TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 41. Maafkan Aku, Sayang!


__ADS_3

Setelah perjalanan menuju puncak di atas tempat tidur, sepasang manusia tanpa status itu melakukan perjalanan kedua kalinya di kamar mandi.


Setelah hampir satu jam berada di kamar mandi, Edward membawa tubuh Laura berbaring di sofa bed yang ada di balkon kamar. Bahkan mereka hanya menggunakan bathrobe saja.


“Aku sangat merindukan mu, Ara.”


Pria dewasa itu mengecup ubun-ubun gadis yang ada di dekapnya.


Laura hanya diam, gadis itu mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar Edward. Ia tidak ingin membalas ucapan pria itu. Meski ia juga merasakan hal yang sama.


“Katanya kamu pulang sebelum makan malam, kenapa sudah di rumah siang hari?” Tanya gadis itu.


“Bukannya ini memang belum waktunya makan malam? Jadi aku tidak membohongi mu, kan?” Pria itu juga mengeratkan pelukannya.


“Lalu kamu, apa kamu begitu ingin aku habisi, sampai-sampai kamu pulang begitu cepat?” Edward juga ikut bertanya.


Laura menggeleng dalam dekapan pria itu.


“Aku teringat jika kamar ini belum di bereskan saat kita tinggal kemarin. Jadi aku ingin sampai lebih dulu, agar aku bisa membersihkannya.” Jawab gadis itu jujur.


“Tetapi kamu malah sampai lebih dulu.” Gerutunya lagi.


“Tidak masalah aku suka tempatnya berantakan begitu, apalagi masih ada jejak, sisa-sisa perjalanan kita.” Pria itu terkekeh.


Ia memang sempat kesal karena mendapati kamarnya masih berantakan tadi, tetapi seketika rasa kesalnya menguap saat melihat sprei putih itu berisi jejak perjalanan menuju puncaknya dengan Laura.


Sungguh ia memang sudah tidak waras, hanya karena seorang gadis yang bernama Laura Anastasia.


“Sudah, Ed. Aku mau masak makan malam.” Laura berusaha melepas dekapan Edward, tetapi pria itu malah semakin mendekapnya erat.


“Tidak perlu, kita makan di luar saja nanti.”


Gadis itu mendongak, ia masih menerka apa yang pria dewasa itu ucapkan.


“Makan di luar?” Ulangnya.


“Hmm.”


******


“Sayang, kamu pulang jam berapa?” Tanya Monica kepada sang kekasih, yang kini membantunya membuat makan malam di rumahnya.


“Apa kamu mengusirku?” Tanya asisten Edward itu.


Gadis itu menggeleng kencang.


“Bukan begitu, sayang. Kamu sudah disini dari kemarin. Apa bos tidak membutuhkanmu?”


“Bos sudah ada pawangnya. Dia sudah tidak terlalu membutuhkanku.”


Johan menghentikan kegiatannya memotong sayuran.


“Kamu tau, sayang? Satu persatu tugasku di penthouse berkurang, semenjak adanya nona Laura disana.” Ucap pria itu.


“Hmm..apa itu artinya kita akan segera menikah, sayang?” Tanya gadis itu berbinar.


Pria berusia 30 tahun itu menggelengkan kepalanya. Ia mematikan kompor yang ada di hadapan sang kekasih, lalu meraih jemari gadis itu.


“Maafkan aku sayang, untuk hal itu kita harus menunggu bos menikahi nona Laura terlebih dulu, baru kita boleh menikah.” Ia lalu mengecup jemari kekasihnya itu.


Bahu Monica seketika merosot, binar matanya melemah. Ia sudah berusia 26 tahun. Hubungannya dan Johan sudah berjalan 2 tahun. Dan orang tuanya juga sudah merestui. Kenapa harus ada penghalang lagi?


“Haruskah?” Ucap gadis itu lirih.

__ADS_1


“Maafkan aku sayang. Sekarang hanya dia orang terdekat ku, dia sudah menganggap ku seperti adiknya. Aku banyak hutang budi dengannya.” Johan mendekap tubuh sang kekasih. Ia tau, apa yang dirasakan gadis itu. Setiap wanita pasti menginginkan kepastian akan hubungan yang mereka jalani.


Monica mengangguk dalam dekapan Johan, ia harus bersabar lagi menunggu waktu, kapan ia akan menjadi istri dari pria yang begitu ia cintai.


‘Tolong bersabar sebentar lagi, sayang.’ Johan mengecup kepala kekasihnya.


******


Laura kini mematut dirinya di depan cermin meja rias, ia menggunakan gaun malam berwarna hitam, berlengan pendek dan panjangnya hanya sampai lutut.


Ia memoles tipis wajahnya. Dan membiarkan rambut sebahunya terurai.


“Kamu cantik sekali, baby.” Edward mendekap gadis itu dari belakang.


“Terimakasih, Ed. Tapi jangan sekarang. Aku sudah lapar.” Sanggah gadis itu saat Edward mulai mengecupi bahunya yang sedikit terbuka.


“Tentu baby, hari ini aku sudah menggempur mu dua kali. Itu saja sudah cukup untukku,”


Ucapan Edward membuat wajah Laura menjadi panas. Gadis itu pun sedikit menyunggingkan bibirnya.


Pria itu membalik tubuh Laura, dengan sigap gadis itu merapikan penampilan sang pria.


Sebuah kecupan hangat ia labuhkan di kening gadisnya.


‘Entah hubungan apa yang sedang kita jalani saat ini, Ed?’


Laura hanya berani bertanya dalam hatinya. Ia tidak berani bertanya langsung. Gadis itu takut jika Edward menganggapnya gadis yang tidak tau diri. Pria itu sudah memberinya banyak, tidak sepantasnya ia menuntut lebih.


“Ayo kita berangkat, bukannya kamu sudah lapar?” Ucap pria itu yang membuat ia tersadar dari lamunannya.


Edward mengajak Laura ke restoran mewah, tempat dimana pertama kalinya ia mengajak Laura makan siang.


Bukannya tidak tau tempat lain, hanya saja pria dewasa itu memang sudah nyanan di restoran itu.


“Berikan kami makanan special today yang kalian punya.” Perintah Edward saat sang pramusaji akan menyerahkan buku menu.


Laura mencebikan bibirnya. Lalu mendudukkan bo*kongnya di kursi yang tersedia.


“Kenapa?” Tanya Edward melihat bibir gadis itu.


“Selalu saja begitu.” Sahut gadis itu.


“Berikan kami makanan special today yang kalian punya.” Ucapnya menirukan ucapan Edward.


Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadis itu.


“Memangnya ada yang salah, baby?” Tanyanya.


“Tidakkah kamu ada alergi makanan tertentu? Kenapa sembarangan meminta makanan tanpa tau apa saja bahan-bahannya?” Laura balik bertanya panjang lebar pada pria dewasa itu.


“Aku tidak ada alergi makanan apapun, baby. Perutku bukan perut pemilih. Apapun pasti bisa di terima oleh perutku.” Edward menyunggingkan senyuman di akhir ucapannya.


“Sekalipun itu racun?”


“Ayolah, baby. Aku bukan dewa, jika kamu memberikan aku racun, tentu aku akan mati.” Sahut pria itu.


Edward meraih tangan gadisnya. “Tetapi, aku tidak masalah, jika kamu yang meracuni ku, baby.” Ia mengedipkan mata genitnya kepada Laura. Hal itu justru membuat Laura merona. Gadis itu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


Tak berselang lama, makanan yang di minta Edward pun tiba. Mereka makan dengan tenang. Sesekali mereka terlihat saling menyuapi.


Untung saja, ruangan VIP itu hanya terdapat satu meja. Jadi tidak ada orang lain disana yang melihat mereka. Jika ada, orang lain mungkin akan mengira mereka sepasang kekasih atau suami istri.


“Permisi tuan, nyonya.” Pramusaji tadi datang menyela obrolan Laura dan Edward setelah mereka selesai menyantap makanannya.

__ADS_1


“Kami memberikan white wine secara gratis kepada kalian, sebagai ungkapan terimkasih, karena telah menjadi pelanggan setia kami.”


Pramusaji itu meletakan satu botol white wine dan dua gelas bertangkai, di hadapan kedua tamunya.


“Terimkasih, mbak.” Ucap Laura tulus.


Pramusaji itu pun meninggalkan ruangan itu.


Laura dengan sigap menuangkan ke dalam gelas yang ada di hadapan Edward. Lalu ia juga menuangkan ke dalam gelas di hadapannya.


“Kamu bisa minum, baby?” Tanya Edward dengan alis yang hampir menyatu.


“Tentu.” Gadis itu meminum sedikit anggurnya.


“Kamu mau tau sebuah rahasia kenakalan ku?” Tanya Laura kepada Edward.


“Apa?”


“Aku biasanya jadi joki minum bir atau anggur untuk Melani.” Ucap gadis itu terkekeh.


Pria dewasa itu membulatkan matanya, ia hampir saja tersedak mendengar ucapan gadis itu.


“Jadi joki, siapa Melani?” Tanya Edward tidak percaya.


“Ya, Melani sahabat baikku, dia tidak kuat minum. Jadi saat kami ada acara dengan teman-teman, dan ada minuman kerasnya, Melani pasti meminta aku yang menggantikannya.” Jawab gadis itu panjang lebar.


“Kamu tidak mabuk?”


Laura menggelengkan kepalanya. “Biasanya aku akan mabuk jika meminum 6 botol bir besar. Atau 2 botol anggur seperti ini.”


“Apa kamu sering melakukan itu?” Edward seperti mengintrogasi seorang tahanan.


“Tidak sering, tuan Hugo. Hanya di hari-hari tertentu, seperti pesta setelah ujian, ulang tahun teman, tahun baru.” Jawab gadis itu.


“Setelah ini, jangan lakukan itu lagi, baby.” Pria itu mendekat ke arah Laura.


“Ingat baby, kamu itu milikku sekarang. Apapun yang kamu lakukan dengan tubuhmu, harus atas ijinku.” Edward seketika menyatukan bibirnya dengan bibir tipis Laura.


Bayangan tentang gadis itu minum, minuman keras bersama teman-temannya terlintas di benak pria itu.


“Kamu milikku, Ara. Hanya milikku.”


.


.


.


T. B.C


Terimakasih untuk teman Readers yang sudah setia mendukungku.


*I Love you… Sampai puncak pokoknya **❤️❤️*


Jangan lupa


Like


Komen


Gift atau vote nya


TerimaGaji ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2