TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 105. Keluarga.


__ADS_3

Dua hari berlalu, kini akhir pekan telah menyapa. Kemarin Laura sempat pergi kuliah sehari, dan tak lupa memberikan buah tangan kepada sahabatnya Melani, dan juga untuk Yulia.


Pagi ini, Laura tengah bersiap. Kemarin sang putra telah menghubungi. Mengingatkan papa dan maminya untuk pulang, membawakan mainan yang bocah kecil itu inginkan.


Tak lupa, Laura juga membawa buah tangan untuk mama mertua dan saudari iparnya. Wanita berusia 21 tahun itu juga membeli oleh-oleh untuk keluarganya di panti.


Satu koper besar telah siap, berisi puluhan pakaian yang akan ia bagikan kepada adik-adiknya di panti.


Sementara, satu koper lainnya berisi mainan dan oleh-oleh untuk di bawa ke kediaman keluarga Hugo.


Istri dari Edward Hugo itu, menyerahkan koper-koper itu kepada budesa, untuk di masukkan kedalam mobil. Sementara ia kembali ke kamar, membantu sang suami bersiap.


Seperti yang biasa ia lakukan. Laura akan menyiapkan pakaian yang akan di gunakan oleh suaminya.


Wangi aroma sabun, menyeruak di dalam ruang ganti, pertanda seseorang telah keluar dari dalam kamar mandi.


Laura menoleh, mendapati Edward berdiri di belakangnya, sambil menggosok kepala dengan handuk.


Wanita itu tersenyum. Ia mengambil alih handuk di tangan sang suami. Menggosok kepala pria itu dengan lembut. Setelah dirasa cukup, Laura mengambilkan lotion, dan membantu membalurkan pada tubuh kekar Edward.


Seperti biasa, tanpa tau malu, Edward melepas handuk yang melilit di pinggangnya. Kemudian mengambil satu persatu kain yang akan ia gunakan untuk membungkus tubuhnya.


“Kamu selalu bisa memilihkan pakaian yang pas untukku.” Ucap Edward menatap pantulan dirinya dan sang istri di dalam cermin.


Laura yang mendapatkan pujian seperti itu, bukannya tersipu, justru mendengus kesal.


“Jangan berlebihan. Semua yang ada di lemari itu, berwarna monokrom, jadi papi pakai yang mana saja, pasti cocok.” Ucap sang istri sambil menunjuk tempat penyimpanan pakaian.


Edward terkekeh mendengar ucapan sang istri. Ia hanya berniat memberi penghargaan kepada wanita itu. Supaya ia merasa usahanya dihargai. Istri Edward itu memang berbeda.


Setelah selesai, mereka pun turun untuk sarapan. Laura berpesan kepada pekerja rumahnya, jika ia dan suami akan pergi hingga esok, dan akan kembali di malam harinya.


Para pekerja mengangguk tanda mengerti. Sampai saat ini, memang hanya Laura yang lebih banyak berinteraksi dengan mereka. Majikan yang laki-laki selalu terlihat datar, namun tidak pernah ketus kepada para pekerja.


Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Sarapan pagi telah selesai, mereka pun meninggalkan rumah, dengan Edward yang menyetir mobilnya.


Lalu lintas jalanan sedikit ramai lancar. Perjalanan yang memakan waktu dua jam, terasa singkat, karena mereka selingi dengan obrolan hangat khas suami istri.


Di dalam mobil mereka hanya berdua. Semua kaca jendela juga tertutup rapat. Jadi tidak ada nyamuk yang bisa mendengar pembicaraan mereka.


“Yang semalam, sangat memuaskan, baby.” Ucap Edward saat berhenti di lampu merah terakhir. Tinggal beberapa meter lagi, mereka akan tiba di rumah keluarga Hugo. Ia menoleh ke arah penumpang cantik di sampingnya, sembari mengedipkan satu matanya.


Laura menatap nyalang suaminya. Ia kemudian melayangkan sebuah pukulan pada lengan kiri pria itu.


“Kamu ternyata seorang ma-ni-ak, ya.”


Laura kembali teringat, semalam suaminya merasainya tanpa henti. Bahkan pukul 9 malam sudah di mulai.


“Itu karena kamu, baby. Dulu bahkan aku tidak pernah berpikir untuk menikah. Tetapi setelah merasaimu, aku jadi ketagihan.” Tukas Edward, ia kembali menatap sekilas sang istri, kemudian melajukan mobilnya.


“Pulang dari sini, kita beli seragam SMA ya. Aku ingin melihatmu tak berdaya dengan pakaian itu.” Imbuh pria itu lagi.


Laura menelan ludahnya kasar. Dengan perlahan ia menoleh ke arah sang suami.

__ADS_1


“P-papi. Apa papi berfantasi sel*ar itu?” Kepala menggeleng tak percaya. Ia membayangkan tergeletak di atas ranjang dengan seragam putih abu-abu. Membuatnya bergidik ngeri.


“Ya. Aku bahkan memiliki fantasi yang lain. Dan kita akan mewujudkannya satu persatu nanti.”


Pria itu menyeringai. Entah sejak kapan ia berubah menjadi pria tidak waras seperti itu.


****


Devano bersorak gembira. Mainan yang ia inginkan kini ada di tangannya. Ia memeluk Edward dan Laura secara bergantian. Sebagai ucapan terima kasihnya.


“Kamu senang?” Ucap Laura setelah mengurai pelukannya.


“Senang, mami.”


Wanita itu pun ikut tersenyum, melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang putra.


Laura kemudian memberikan oleh-oleh untuk sang mama mertua dan suadari iparnya. Kemudian mereka bertiga mengobrol ringan di ruang keluarga.


Edward yang kini menemani Devano merakit mainan yang ia belikan, tersenyum penuh haru ke arah ketiga wanita yang ia cintai.


Pria itu tidak menyangka, jika mama dan adiknya bisa menerima Laura dengan baik. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, jika Laura akan di tolak.


“Papa, ini bagaimana?” Devano menyerahkan satu bagian mainan yang sulit ia pasang.


Dengan penuh kasih, Edward membantu sang putra merakit mainnya kembali.


‘Terima kasih Tuhan. Semoga kebahagiaan ini selalu menyertai keluarga ku.’


Satu persatu ia mengisi piring yang tersedia di atas meja. Kemudian menyerahkan kepada anggota keluarganya.


Santap siang itu berjalan dengan tenang dan damai. Setelah selesai, Edward mengajak sang mama, Felisha dan Laura kembali ke ruang keluarga. Sementara, Devano bermain bersama pengasuhnya.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”


Sang kepala keluarga membuka pembicaraan. Seorang asisten rumah datang menyela, meletakan cangkir-cangkir berisi teh hijau untuk para majikannya.


“Ada apa, Ed?” Tanya sang mama, setelah asisten rumah kembali ke belakang.


“Besok, kita pergi ke rumah pak Gunawan, untuk melamar Monica.” Edward berbicara pada intinya. Ia tidak suka terlalu berkelit.


“Benarkah? Apa Johan sudah siap menikah?” Kini sang saudari kembar yang melontarkan pertanyaan.


“Aku pernah berjanji padanya, setelah aku menikahi Laura, Johan boleh menikahi Monica.” Edward berujar sembari menatap sang istri yang duduk tak jauh darinya.


Laura berpura-pura tidak melihat, ia meraih cangkir teh di depannya. Kemudian sedikit menyeruputnya.


“Baiklah, besok kita kesana. Mama akan memberitahu Indra, supaya dia membelikan perhiasan yang seperti waktu mama melamar Laura.”


Deretan kalimat yang keluar dari bibir mertuanya, seketika membuat Laura tersedak. Padahal teh yang ia minum telah melewati kerongkongan sejak tadi.


“Pelan-pelan, baby.” Edward menyerahkan selembar tissue kepada wanita muda itu.


Laura menipiskan bibirnya. Kemudian ia menatap sang mertua.

__ADS_1


“Apa mama memberikan perhiasan kepada ibu Maria?”


“Ah, itu hanya buah tangan. Tidak enak rasanya berkunjung ke rumah calon besan, tidak membawa apa-apa. Apalagi, waktu itu tujuan mama kesana untuk melamar kamu.” Nyonya Hugo memberi penjelasan kepada menantunya.


Laura akhirnya mengangguk patuh.


“Jam berapa kita kesana, Ed?” Tanya Felisha lagi.


“Di jam makan siang. Aku sudah membicarakan ini dengan Johan.”


Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia kembali menatap sang istri.


“Baby., kamu mau kita ke panti sekarang? Atau kamu mau istirahat dulu?”


Laura menoleh pada sang suami.


“Apa boleh sekarang?” Tanyanya polos.


“Tentu. Ajak juga putramu. Dia pasti senang bertemu teman-temannya.”


“Ya. Ed benar. Anak itu dari kemarin tidak berhenti mengoceh. Aku akan memanggilnya. Kalian tunggu sebentar.”


Felisha bergegas memanggil sang putra.


“Mama mau ikut?” Tanya Laura pada mertuanya.


“Ah tidak. Mama mau ke rumah Indra. Supaya dia langsung membeli buah tangan sekarang, setelah itu mama mau pergi ke spa, bersama istrinya Indra. Kalian pergi saja, nikmati waktu kalian bertiga. Felisha juga pasti butuh istirahat.”


Laura mengangguk paham. Ia senang bisa diterima di keluarga sang suami. Wanita muda itu seperti memiliki keluarga baru.


Keluarga yang menyayanginya.


‘Terima kasih Tuhan. Telah memberiku keluarga yang sangat menyayangiku.’


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Terima kasih banyak ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2