
Waktu berlalu, hari terasa berganti dengan cepat. Kini akhir pekan telah kembali menyapa.
Hubungan Laura dan Edward juga berjalan dengan baik, semakin hari pria itu semakin menunjukkan rasa cintanya kepada Laura.
Edward sangat memanjakan gadis itu. Apa saja yang Laura inginkan, pria itu selalu bisa memenuhinya.
Bahkan, saat gadis itu hanya melihat sesuatu, tanpa mengatakan jika ia menyukainya. Benda itu sudah berada di hadapannya.
Seperti halnya dua hari lalu, saat gadis itu melihat-lihat koleksi ransel di sebuah toko online di ponselnya, kemarin tas punggung itu sudah tiba penthouse itu.
“Baby, aku akan ikut ke panti bersama mu.”
Ucap Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan sigap Laura mengambilkan pakaian yang akan di pakai pria itu.
“Kamu tidak pulang ke rumah mama mu?” Tanya gadis itu sembari menyerahkan sebuah celana jeans hitam kepada Edward.
“Rumahku sebenarnya berdekatan dengan panti mu. Kira-kira 20 menitan.” Ucap pria itu sambil mengenakan celananya.
Laura mengerutkan alisnya. Jika mereka berdekatan, kenapa Laura tidak pernah mendengar tentang keluarga Hugo di sekitar situ.
“Kenapa diam?”
“Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang keluarga Hugo disana?” Tanya gadis itu.
Edward tersenyum. Ia mengambil baju kaos yang di pilih sang gadis lalu memakainya.
“Semenjak kepergian papa, kakekku sengaja menutup semua informasi tentang keluargaku. Kamu hanya akan melihat wajahku saja di internet jika mengetik tentang Hugo.” Jelas pria itu.
Laura menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia pernah mencari tau tentang keluarga Hugo di internet, memang ia hanya menemukan gambar Edward saja.
‘Pasti keluarganya tinggal di perumahan elit, pantas saja aku tidak pernah mendengarnya. Mana ada orang seperti ku yang berani masuk kawasan mereka.’
“Apa pak Johan masih belum kembali?” Tanya gadis itu disela merapikan tas yang akan ia bawa ke panti.
Pergerakan Edward yang sedang mematut diri di hadapan cermin terhenti. Gadisnya selalu saja ingat menanyakan tentang Johan.
“Kenapa? Bukannya kemarin-kemarin dia kesini?”
“Iya, tetapi dia pergi lagi. Apa dia tinggal di unit lain? Tidak mungkinkan pak Jo tinggal begitu lama di rumah mbak Monica?”
Edward mendekat ke arah Laura, entah kenapa hatinya menjadi panas mendengar gadis itu begitu memikirkan asistennya.
Pria itu meraup kedua pipi Laura, ia lantas menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.
Mata Laura membulat, ia merasakan sentuhan yang di berikan pria itu tidak selembut biasanya. Dengan berani gadis itu mengusap kepala Edward. Berharap bisa menenangkan pria dewasa itu.
“Apa kamu begitu memikirkan Johan?” Ucap Edward setelah melepaskan pagutannya.
Laura mengangguk, tidak di pungkiri ia merasa kehilangan saat Johan tidak ada disana. Mereka sudah terbiasa berbagi cerita.
__ADS_1
“Aku hanya merindukan saat-saat mengobrol dengan pak Jo.” Ucap gadis itu.
Edward kembali tersulut mendengar apa yang Laura katakan. Beraninya gadis itu merindukan pria lain, dan mengatakannya pada Edward.
“Ed…mmppttt… sa—mmpptt kit, Ed.” Laura memukul dada pria itu. Dan tautan mereka pun terlepas.
“Jangan berani-berani lagi kamu mengatakan hal itu kepadaku, Laura. Atau aku akan menghabisi mu sampai tak bersisa.”
Laura menelan ludahnya kasar. Ia tidak menyangka Edward akan semarah ini, hanya karena ia merindukan kehadiran Johan di penthousenya.
“Aku beritahu kamu. Jo sekarang tinggal di unit lain di gedung ini. Aku hanya ingin bebas berduaan dengan mu dimana saja, tanpa menganggu dan di ganggu orang lain. Kamu mengerti?”
Laura hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ingin bertanya di lantai berapa Johan tinggal, ia juga tidak berani. Macan ini sedang dalam mode memanas. Jangan sampai berubah semakin buas dan mengamuk.
******
“Apa hari ini Ed akan datang?” Tanya nyonya Hugo kepada Felisha. Mereka kini tengah menikmati sarapan berdua karena Devano sudah pergi untuk mengikuti kelas bela dirinya.
“Tidak, ma. Kemarin dia mengabariku, katanya hari ini ada pekerjaan penting.” Sahut Felisha sembari menggigit ujung roti isinya.
“Pekerjaan penting apa? Ini akhir pekan. Apa dia pergi ke Bali?”
Felisha menggeleng, ia tidak mungkin mengatakan pada sang mama, jika Edward hari ini menemani Laura pergi ke panti.
Bagaimana pun juga, nyonya Hugo belum tau tentang Laura. Felisha juga tidak berhak memberitahu sang mama, karena itu urusan pribadi saudara kembarnya.
“Apa dia pergi bersama gadis itu?” Tanya nyonya Hugo lagi.
“Pelan-pelan, Fel.”
Felisha hanya mengangguk, ia tersentak. Bagaimana mamanya tau tentang gadis Edward.
“Mak-maksud pertanyaan mama tadi apa?” Tanya Felisha dengan terbata.
“Mama tidak sengaja mendengar obrolan kalian beberapa hari lalu di balkon atas.”
Deg…
Felisha merasa hawa di sekitarnya menjadi panas.
“Ma..”
Saudari kembar Edward itu menghela nafasnya pelan. Ia harus tau, apa saja yang telah di dengar sang mama malam itu.
“Ma, apa yang telah mama dengar?” Tanya Felisha dengan berani.
Nyonya Hugo menghela nafasnya. Ia meletakan alat makannya. Meminum sedikit air sebelum ia kembali berbicara.
“Mama tidak mendengar banyak. Yang mama dengar, gadis itu pergi setelah kamu datang ke penthouse Edward.”
__ADS_1
“Ma—,”
“Fel, bukankah kamu sudah tau, mama berniat menjodohkan kakakmu dengan anak teman mama. Dia gadis yang baik, berpendidikan dan pekerja keras. Dia seperti Edward, mama yakin mereka akan cocok.” Nyonya Hugo menyela ucapan putrinya.
“Tapi, ma. Ed sudah dewasa. Ia berhak menentukan jalan hidupnya. Selama ini dia sudah banyak mengalah untukku, ma. Mana mungkin sekarang kita—,”
Nyonya Hugo mengangkat satu tangannya, tanda ia menghentikan ucapan Felisha.
“Keputusan mama sudah bulat, Fel. Mama akan mengenalkan Ed dengan gadis pilihan mama. Gadis yang asal usulnya jelas. Bukan gadis sembarangan yang begitu saja mau tinggal dirumah seorang pria.”
Felisha tidak menyangka sang mama akan seperti ini. Memang sudah sejak lama, nyonya Hugo mengatakan akan menjodohkan Edward dengan anak temannya. Tetapi Felisha sendiri belum pernah bertemu dengan teman mamanya itu.
“Ma, gadis pilihan Ed juga baik ma. Dia tinggal disana karena bekerja dengan Ed.”
Nyonya Hugo hanya mencebikan bibirnya. Ia sudah memiliki pilihan untuk anak-anaknya.
“Pokoknya mama akan tetap mengenalkan Ed dengan gadis pilihan mama. Kalian itu hidup mama, mengertilah.”
Nenek dari Devano itu menghela nafasnya pelan.
“Mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Di sisa hidup mama, mama hanya ingin memastikan kalian berbahagia. Agar mama bisa pergi dengan tenang nanti.”
“Ma.” Felisha menggelengkan kepalanya. Ia bangkit dari kursi yang ia tempati dan menghambur memeluk sang mama.
“Mama jangan berkata seperti itu. Mama tidak akan secepat papa dan David pergi, mama akan pergi setelah mama pikun dan kulit mama mengengkerut.”
Nyonya Hugo mengusap lengan sang putri yang sedang mendekapnya. Ia sangat menyayangi anak-anaknya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan putra-putrinya.
.
.
.
T. B. C
Up berikutnya di perkirakan hari Jumat ya, Genks.
Selamat berlibur.
Selamat merayakan hari raya Nyepi bagi Teman Readers yang merayakan 🙏❤️
Jangan lupa ritual
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Gift
TerimaGaji ❤️❤️