
Dalam perjalanan menuju panti asuhan, Devano tanpa hentinya berceloteh. Pria kecil itu menceritakan kegiatan yang ia lakukan selama seminggu ini. Duduk sendiri di kursi belakang, membuat Devano leluasa.
“Mami, apa adik sudah ada?”
Tiba-tiba kepala bocah itu muncul di samping wajah Laura. Membuat wanita muda itu terkejut. Bukan hanya karena kemunculan kepalanya, tetapi juga karena pertanyaan yang di lontarkan anak itu.
“Duduk yang benar, boy.” Edward berseru, sambil tetap fokus pada kemudinya.
“Kata papa mau memberiku adik. Mana adiknya, pa? Apa ketinggalan di kota?”
Astaga..
Kedua orang dewasa itu saling melirik. Memberi tanda untuk menjawab pertanyaan luar biasa dari putra mereka.
“Sayang, adik itu datangnya perlu waktu yang lama. Tidak cepat. Jadi Devan sabar dulu ya. Nanti kalau adiknya sudah ada, mami kasih tau.” Laura sedikit memiringkan badannya agar bisa melihat putranya di belakang.
“Memang adik nanti datang dari mana, mami?”
“Hah.” Laura membuang nafasnya kasar.
‘Beginikah rasanya punya anak?’
“Sayang, sebelum datang, adik itu tumbuh di dalam perut mami dulu, setelah sembilan bulan, baru adik keluar menemui Devan.”
Laura bingung cara menjelaskannya bagaimana, meski ia punya banyak adik, tetapi ia belum pernah mendapat pertanyaan seperti ini.
“Boy, kamu mau membeli es krim?”
Edward mengalihkan topik pembicaraan, agar sang putra tidak bertanya semakin jauh. Jika di biarkan, bisa saja bocah itu bertanya kenapa adik bisa ada di dalam perut maminya.
“Apa boleh papa?”
“Tentu.”
Edward menepikan mobilnya di depan sebuah mini market. Ia kemudian mengajak Devano turun untuk membeli es krim yang di inginkan.
Tak lupa pula Edward membelikan satu untuk sang istri. Mereka kemudian memakan es krim di dalam mobil. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju panti asuhan.
Kini, mobil mewah Edward telah terparkir sempurna di halaman panti. Edward turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk para penumpangnya.
Ia kemudian menurunkan koper berisi oleh-oleh untuk para penghuni panti. Dan juga sebuah tas kain berukuran besar, berisi mainan Devano yang sudah tidak terpakai.
Keluarga kecil itu berjalan beriringan di halaman panti, tanpa menyadari ada mobil mewah lainnya sedang terparkir di halaman.
Seperti biasa pak Toto akan menyambut setiap tamu yang datang, pria paruh baya itupun mengantar keluarga Hugo ke ruang tamu.
Devano sudah tidak sabar ingin bermain dengan teman sebayanya. Ia ingin memberikan mereka mainannya yang sudah tidak ia pakai.
Ibu Maria dan bibi Lily menyapa pasangan Edward dan Laura juga Devano. Kemudian Laura menyerahkan koper berisi buah tangan kepada ibu Maria.
__ADS_1
“Kami kemarin dari negara tetangga, bu. Aku menemani Ed melakukan kunjungan kerja.”
Ibu Maria meraih koper itu.
“Terima kasih, nak. Anak-anak pasti senang mendapat oleh-oleh dari luar.” Ucap wanita paruh baya itu.
“Mami, aku mau bertemu teman-teman.” Rengek Devano tak sabaran.
“Sebentar, boy.” Edward memperingati sang putra.
“Tidak apa-apa, nak. Devano juga sudah lama tidak kemari, teman-teman juga pasti merindukan dia. Ajak putra kalian ke tempat anak-anak, mereka pasti senang.” Ibu Maria memberi saran.
“Iya, ayo sayang, ikut mami. Kita bertemu teman-temanmu.”
Laura meraih tangan Devano, menggenggam jemari sang putra. Satu tangannya membawa tas kain berisi mainan.
“Baby, biar aku yang bawa.” Edward meraih tas itu. Mereka kemudian berpamitan kepada ibu Maria dan bibi Lily.
Saat dalam perjalanan ke tempat anak-anak panti berada, langkah Laura mendadak melemah. Manik matanya tanpa sengaja melihat ke arah perpustakaan, disana terlihat sang adik, Leo sedang mengobrol dengan seorang pria dewasa.
“Mami, ayo.” Devano menarik tangan sang mami, namun wanita itu tidak bergeming.
“Ada apa, baby?” Edward melihat ke arah pandang sang istri. Ia ikut terkejut melihat apa apa yang Laura pandangi.
“Damian?” Pria itu mencoba menerka, karena dari samping, kedua pria beda usia itu terlihat sangat mirib.
“Papa, mami. Ayo.” Devano berteriak, membuat dua orang pria yang sedang duduk di depan perpustakaan itu menoleh. Keduanya menampilkan ekspresi wajah yang berbeda.
Leo merasa senang, karena sang kakak telah pulang. Sementara Damian merasa kesal, karena orang yang di bencinya ada disini.
“Itu kakak ku, pak.”
Leo kemudian bangkit dari duduknya. Menghampiri sang kakak dan kakak iparnya.
“Kak Lala..” seru pemuda tanggung itu, kemudian mendekap tubuh sang kakak. Lalu bergantian dengan kakak iparnya.
“Kalian apa kabar? Kenapa lama tidak pulang?”
Laura tersenyum kaku. Hatinya tidak baik-baik saja.
“Kami ada pekerjaan ke negara tetangga kemarin. Ada oleh-oleh, nanti minta sama ibu.” Edward menggantikan sang istri yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Leo mengangguk. Ia beralih pada anak laki-laki yang berteriak tadi.
“Hallo, bos kecil. Apa kabar?” Leo mengacak gemas rambut Devano.
“Aku baik, om kecil. Apa om kecil mau mengantarku ke tempat teman-teman? Aku membawa mainan.” Devano menunjuk tas yang di bawa sang papa.
“Mami jalannya sangat lambat. Aku sudah tidak sabar.” Ucapnya lagi.
__ADS_1
Edward menyerahkan tas itu kepada adik iparnya. Setelah itu, Leo mengajak Devano ke tempat teman-temannya berada.
“Papi, apa semuanya akan baik-baik saja?” Laura berucap setelah sang adik menghilang.
“Kamu tenang saja, sayang. Semua pasti baik-baik saja.” Edward mendekap pundak sang istri. Sedikit mengusapnya untuk memberikan ketenangan.
Pria yang sedari tadi duduk di depan tempat baca, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah mereka berdua.
Laura yang melihat itu, memalingkan wajahnya. Ia masih teringat bagaimana pria dewasa itu menatapnya penuh damba, saat pertama kali mereka bertemu.
“Hallo, Laura? Apa kabar? Kita bertemu lagi?” Damian berucap sembari menyodorkan tangannya.
Namun, Laura tak menghiraukan. Ia sedikit mundur, menyembunyikan dirinya di belakang sang suami. Kemarin ia memang ingin bertemu dengan pria itu, namun sekarang, entah kenapa Laura enggan melihat wajah Damian.
“Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja.”
“Baguslah.” Damian kemudian beralih menatap pada pria dewasa yang seusia dengannya. Ia pun mencebikan bibirnya, tidak menyangka setelah belasan tahun akan kembali bertemu.
“Hallo, Edward Hugo? Senang akhirnya kita bisa bertemu kembali.” Ucapan yang keluar dari bibir Damian seolah memberi pertanda, jika ada maksud tertentu di balik kalimat itu.
“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
‘Cih, sombong sekali pria ini.’ Batin Damian.
“Kita dulu satu kelas. Kamu lupa? Saudari kembarmu saja masih mengingatku.”
“Maaf, jika memang kita dulu satu kelas, kamu pasti tau, jika dulu aku jarang bergaul di sekolah. Jangankan murid satu sekolah, murid yang satu kelas denganku saja aku tidak tau.” Edward mengedikan bahunya. Ia bermaksud memberi isyarat kepada Damian, jika dirinya tidak pernah mengenal Teresha.
“Benarkah?”
“Ya.”
Edward membuang nafasnya kasar. Ia kemudian menarik tangan sang istri.
“Maaf, kami harus menemui anak-anak.”
Sepasang suami istri itu pun meninggalkan Damian yang masih berdiri di tempatnya.
“Cih, dasar pria sombong.” Gerutu Damian.
“Kita lihat nanti Edward Hugo, apa yang akan aku lakukan padamu dan istrimu itu.”
.
.
.
T. B. C
__ADS_1