TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 59. Aku Kekasih Kakakmu!


__ADS_3

Malam harinya Laura menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar hotel tempatnya menginap.


Hari ini, tak satupun panggilan masuk ke ponselnya, baik itu dari Edward maupun Johan.


Gadis itu mencebikan bibirnya, ternyata dia memang hanyalah orang ketiga, yang kehadirannya tidak begitu penting.


Dengan berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan, gadis itu sesekali membeli jajanan yang ia jumpai di pinggir jalan.


“Ah ternyata berpetualang seenak ini.”


Puas menikmati jajanan ringan, Laura kini mencari penjual makanan berat sebelum ia kembali ke hotel untuk beristirahat.


Ia pun menemukan penjual makanan khas kota itu. Laura memilih makanan yang ada nasi, sayur dan ikan.


Setelah puas menikmati makan malamnya, Laura kembali berjalan menuju tempat ia menginap.


Sesampainya di kamar hotel, ponsel gadis itu kembali berdering.


Kini ia tidak berharap lagi siapa yang menghubunginya.


Terlihat nama ibu Maria di layar ponselnya, gadis itu pun bergegas mengangkat panggilan itu.


“Hallo, Bu. Selamat malam.” Ucap gadis itu menyapa ibu Maria.


“Selamat malam, nak? Kamu apa kabar?”


“Aku baik, Bu. Panti bagaimana? Amankan?” Tanya Laura sambil terkekeh.


“Semuanya aman, nak. Kamu dimana sekarang? Apa dirumah majikanmu?”


Deg..


Laura tersentak mendengar pertanyaan ibu Maria, ia kini sedang berada di luar kota. Haruskah ia berkata jujur pada ibunya sekarang? Sudah banyak kebohongan yang ia ucapkan selama ini.


“Bu, aku sedang berada di luar kota. Ada tugas kuliah yang mengharuskan aku pergi.” Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia ingin berbicara jujur, tetapi sangat sulit kejujuran itu terucap.


‘Maafkan aku, Bu.’ Ucapnya dalam batin.


“Kamu pergi sendiri? Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik.”


“Iya, Bu. Aku pasti akan menjaga diriku dengan baik.”


“Oh ya, nanti jika kamu bertemu dengan majikanmu. Tolong sampaikan rasa terimakasih ibu padanya. Dia mengirim banyak sekali barang-barang kemari.” Nada bicara ibu Maria terdengar bahagia.


Laura mengerenyitkan alisnya.


‘Ed mengirim banyak barang-barang?’


“Mak-maksud ibu?”


“Ini, ada yang datang membawa barang-barang untuk adik-adikmu. Katanya dari tuan Edward, majikanmu.”


“A-apa?”


“Ada pakaian, mainan, alat-alat tulis. Ada juga makanan. Dia sangat baik ya, nak.”


‘Andai ibu tau yang sebenarnya.’


“I-iya, Bu. Nanti aku akan mengucapkan terimakasih padanya.”


“Ya sudah, ini sudah malam. Kamu istirahat ya. Ibu mau membereskan barang-barang ini dulu.” Ucap ibu Maria lagi.

__ADS_1


“Iya, Bu. Sampaikan salamku pada yang lainnya.”


Panggilan pun berakhir. Laura membuang nafasnya kasar.


Ia tidak tau apa maksud dari Edward mengirim banyak barang-barang ke panti asuhannya. Apa itu untuk memancingnya supaya pulang?


“Tidak, aku tidak akan semudah itu untuk pulang.” Kepala gadis itu menggeleng.


“Biarkan saja dia mengirim banyak barang terus menerus, toh uang dia banyak. Tidak akan habis jika untuk membelikan anak-anak di panti.” Bibirnya menyeringai jahat.


Ia melempar ponselnya sembarangan di atas ranjang. Dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Arghh.. Edward Hugo.. apa sebenarnya mau mu?” Teriak Laura di bawah kucuran air di dalam kamar mandi.


******


Sementara itu, di panti asuhan. Edward mendengar semua percakapan telepon yang di lakukan ibu Maria dan Laura.


Pria itulah yang meminta ibu Maria menghubungi Laura dan mengatakan semuanya.


Namun gadis itu memang pintar, ia mengatakan dirinya berada di luar kota, tetapi tidak menyebut dimana tepatnya ia berada.


Tetapi, meski begitu. Edward sudah tau dimana gadis nakalnya berada, dari laporan yang di berikan oleh sang asisten.


“Anak-anak, ucapkan terimakasih pada tuan Edward untuk hadiah-hadiahnya.” Ucap bibi Lily. Kini mereka tengah membagikan barang-barang yang Edward belikan.


“Bi, jangan memanggilku tuan. Minta anak-anak memanggilku kakak, lagi pula nanti aku akan menjadi kakak ipar mereka.” Ucap Edward percaya diri. Ia seolah lupa akan usianya. Meminta anak-anak panti memanggilnya kakak.


“Ah baiklah.” Bibi Lily mengulum bibirnya. Hampir saja ia tertawa mendengar apa yang pria itu katakan.


“Anak-anak, ucapkan terimakasih pada kakak Edward.” Ulangnya lagi.


“Terimakasih, kak Edward.” Ucap 30 orang anak dengan serempak.


Edward pun permisi meninggalkan ibu Maria dan juga bibi Lily. Ia ingin mengecek beberapa pekerjaan yang di kirim Monica melalui e-Mail.


Pria itu pun berjalan menuju ke arah kamar Laura.


“Tunggu. Kenapa bapak masuk kamar kak Lala?” Seru seorang remaja laki-laki.


Edward berbalik, melihat ke arah sumber suara. Ia menatap remaja itu dengan sebuah senyuman.


‘Dia memanggilku bapak?’


“Aku menginap disini, anak muda. Sebelumnya, perkenalkan namaku Edward. Kamu bisa memanggilku kak Ed.” Ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya.


“Aku Leo. Adiknya kak Lala.” Leo menyambut uluran tangan itu.


“Tetapi, kenapa kak Ed tidur di kamar kak Lala? Itu kamar perempuan.” Sambungnya lagi. Remaja itu tanpa sengaja melihat tamunya berjalan keluar, dan menuju ke arah kamar sang kakak.


Edward menyunggingkan bibirnya. Ternyata remaja ini begitu penasaraan menurutnya.


“Aku kekasih kakakmu.” Ucap Edward.


Leo menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan apa yang pria dewasa ini ucapkan.


“Kak Ed pasti berbohong. Aku tau kak Ed sudah punya keluarga.” Sanggah Leo


“Maksudmu?”


“Beberapa hari yang lalu, aku melihat kak Ed bersama anak dan istri di sebuah tempat makan di pusat perbelanjaan.”

__ADS_1


Deg…


Edward terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Leo. Tiba-tiba ia teringat kembali dengan apa yang ia dengar waktu itu.


‘Kak Lala..’


“Leo dengan siapa kamu pergi kesana?” Tanya Edward.


“Dengan kak Lala lah, aku yakin kak Lala juga melihat mu dengan keluargamu itu.” Ucap Leo. Remaja itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Kamu yakin Laura melihatku?” Tanya Edward.


“Iya, tadinya kita mau makan disana, lalu aku meninggalkan kak Lala di depan pintu masuk tempat itu, untuk membeli minuman. Tetapi saat aku kembali, kak Lala menarik tanganku, dan mengajak aku pulang.” Ucap Leo panjang lebar.


Deg…


‘Baby, jadi kamu melihat ku disana dengan Devano dan Felisha?’


Edward kembali teringat, saat itu Devano sempat memanggilnya papa.


‘Baby, apa kamu mendengarnya? Kamu salah paham. Pasti kamu menghubungkan semua yang kamu lihat dan kamu dengar. Karena itu kamu meninggalkan aku.’


Edward memejamkan matanya.


“Kenapa, kak Ed? Apa aku salah bicara?” Tanya Leo yang melihat perubahan wajah pria dewasa itu.


“Tidak Leo. Terimakasih. Karena kamu sudah memberitahu tentang ini padaku.” Edward menepuk pundak remaja itu.


“Percayalah. Aku kekasih kakakmu. Aku bukan pria beristri.” Jelasnya.


Leo menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau ambil pusing. Menurutnya menjadi orang dewasa terlalu rumit.


Sampai saat ini, Leo bahkan belum tau jika ia bukanlah adik kandung Laura. Yang ia tau, orang tua Laura adalah orang tuanya juga. Begitu pula dengan ibu Maria dan bibi Lily, mereka tidak pernah membahas tentang orang tua Leo.


.


.


.


T. B. C


————


Di pertemukan Laura dan Edwardnya, apa enggak nih?!


Atau kita pisahkan mereka sampai 5 tahun ??!!


🤔🤔🤔


Terimakasih untuk semua dukungannya. ❤️


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift


I LOVE YOU TILL THE END

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2