
“Enghh.. Ed- sudahh.. ***-up..”
Laura dengan susah payah mengeluarkan suaranya. Kini ia tengah di ajak menuju puncak kejayaan oleh Edward.
Pria itu mencurahkan semua kerinduan yang ia rasakan pada sang pujaan hati. Berpisah selama dua hari. Dan kemarin, setelah kembali ke penthouse mereka juga tidak melakukan hal lebih.
“Sebentar, baby.. enghh.”
Pria itu masih bekerja keras, memeberi sentuhan lembut di setiap jengkal kulit Laura.
“Ed.. i-ni su-dah yang keti-ga.. mmm.”
Laura merasa kakinya sudah tidak bertenaga. Bagaimana bisa Edward begitu kejam padanya. Sejak gadis itu membuka mata di pagi hari, pria itu sudah mengukungnya.
Perjalanan pertama mereka lakukan di atas ranjang. Perjalanan kedua mereka tempuh di kamar mandi. Dan sekarang perjalanan ketiga mereka mulai di ruang ganti.
“Lauraa..hhh.. aku mencintai-mu..hhh.”
Pria itu terus merancau di belakang tubuh Laura. Sesekali ia melabuhkan kecupan hangat pada punggung indah gadisnya.
Laura hanya bisa pasrah, membungkukan badannya di atas meja rias, dengan Edward yang terus berpacu di belakangnya.
“Ed..hhh” tubuh gadis itu bergetar, entah sudah berapa kali ia mencapai puncak. Sehingga membuatnya benar-benar kehabisan tenaga.
“Kamu selalu bisa mengimbangi ku, mmhhh…Laura.”
Edward membalik tubuh semampai yang sudah sangat lemas itu. Ia menggendongnya seperti induk koala. Dengan benda keras tak bertulangnya masih tertancap di pusat sasaran.
“Ini yang terakhir, baby. Hhh.. aku ada rapat setelah ini.”
Pria itu menekan semakin dalam, saat ia merasa akan mencapai puncak kejayaan untuk ketiga kalinya.
“Aku mencintaimu, Laura Anastasia.” Ucap pria itu dengan nafas yang memburu. Edward membenamkan wajahnya di antara dua bantal kenyal kesukaannya. Tangan kekarnya masih menopang punggung sang gadis.
“Sudah puas?” Tanya Laura sambil mengusap kepala pria itu. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
“Belum.” Kepala Edward menggeleng, sehingga menimbulkan gelenyar aneh dalam diri Laura.
“Jangan lagi, Ed. Aku benar-benar lelah.” Ucap gadis itu memelas.
Pria itu menegakkan kepalanya. Ia tersenyum memandang wajah berantakan sang kekasih hati. Edward selalu menyukai pemandangan seperti ini.
Perlahan pria itu membawa tubuh polos mereka kembali kedalam kamar mandi.
“Lepas dulu, Ed.” Laura merasa aneh seperti ini.
“Biarkan saja, baby. Dia belum mau lepas dari sangkarnya.”
Edward meletakkan tubuh polos Laura di dalam bathtub, sehingga membuat mereka terpisah.
Pria itu menyalakan kran air hangat di dalam bak mandi besar itu. Memberi beberapa tetes aroma bunga mawar, untuk memanjakan sang gadis.
“Berendam lah sesuka hatimu, baby. Tetapi jangan terlalu lama. Supaya kamu tidak masuk angin. Aku akan mandi disana.”
Pria itu bangkit dari sisi bathtub menuju ke sudut lain kamar mandi yang hanya di batasi dengan sekat kaca.
__ADS_1
Setelah selesai membasahi tubuhnya di bawah kucuran shower, Edward keluar lebih dulu. Ia membiarkan saja Laura menikmati waktunya di dalam bak mandi besar yang bahkan bisa di isi oleh dua orang.
Hampir 15 menit keluar, pria itu kembali masuk ke dalam kamar mandi itu. Ia mendekat ke arah Laura yang asyik memejamkan mata.
“Baby, aku pergi ke kantor dulu. Aku ada rapat hari ini.”
Edward melabuhkan kecupan hangat pada kening sang gadis. Seketika mata gadis itu terbuka.
“Hati-hati di jalan, Ed.”
Pria itu pun berlalu meninggalkan Laura yang masih betah merendam dirinya.
*****
Setelah tenaganya kembali pulih, Laura memutuskan untuk membersihkan kamar mewah itu. Ia juga meletakan pakaian yang ia bawa pergi kembali pada tempatnya.
Tidak lupa gadis itu juga meminum obat pencegah kehamilannya. Meski sempat meninggalkan Edward, namun gadis itu tetap rutin mengonsumsi obat itu.
Kini hari menjelang siang. Perutnya pun sudah memberontak minta diisi. Laura menghubungi Melani untuk mengajaknya makan siang. Sekaligus menanyakan tentang pelajaran yang ia lewati beberapa hari ini.
“Lala.. apa kabar kamu?” Melani menghambur memeluk tubuh sang sahabat.
“Aku baik, Mel.”
Mereka kini tengah berada di salah satu restoran yang di gemari anak muda.
Memesan beberapa makanan dan minuman kekinian, agar mereka punya banyak waktu berdiam diri di tempat itu.
“Kamu kemana saja, La?” Tanya Melani di sela-sela acara makannya.
“Hah.” Laura menghela nafasnya pelan.
Ia mengatakan jika suami dari saudari kembar Edward telah meninggal, tanpa bercerita lebih lanjut apa yang menyebabkannya.
Sesekali Melani terlihat menganga mendengar cerita sang sahabat. Tak jarang ia juga terlihat menganggukkan kepalanya.
“Jadi kamu mengira dia pria beristri?” Tanya Melani setelah menyeruput minuman yang ia pesan.
Laura menganggukkan kepala. Gadis itu sibuk mengunyah kentang goreng yang menjadi menjadi pelengkap pada hidangan yang dipesannya.
“Untung saja tidak, jika iya. Aku pasti memiliki teman seorang pelakor” Ucap Melani dengan memicingkan matanya ke arah sang sahabat.
“Aku juga tidak mau menjadi orang ketiga, Mel. Karena itu, aku memilih pergi.”
“Tetapi nyatanya kamu hanya salah paham kan?” Tanya gadis itu lagi.
Laura menganggukkan kepalanya. Mungkin kesalahan tidak hanya di sebabkan oleh Edward yang tidak jujur padanya. Tetapi, ia juga salah, tidak bertanya langsung pada pria itu. Hanya mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang ia lihat dan dengarkan dari Felisha.
“Menurutmu, apa saudari kembarnya akan menyetujui hubungan kalian?” Tanya Melani lagi.
“Entahlah, Mel. Aku juga tidak mau berharap banyak. Kamu sudah taukan, aku pernah sakit hati karena sebuah penolakan. Aku tidak mau itu terjadi lagi.”
Pandangan Laura menerawang jauh. Bayang-bayang masalalu itu kembali menghampiri.
“Apa kamu mencintai tuan Edward?” Sebuah pertanyaan yang membuat Laura menoleh ke arah sang sahabat.
__ADS_1
“Aku tidak tau, Mel.” Ucapnya lirih. Gadis itu menundukkan kepalanya.
“Aku akui, aku merasa nyaman, dan aman saat bersama Edward. Dia sangat memanjakan aku, Mel. Aku takut suatu saat jika sudah jatuh cinta padanya, aku akan kembali sakit hati.”
Melani menghentikan acara makannya. Ia memeluk sang sahabat dari samping. Gadis itu tau, bagaimana keadaan Laura saat itu. Ia juga tidak mau hal itu terjadi lagi pada sahabatnya.
“Jangan sedih lagi ya. Apapun yang membuat hati kamu tenang, lakukanlah. Aku akan selalu ada untuk kamu.”
Laura membalas pelukan dari sahabatnya itu.
“Terimakasih selalu ada untukku, Mel.”
“Kamu harus bahagia, La. Dan aku yakin, keluarga tuan Edward tidak seperti keluarga mantanmu itu.”
Laura menganggukkan kepalanya. Mungkin ucapan Melani ada benarnya. Buktinya, Felisha tidak mengaku sebagai kekasih atau istri Edward. Wanita itu tidak bersikap seperti yang Edward ceritakan saat bertemu dengannya.
“Oh ya, La. Bicara soal mantanmu itu, dia sudah tidak mengajar di kampus kita lagi.” Ucap Melani
“Ah? Apa Mel?”
“Kak Arga mu itu sudah tidak mengajar di kampus lagi. Yang aku dengar, dia dipindah tugaskan ke pulau lain oleh pemilik kampus.”
Laura menganggukkan kepalanya. Ia sudah tau ini sebelumnya dari Edward.
“Pasti ada sesuatu di antara kalian bertiga. Karena itu, pemilik kampus sampai memindahkan pak dosen itu ke luar pulau.” Selidik Melani.
“Iya, Mel. Kamu benar.” Dan Laura pun menceritakan apa yang menyebabkan Arga di pindah tugaskan.
.
.
.
T. B. C
————
Mohon maaf ya Genks. Satu minggu kedepan, up nya mungkin rada bolong-bolong. Di karenakan ada kesibukan di dunia nyata.
(Diusahakan satu hari, satu bab ya)
🤗🤗🤗
Terimakasih untuk semua dukungan kalian.
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
__ADS_1
I LOVE YOU TILL THE END
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️