TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 86. Hari Pernikahan.


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba. Hari dimana Edward dan Laura akan melangsungkan upacara pernikahannya.


Yang berbahagia tidak hanya sepasang kekasih itu, melainkan keluarga mereka berdua juga ikut bahagia. Tentu yang paling berbahagia adalah nyonya Hugo. Karena pada akhirnya sang putra menikah dengan gadis pilihannya.


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, Edward di temani sang mama, Felisha, Devano, Johan, Monica dan pak Indra telah tiba di panti asuhan.


Pria berusia 35 tahun itu nampak begitu tampan dengan balutan pakaian pengantin berwarna putih.


Edward berjalan di halaman depan panti, dengan merangkul lengan sang mama. Jujur saja, kegugupan semakin besar ia rasakan pagi ini. Hingga pria itu terus menempel pada sang mama demi menekan rasa groginya.


Kedatangan pria itu, di sambut oleh ibu Maria dan bibi Lily. Sementara sang pengantin wanita, masih di sembunyikan di kamarnya.


“Bu, dimana istriku?” Bukannya menyapa, Edward justru menanyakan keberadaan mempelai wanitanya.


“Masih calon, Ed. Belum menjadi istri.” Sang saudari kembar berceletuk di belakangnya.


Pria itu berdecak. Menurutnya sama saja. Toh sebentar lagi mereka akan menikah.


“Lala masih di rias. Sebentar lagi selesai. Mari kita ke tempat acara duluan.” Ibu Maria mengajak calon keluarganya berjalan menuju taman tengah panti asuhan itu.


Kecuali nyonya Hugo, rombongan yang lain berdecak kagum melihat hiasan di taman itu. Sangat cantik. Dua kata yang terucap saat melihat indahnya hasil karya para pekerja dekorasi.


“Ini cantik sekali, ma.” Sang pengantin pria berujar. Matanya tidak henti memindai halaman itu, namun tangannya masih bergelayut pada lengan sang mama.


“Kamu berhutang banyak pada mama, Ed.” Ucap nyonya Hugo menyeringai.


“Tentu, ma. Nanti aku bayar.” Entah Edward mengerti maksud ucapan sang mama atau tidak.


Di antara hiasan penuh bunga itu, terdapat beberapa meja bundar dengan kursi yang juga sudah di hias sedemikian rupa. Tidak lupa juga sebuah panggung kecil, dimana Edward dan Laura akan mengucap janji suci pernikahan mereka.


Felisha mengajak rombongannya yang lain untuk duduk di tempat paling depan. Ia tidak mau melewatkan momen bahagia sang kakak.


Beberapa saat kemudian, satu persatu anak-anak panti, beserta para pekerja datang dan mengambil tempat. Semua menggunakan pakaian berwarna putih seperti keinginan nyonya Hugo.


Ibu Maria dan bibi Lily juga mengambil tempat di paling depan.


Acara pernikahan itu juga di hadiri oleh petugas dari pencatatan sipil, untuk mengesahkan pernikahan Edward dan Laura di mata hukum.


“Ayo Ed, kita ke depan.” Nyonya Hugo mengajak Edward mendekat ke arah panggung kecil itu. Namun tubuh sang putra seperti terpaku. Diam tidak bergerak.


“Ma, Laura belum tiba. Aku ingin menunggunya.” Edward menolak ajakan sang mama.


“Tunggu dia di depan, Ed. Lihat di depan sana sudah ada pendeta dan petugas dari pencatatan sipil. Kamu jangan membuat mama malu.” Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah depan. Seketika Edward menuruti perkataan mamanya.


Edward dan nyonya Hugo bergantian menyalami sang pemuka agama dan petugas pencatatan sipil.


Setelah itu mereka mengambil tempat duduk.


Edward merasa sangat begitu lama, sang kekasih hati tak kunjung datang. Berulang kali ia melihat jam mahal di pergelangan tangannya. Namun waktu seakan berjalan begitu lambat.


Pria itu hampir frustrasi, ia hendak mengacak rambutnya yang telah tertata rapi. Namun, seorang anak kecil berlari ke tengah taman. Dan berbisik kepada ibu Maria mengalihkan pandangan pria itu.


Ibu Maria tersenyum dan mengangguk ke arah nyonya Hugo. Wanita paruh baya itu kemudian mengajak sang putra berdiri. Sang pendeta yang akan menikahkan kedua insan itu, mengambil tempatnya.


Edward kini mengerti, anak tadi datang memberitahu jika pengantinnya akan segera tiba. Seketika senyum terkembang di bibirnya.

__ADS_1


Ia pun tak lupa merapikan penampilannya. Hampir saja merusak tatanan rambutnya, pria itu mengusap lembut mahkota indahnya.


Jantung Edward berdetak dua kali lebih cepat, ketika sang mama berbisik menyuruhnya menatap ke depan.


Dari pintu masuk halaman itu, muncul sang pengantin wanita, yang merangkul lengan pak Toto sang tukang kebun panti.


Di belakangnya nampak kedua sahabat Laura, Melani dan juga Yulia. Mereka bertugas menjadi pengiring pengantin wanita.


“Oh Tuhan, dia cantik sekali.” Edwad berucap tanpa pengalihan pandangannya dari obyek yang sang memanjakan mata.


Sang pujaan hati, hari ini tampil begitu cantik dengan gaun pengantin berwarna putih, berlengan panjang, menjuntai menyapu lantai.


Di kepala gadis itu, terdapat sebuah mahkota kecil. Tak lupa juga, kepala gadis itu di tutupi oleh kain berwarna putih tipis seperti jaring. Yang nantinya akan menutup wajah Laura saat upacara pernikahan berlangsung.


Langkah pak Toto semakin mendekat ke arah Edward. Yang membuat pria itu semakin gugup. Ia tiba-tiba ingin sekali memeluk wanita yang sedang bergelayut pada lengan pria paruh baya itu.


Setelah berada di depan pengantin pria, pak Toto yang bertugas menggantikan ayah sang mempelai wanita, menyerahkan gadis itu kepada calon suaminya.


Edward menyambut hangat tangan Laura. Tanpa sadar, pria itu mengecup punggung tangan gadis itu.


“Kamu cantik sekali, Laura.” Edward sengaja memanggil nama gadis itu, supaya gadis itu merasakan kebahagiaan sebagai Laura, bukan yang lainnya.


“Kamu juga tampan sekali, Edward.” Laura pun berucap sama.


Mereka saling bertatapan. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Hanyut dalam rasa bahagia yang kian membesar.


Hampir saja tenggelam dalam rasa yang memabukkan, sebuah buket bunga memutus pandangan mereka.


Melani yang sedari tadi membawa buket bunga itu, menyerahkannya kepada pengantin wanita. Diiringi sebuah cebikan bibir. Tak lupa juga, Melani menutup wajah sang sahabat dengan kain tipis itu, karena acaranya akan segera di mulai.


Pipi Laura mendadak memanas mendengar ucapan sang sahabat. Ia pun mengalihkan wajahnya ke arah lain.


Upacara pernikahan pun di mulai dengan pembacaan doa oleh pemuka agama. Setelah itu, sang pendeta memberikan pesan-pesan kepada kedua mempelai.


Selanjutnya, janji suci pernikahan pun di ucapkan oleh kedua mempelai secara bergantian.


Dengan suara bergetar menahan tangis bahagianya, Laura gadis berusia 21 tahun itu mengucap janji suci pernikahannya.


Tak hanya gadis itu, para keluarga juga merasakan hal yang sama. Mereka terharu karena ikut merasa bahagia.


Edward juga merasakan hal yang sama. Ia pernah menangis karena kehilangan, namun hari ini, air matanya turun karena bahagia.


Setelah janji suci pernikahan keduanya terucap, seorang gadis kecil menghampiri sepasang pengantin itu, dan menyodorkan keranjang kecil berhias bunga yang berisi sepasang cincin di dalamnya.


Edward pun meraih keranjang kecil itu. Ia mengambil satu cincin, dan menyematkan di jari manis tangan kiri sang wanita. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan di atasnya.


Laura melakukan hal yang sama, ia memakaikan cincin pada jari manis tangan kiri pria dewasa itu. Ia juga melabuhkan sebuah kecupan di atasnya.


Tepuk tangan para keluarga menggema di taman itu. Suasana haru bercampur rasa bahagia kian lengkap.


Setelah itu, pendeta meminta Edward mebuka penutup wajah Laura, agar pria itu bisa mencium pengantinnya.


Dengan senang hati Edward melakukannya. Namun, karena banyaknya anak di bawah umur di tempat itu, Edward hanya mengecup singkat bibir Laura, kemudian berpindah mengecup kening wanita itu dengan hangat.


“Aku mencintaimu, Laura.” Bisik pria itu saat melepaskan kecupannya.

__ADS_1


Laura hanya mengulum bibirnya. Ia tidak mampu berucap. Dengan begitu, kini Edward dan Laura telah sah menjadi sepasang suami istri.


Tepuk tangan, dan sorakan kembali bergemuruh. Kini lengkap sudah kebahagiaan mereka semua.


Menuruni panggung kecil itu, Edward dan Laura lantas menemui petugas pencatatan sipil, untuk menandatangani surat pernikahan mereka.


“Akta nikah dan identitas kalian yang baru akan selesai dalam 7 hari, Tuan dan Nyonya Hugo.” Ucap petugas itu, sembari merapikan surat-surat yang telah di tandatangani oleh kedua pengantin itu.


“Terimakasih, pak.” Ucap keduanya bersamaan.


Setelah itu mereka melakukan foto bersama. Sebagai kenangan-kenangan di kemudian hari.


Yang di tunggu-tunggu sebagian orang pun tiba, yaitu acara pelemparan bunga.


Edward dan Laura berdiri membelakangi para keluarganya. Dalam hitungan ketiga, mereka melempar buket bunga yang sedari tadi di genggam Laura.


“Hap.” Bunga itu tertangkap oleh Yulia. Sang suami yang berada di sampingnya protes. Kenapa wanita yang sudah menikah itu ikut-ikutan berebut bunga.


Yulia pun terkekeh. Ia kemudian menyerahkan buket itu kepada Monica. Dengan senang hati, sekretaris Edward itu menerimanya.


Acara pun di lanjutkan dengan jamuan makan siang.


“Selamat ya, kalian berdua.” Melani menghampiri pengantin baru yang sedang menikmati makan siangnya.


“Terimakasih, Mel.” Ucap Laura. Ia juga mengenalkan sahabatnya itu kepada sang suami. Laura juga mengenalkan Edward kepada Yulia dan suaminya.


Di sisi lain, Felisha nampak tengah membujuk Devano yang sedari tadi hanya diam.


“Dev, ayo kita temui papa.”


Bocah itu menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. Ia memang belum begitu mengerti. Tetapi ia tau, acara yang ia hadiri saat ini adalah upacara pernikahan.


Devano merasa kecewa, karena sang papa menikah lagi. Ia merasa mamanya telah di khianati.


“Fel, ada apa?” Nyonya Hugo datang menghampiri.


“Aku tidak tau, ma. Devano dari tadi hanya diam saja.” Ucap Felisha putus asa.


.


.


.


T. B. C


( mohon maaf, jika ada kesalahan atau kekeliruan dalam penulisan rangkaian pernikahan Edward dan Laura ) 🙏🙏


———


Para Readers yang tidak bisa hadir di acara pernikahan Edward dan Laura, bisalah kirim hadiah saja.. 😁😁


Cukup dengan


Like —> Komen —> Vote —> Gift

__ADS_1


❤️❤️❤️ Terimakasih banyak ❤️❤️❤️


__ADS_2