TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Persiapan Melahirkan.


__ADS_3

Dua Purnama terlewati, kini perut Laura semakin membesar, dan minggu ini adalah minggu yang di perkirakan sang Hugo junior akan lahir.


Nyonya Hugo pun telah pindah ke ibukota, untuk menanti kelahiran cucu pertama keluarga Hugo. Namun Felisha dan Devano tetap tinggal di rumah keluarga Hugo. Mereka akan datang nanti, setelah putra Edward dan Laura lahir.


“Apa mau ke kamar mandi lagi?” Tanya Edward mendekati sang istri yang tengah duduk berselonjor di kursi santai yang tersedia di pinggir kolam renang rumah mereka. Semenjak usia kehamilannya memasuki bulan ke sembilan, Laura lebih sering buang air kecil.


“Belum.” Ucap Laura tersenyum.


“Mama mana, pi?” Tanya Laura pada sang suami, ia tak melihat ibu mertuanya saat keluar kamar tadi.


“Mama ke kantor. Ada rapat bulanan.” Jawab Edward sembari mengambil tempat di ujung kursi, kemudian mulai memijat kaki sang istri.


Hati Edward merasa tercubit melihat keadaan sang istri. Perut besar, serta kedua kaki bengkak. Kadang wanita itu mengeluh susah mencari posisi tidur. Tak jarang juga Laura mengeluh sakit pada punggungnya. Dan jika wanita itu sudah meringis, maka Edward dengan sigap mengusap punggung sang istri.


“Kenapa tidak papi saja yang ke kantor?”


“Biarkan saja mama, dia juga perlu mengingat masa-masa menjadi pimpinan dulu.” Edward mencebik. “Lagi pula, aku tidak ingin meninggalkan mu terlalu lama.” Ia memijat dengan lembut punggung kaki sang istri.


“Kan belum waktunya.”


“Aku sudah mempelajari beberapa hal tentang ibu hamil. Bisa saja anak kita lahir tidak pada waktu yang di perkirakan.”


Laura tersenyum mendengar ucapan sang suami. Pria itu begitu telaten mengurus Laura. Edward tak hanya menjadi suami, terkadang ia menjadi orang tua untuk Laura.


“Apa sudah mendapatkan sekretaris baru?”


“Sudah. Kali ini seorang pria. Aku tidak mau ambil resiko, setiap tahun harus mengganti sekretaris.”


Ya, Monica kini sudah tidak bekerja lagi, mengingat kehamilannya yang memasuki bulan ke delapan. Meski ia mengundurkan diri bukan karena keinginannya, namun karena perintah sang suami. Johan tidak mau mengambil resiko. Lagi pula, gaji yang Edward berikan pada Johan, masih sanggup untuk menghidupi dirinya dan sang istri.


Monica juga tidak ingin melawan perintah sang suami, dia menurut. Johan juga meminta ibu mertuanya untuk tinggal bersama mereka, menemani sang istri saat pria itu sedang bekerja. Tak jarang pula, Monica akan berkunjung ke rumah sang atasan. Menemui Laura, berbagi pengalaman seputar kehamilan mereka.


Anak Johan dan Monica di perkirakan berjenis kelamin wanita. Hal itu membuat Laura senang bukan kepalang. Karena wanita muda itu sudah merencanakan perjodohan anak-anak mereka.


“Mau makan siang apa? Biar aku buatkan untukmu.”


Beberapa hari menemani sang istri di rumah, Edward terkadang turun langsung ke dapur membuatkan wanita hamil tua itu makanan.


“Tidak perlu. Makanan yang di buat para ibu saja.”


Laura tidak ingin begitu di manjakan. Tidak hanya suaminya, namun ibu mertuanya juga. Wanita paruh baya itu bahkan mengawasi langsung para asisten yang sedang bekerja, agar tidak membahayakan sang menantu.


“Apa perlengkapan ke rumah sakit sudah lengkap?” Tanya Laura kepada sang suami. Perutnya yang sudah sangat besar membuat ruang gerak wanita itu terbatas. Laura sudah meminta bantuan salah satu asisten rumah untuk membantunya menyiapkan keperluan yang akan ia bawa ke rumah sakit, namun Edward melarang. Ia sendiri yang menyiapkan segala sesuatu, memasukkan dengan rapi ke dalam koper.


“Sudah. Semua yang kamu tulis sudah aku siapkan. Tinggal geret bawa ke mobil.”


“Geret? Bukannya aku menyiapkan tas yang di tenteng?” Alis Laura berkerut.


“Aku juga perlu membawa pakaian ganti. Kamu pikir, aku tidak menginap di rumah sakit?”


“Apa perlu?”

__ADS_1


Edward menghentikan pijatannya pada kaki sang istri. Ia kemudian mengambil tempat di sisi kiri wanita hamil itu, lalu merangkul bahu istrinya.


“Perlu, mami. Bahkan saat kamu berada di ruang persalinan aku harus ada disana.”


“Aku tau hal itu, tetapi, apa perlu papi menitipkan pada barang-barang ku? Kenapa tidak membawa tas sendiri?”


“Supaya tidak terlalu banyak membawa tas. Cukup satu koper.” Jawab Edward santai.


“Iya sih, tetapi orang-orang akan mengira kita pindahan, bukan mau bersalin.”


Edward mengeratkan pelukannya pada sang istri. “Aku tidak perduli yang orang lain pikirkan, karena aku hanya memikirkan tentang kenyamanan mu, dan anak kita.”


****


“Pi… ssttt.. aduh.”


“Ada apa?” Edward berlari ke arah tempat tidur dimana sang istri berada. Ia baru saja selesai membersihkan diri.


Malam kini telah menyapa, pasangan suami istri itu baru saja selesai berbagi peluh bersama. Karena menurut dokter, mereka boleh melakukan hubungan suami istri kapan saja, mengingat kehamilan Laura sangat sehat, dan tidak bermasalah.


Nyonya Hugo juga mengatakan, berhubungan saat hamil tua, bermanfaat sebagai induksi alami, dan memudahkan proses menuju persalinan.


“Sakit.. Sstt..” Laura meringis sembari memegang perutnya. Edward mendekat, kemudian ikut mengusap perut sang istri.


“Bukannya aku bermain pelan? Kenapa tumben begini?”


Laura tiba-tiba mencengkeram lengan sang suami. Rasa sakit yang tak terlukiskan, tiba-tiba menyerang perut bagian bawahnya.


“Papi, sepertinya anakmu ingin keluar sekarang.”


“Papiii… aku serius. Sepertinya putra mu sudah mau lahir.. Sstt..” Laura mengeram sekaligus meringis. Bisa-bisanya sang suami tidak peka di saat seperti ini.


Deg..


Edward tersentak. Pria itu kemudian bangkit, meninggalkan sang istri.


“Papi mau kemana?” Tanya Laura panik.


“Tunggu sebentar, ketuban mu belum pecah kan?” Dan Laura pun mengangguk. Membuat Edward kembali melanjutkan langkah menuju ruang ganti.


“Astaga. Dia tidak ada panik-paniknya. Sstt.. apa dia tidak tau, ini sakit sekali.”


Laura menurunkan satu kakinya.


“PAPIII…” teriak wanita dengan perut besar itu.


“Ada apa?” Dengan santai Edward datang menggeret sebuah koper berukuran besar.


Laura pun hanya mampu menganga.


“Astaga.”

__ADS_1


“Jangan panik, mami. Aku sudah mempelajari banyak hal tentang melahirkan. Ketuban mu belum pecah. Masih aman. Aku akan membawa koper ini turun dan meminta sopir menyiapkan mobil.” Tak lupa Edward mendekat dan melabuhkan sebuah kecupan di atas puncak kepala sang istri.


“Astaga.” Laura hanya mampu bergumam kecil.


“Sayang, ada apa?” Nyonya Hugo datang, setelah kepergian Edward.


“Astaga.” Wanita paruh baya itu tercengang saat mendapati sang menantu berdiri dan bersandar pada dinding, sembari meringis memegangi perutnya.


“Sakit, ma..” adu Laura dengan suara bergetar. Nyonya Hugo mendekat, merengkuh tubuh gempal sang menantu.


“Sabar. Ayo, kita ke bawah.”


“Ed mana, ma?”


“Dia sedang memasukkan koper ke dalam mobil.”


Langkah Laura terhenti, ia menatap tak percaya ke arah sang mertua.


“Apa tidak bisa meminta bantuan yang lain? Kenapa dia santai sekali meninggalkan aku disini. Perut ku.. Aww.”


Nyonya Hugo paham apa yang Laura rasakan. Apalagi, menantunya itu belum pernah hamil sebelumnya.


“Tenang, sayang. Tarik nafas yang dalam, lalu hembuskan.”


“Apa mama ingin aku melahirkan disini?”


Astaga, sepertinya nenek Devano itu salah berbicara.


“Tidak, sayang. Tenanglah.” Ia kembali menuntun sang menantu keluar dari kamar.


“Ma.” Edward datang mendekat, dan mengambil alih sang istri.


“Apa ketuban mu sudah pecah?”


“Astaga. Kenapa ketuban terus yang papi bicarakan? Perutku sakit sekali. Bayinya seperti sudah berada di bawah ini.”


Suara Laura meninggi, ia mencengkeram dengan kuat lengan sang suami. Selain karena rasa sakit, ia juga meluapkan rasa kesalnya.


“Baik-baiklah, ayo kita ke rumah sakit sekarang.” Jawab Edward dengan sedikit meringis.


“Mama ikut.”


“Mama di rumah saja, ini sudah malam. Ke rumah sakitnya besok pagi saja. Jangan lupa hubungi Felisha dan keluarga panti.”


“PAPIII.”


“Iya, sayang. Ayo kita jalan sekarang.”


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2