ada perang saling jambak menjambak setelah ini ???
Kasian ah kalau ada jambak-jambakan. Perawatan rambut nyonya Felisha itu mahal.
😅😅😅😅
Jangan lupa
Like
Komen
Vote dan Gift
Terimakasih banyaaaaaaakkkkkkkkkkk
I LOVE YOU TILL THE END
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1