
Sehari menjelang pernikahan sang pewaris keluarga Hugo, keriuhan terjadi di panti asuhan, Angel Heart.
Sejak pagi, para pekerja dekorasi sudah sibuk menghias di tempat itu.
Halaman atau taman yang berada di tengah pekarangan panti asuhan, tepatnya di belakang ruang tamu, dan di depan tempat tinggal anak-anak, di sulap menjadi tempat di mana Edward dan Laura akan mengucapkan janji suci pernikahan.
Dihiasi dengan rangkaian bunga mawar berwarna merah muda, bunga mawar berwarna putih dan juga bunga lili putih, membuat taman itu menjadi cantik.
Untung saja, sebagian besar anak-anak sedang bersekolah, jika tidak, bisa di bayangkan bagaimana ramainya panti itu.
Nyonya Hugo, sang empunya hajatan adalah orang yang paling sibuk kesana kemari mengatur semuanya.
Sama seperti saat pernikahan sang putri, ia juga yang mengurus segalanya. Memastikan semuanya sempurna.
“Ma, minum dulu.” Laura menyodorkan sebotol air mineral yang sudah terbuka kepada sang calon mertua.
Nyonya Hugo meraih botol itu, ia kemudian meneguk isinya.
“Kamu kenapa keluar? Istirahat sana.” Wanita paruh baya itu mengusir calon menantunya.
“Nanti saja, ma. Ini masih terlalu pagi.” Gadis itu melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi.
“Jangan sampai wajahmu kusam nanti. Mama mau kamu tampil segar besok.”
Laura mengangguk. Ia tersenyum kepada mama dari kekasihnya.
“Terimakasih sudah menyayangiku, ma.” Laura merasa bahagia karena ia seperti mempunyai seorang ibu lagi.
Nyonya Hugo meraih tubuh calon menantunya. Dan mendekap erat pundak gadis itu.
“Mama sudah menyayangi mu dari dulu. Kamu tau itu kan? Kita sudah bertemu bahkan sebelum panti ini berdiri. Kamu saat itu masih berusia 2 tahun saat mama pertama kali ke tempat ini.” Nyonya Hugo kembali mengenang masa lalu.
Mata Laura mengembun mendengar ucapan nyonya Hugo, kini ia menemukan kembali kasih sayang seorang ibu, meski bukan dari ibu kandungnya.
“Terima kasih, ma. Aku berhutang banyak kepada mama” Hanya itu yang bisa Laura ucapkan. Tidak ada yang bisa ia katakan lagi. Nyonya Hugo sudah sangat baik kepada keluarganya dari dulu.
“Jangan berterima kasih terus. Kamu cukup memberikan mama cucu yang banyak. Maka semua hutangmu akan lunas.” Nyonya Hugo berujar, sembari melepas dekapannya. Ia melihat mata sang calon menantu mulai berair.
Wajah gadis itu merona di sela rasa harunya.
“Jangan menangis. Nanti matamu sembab. Ini hari bahagia. Kamu harus bergembira.” Nyonya Hugo menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
“Aku sangat bahagia, ma.” Laura meraih kedua tangan nyonya Hugo kemudian mengecupnya.
“Kamu sudah pernah mengajak Ed kemakam orang tua mu?”
Kepala Laura menggeleng. Ia belum sempat mengajak pria dewasa itu kemakam orang tuanya.
“Nanti setelah kalian menikah, ajak Ed kesana. Perkenalkan dia kepada mertuanya. Minta restu juga kepada mereka.”
__ADS_1
Kepala Laura mengangguk. Mereka kembali berpelukan setelah itu mereka melanjutkan memantau pekerjaan para pekerja dekorasi.
******
Sementara itu, Edward kini tengah berada di rumah sang mama. Besok adalah hari yang paling penting dalam hidupnya, jadi ia tidak mau terlambat sedikit pun.
Ia sudah mengambil cuti sejak kemarin, dan mengerjakan pekerjaannya dari rumah.
Pria dewasa itu sedang mencoba jas yang akan ia kenakan di hari bahagianya. Sesuai keinginan sang mama, Edward akan mengenakan setelan berwarna putih, senada dengan gaun yang di gunakan oleh calon istrinya.
Begitu pula para kerabat yang hadir, di haruskan menggunakan pakaian berwarna yang sama dengan para pengantin.
“Wah tampan sekali kakakku ini.” Felisha memuji setelah ia selesai memakaikan sebuah jas tuxedo pada tubuh sang kakak.
“Apa sudah ini cocok untukku, Fel?” Tanya Edward sambil mematut dirinya di depan cermin.
“Apapun yang kamu kenakan selalu cocok, Ed.” Felisha kembali memuji. Tetapi pada kenyataannya memang seperti itu. Kakaknya selalu cocok mengenakan pakaian apapun.
Edward melepaskan jas itu. Kembali meletakkan pada manekin yang tersedia, agar pakaian luar itu tidak kusut.
“Aku gugup, Fel.” Ia berkata lirih ke arah saudari kembarnya.
Mama Devano itu kemudian mendekat dan memberi pelukan hangat kepada sang kakak.
“Itu hal biasa, Ed. Anggap saja seperti memperebutkan sebuah tander.”
“Aku tidak pernah gugup saat memperebutkan tander.” Ujar pria itu di dekapan sang adik.
“Apa dulu kamu juga merasakan kegugupan?”
“Tentu. Namanya juga hari terpenting dalam hidup, kita pasti gugup.” Wanita itu terkekeh. Ia baru melihat sisi lain dari saudara kembarnya.
“Sudah jangan terlalu di pikirkan. Nanti kamu bisa semakin gugup. Bisa-bisa kamu lupa dengan sumpah pernikahan nanti.”
Edward mengangguk. Ia mengurai pelukan itu. Kemudian mengecup hangat kening sang adik.
“Terima kasih telah mengijinkan aku hidup dengan wanita lain.”
Felisha menggeleng. Ia tidak pernah melarang Edward untuk menikah. Namun pria itu sendiri yang beranggapan begitu.
“Aku tidak pernah melarang mu, Ed. Selama ini, aku hanya ingin memastikan kamu dekat dengan wanita baik-baik atau tidak.” Felisha menarik dan membuang nafasnya pelan.
“Jika menurutku wanita itu tidak baik, aku pasti akan bertingkah seperti kekasihmu. Tetapi jika sebaliknya, aku juga tidak akan begitu.”
Edward mengangguk, kemudian ia kembali memeluk sang adik.
“Percayalah, meski aku sudah menikah nanti, kamu dan Devano tetap berhak atas diriku.”
Felisha melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
“Tidak, Ed. Meskipun aku adik kandungmu, setelah kamu menikah, yang paling berhak atas dirimu adalah istri dan anak-anakmu. Utamakan mereka terlebih dahulu. Bagaimana pun juga, aku akan menjadi pihak luar di dalam rumah tangga kalian.”
Edward mengangguk paham. Kini sang adik telah benar-benar kembali. Wanita itu sudah bisa berpikir dewasa. Ia merasa tidak perlu khawatir lagi terhadap Felisha.
“Terima kasih, Fel. Aku selalu menyayangimu.”
“Aku juga selalu menyayangimu, Ed.”
Tidak ada yang bisa memutuskan hubungan persaudaraan mereka. Bagaimana pun juga, sepasang saudar kembar itu terlahir dari benih dan rahim yang sama.
Seburuk-buruknya, dan sejahat-jahatnya saudara kandung, pada akhirnya merekalah yang akan selalu ada untuk kita.
“Mama dimana? Kenapa sejak pagi aku tidak melihatnya?” Edward bertanya setelah mereka kembali ke ruang keluarga.
“Dimana lagi? Mama mu sedang sibuk di tempat acara. Katanya semua harus sesuai dengan yang ia inginkan.”
Felisha meraih toples berisi biskuit di atas meja, kemudian melahapnya.
“Ed, apa Laura hamil?” Wanita itu teringat sesuatu. Ia langsung bertanya kepada sang kakak.
Edward yang sedang duduk disamping ibu satu anak itu, menoleh ke arah wanita itu.
“Apa maksudmu?” Ia belum mengerti maksud pertanyaan sang adik.
Felisha menceritakan apa yang kemarin ia dan Laura lakukan. Hingga mereka makan malam di restoran Korea.
Yang membuat Felisha curiga adalah ketika Laura mengatakan tiba-tiba ingin makan mie dari negri gingseng itu. Tidak hanya itu, Felisha juga heran melihat porsi makan gadis itu, yang bisa menghabiskan dua mangkuk mie.
“Dia memang suka makan banyak, Fel.” Jawab Edward singkat. Ia juga tidak tau apa gadis itu sedang hamil atau tidak.
“Apa dia masih meminum obat itu?”
“Aku tidak tau. Setelah ia kabur apa masih meminum obat itu atau tidak?” Edward mengedikan bahunya.
Jika benar Laura hamil, ia pasti akan sangat bahagia. Usianya sudah tidak muda lagi. Ia ingin masih bisa merawat darah dagingnya saat tubuhnya masih kuat.
.
.
.
T. B. C
Teruntuk para Readers setia Edward dan Laura, siap-siap kondangan yak.
Eitss..
Tapi, sebelumnya jangan lupa kirim hadiah dulu.
__ADS_1
Like —> Komen —> Vote —> Gift
❤️❤️❤️ Terimakasih banyak ❤️❤️❤️