TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 88. Papa Jahat!


__ADS_3

Dengan langkah lebarnya Edward menapaki tangga rumah sang mama. Hatinya kini berkecamuk. Ia bisa menduga jika Devano pasti kecewa padanya.


Edward tidak memperkirakan semua ini akan terjadi. Ia terlalu larut dalam rasa bahagia karena akan menikahi wanita pujaannya. Sampai ia lupa, sebelum menikahi Laura, pria itu harusnya memberitahu Devano yang sebenarnya.


Jantung Edward berdetak kencang, bahkan lebih kencang dari tadi pagi. Ia tidak siap melihat wajah murung sang putra.


Mungkin selama 8 tahun ke belakang, hari ini untuk pertama kalinya Devano marah padanya.


“Dev, maafkan papa.” Ia berucap lirih. Kini pria itu tengah berdiri di depan pintu. Tangannya telah menggenggam gagang pintu, dan siap membukanya. Namun perasaan takut membelenggunya.


Edward menarik dan membuang nafasnya kasar. Ia kemudian memberanikan diri membuka pintu kamar yang di tempati Felisha dan Devano.


Di tengah ruangan luas itu, di atas sebuah ranjang berukuran besar. Felisha sedang duduk di tepian ranjang, membujuk sang putra yang sedang tidur membelakanginya.


Hati Edward mencelos melihat pemandangan itu. Pasti Devano merasakan kekecewaan yang teramat besar saat ini.


Perlahan, Edward mendekat ke arah ranjang. Suara langkah kakinya, membuat Felisha menoleh. Wajah saudari kembarnya itu nampak putus asa.


“Hai, boy..?” Edward berseru. Ia tidak tau harus memulai darimana. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara.


“Ayo kita makan malam. Papa yang akan menyuapimu.” Lanjutnya lagi.


“Untuk apa papa datang kesini? Bukannya papa sudah punya istri baru?” Nada suara Devano terdengar dingin, bocah itu bahkan tidak menoleh ke arah sang papa.


“Dev..” sang mama berseru. Setelah setengah hari, akhirnya bocah itu mengeluarkan suaranya.


“Bangun, nak. Ayo kita bicara. Di sini sudah ada papa. Devano mau bertanya, mau marah, ayo. Jangan diam terus, sayang. Mama tidak bisa melihat Devan seperti ini.”


Nada suara Felisha bergetar, tangis yang sedari tadi siang ia tahan, kini keluar sudah. Ia hanya wanita lemah. Melihat anaknya diam tanpa sebab, membuatnya putus asa.


“Devano marah sama papa? Katakan, boy. Papa siap mendengarkan.” Edward berseru. Ia memutari ranjang, berjongkok di depan sang putra yang sedang merajuk.


“Katakan, boy. Kamu kenapa? Apa tidak kasihan melihat mama menangis?” Edward mengelus kepala bocah itu.


“Papa jahat. Papa jahat.” Devano menepis tangan sang papa. Ia kemudian duduk bersila di atas ranjang.


“Papa jahat. Papa menyakiti mama. Papa menikah lagi. Aku tidak mau punya mama baru.”


Anak itu memukul-mukul sisi ranjang di sebelah kanannya. Ia meluapkan segala amarah yang ia pendam sejak siang.


Ia tidak mau punya ibu tiri. Karena menurut cerita dongeng, seorang ibu tiri itu ibu yang jahat. Devano tidak mau di siksa oleh ibu tirinya.


“Papa jahat!” Teriaknya lagi.


“Iya, sayang. Papa jahat. Devan mau marah, ayo marahi papa. Tetapi Devan jangan mendiami mama. Kasian mama, boy.” Air mata Edward pun ikut menggenang.


Pria itu kemudian duduk di depan Devano dengan melipat satu kakinya.


“Boy, dengarkan papa. Papa minta maaf karena tidak meminta ijin terlebih dulu denganmu. Tetapi, percayalah. Papa sangat menyayangimu.” Edward meraih tangan Devano, untuk ia genggam.


“Papa tidak menyayangiku. Kalau papa sayang, papa tidak akan menikah lagi.” Devano tidak pernah tau, jika pria dewasa di depannya ini, belum pernah menikah sebelumnya.


“Aku tidak mau punya ibu tiri, papa. Ibu tiri itu jahat. Aku tidak mau di siksa.”


Felisha tersentak mendengar ucapan sang putra. Bocah berusia 8 tahun itu, berpikir terlalu jauh.


“Sayang, kamu tidak mempunyai ibu tiri.” Felisha memberitahu sang putra. Ternyata hal itulah yang membuat sang putra merajuk dari tadi siang.

__ADS_1


“Istri papa yang baru itu ibu tiri, mama.” Seru bocah itu lagi.


Kepala Felisha menggeleng. Semua ini tidak akan serumit ini, jika ia memberitahu Devano sebelumnya.


“Boy, dia bukan ibu tiri mu, tetapi dia mami mu. Dengarkan papa.” Edward memegang kedua bahu sang putra. Membuat anak itu menatap wajahnya.


“Papa dan mama itu tidak menikah sayang. Dan tidak boleh menikah. Karena itu, sekarang papa menikah dengan mami. Jadi mami bukan ibu tiri Devano.”


Edward berusaha merangkai kata, untuk memberikan pengertian kepada sang putra.


“Kenapa papa tidak bisa menikah dengan mama?”


Edward menghela nafasnya berat. Mungkinkah ini saatnya ia menceritakan semuanya kepada sang putra?


Sungguh Edward tidak sanggup.


“Dev, papa dan mama. Kami bersaudara. Papa adalah kakak, dan mama adalah adik. Kami tidak boleh menikah.” Dengan hati-hati Edward menjelaskan.


“Lalu kenapa ada aku?”


Deg…


Edward tersentak. Ia menoleh ke arah saudari kembarnya. Wanita yang sedari tadi menangis tanpa suara itu, mengangguk memberi tanda persetujuan.


“Dev.. kamu ada karena mama dan ayahmu.”


“Lalu dimana ayah ku? Bukannya selama ini, papa adalah ayah ku?”


Edward menggeleng. Ia tidak sanggup bercerita. Devano masih sangat kecil untuk mengetahui semua ini.


“Tidak. Mama pasti bohong. Dia papaku. Kenapa mama bilang ada di surga? Kalian bohong. Kalian jahat.”


Edward meraih tubuh Devano, mendekapnya dengan sekuat tenaga. Karena bocah itu terus meronta.


“Sayang, maafkan papa.”


“Papa jahat.”


“Iya, sayang. Papa jahat.”


Kedua pria berbeda usia itu menangis. Menumpahkan segela rasa yang berkecamuk di dalam dada.


Felisha juga tidak kuasa melihat semua itu. Ia membuka laci nakas. Meraih sebuah bingkai foto dari dalamnya.


“Dev, lihat. Dia adalah ayah Devano.” Felisha menunjukkan bingkai itu. Di sana terlihat dirinya dan David sedang menggunakan pakaian pengantin, seperti Edward tadi pagi.


Devano melepaskan pelukan Edward. Ia melihat bingkai yang di pegang sang mama.


Mata bocah itu membulat. Melihat wajah pria pada bingkai itu. Begitu mirib dengan dirinya.


‘Ayah?’


Tangan Devano meraih bingkai itu. Ia memperhatikan dengan seksama gambar itu. Sang maama terlihat tersenyum dengan bahagia di foto itu. Begitu juga pria di sampingnya.


“Kenapa ayah ada surga, mama?” Devano bertanya dengan mata sembabnya.


“Tuhan sangat menyayangi ayahmu, Dev. Karena itu, Tuhan ingin ayah berada di surga bersamanya.” Wanita itu berusaha mencari kalimat yang mudah di pahami anaknya.

__ADS_1


“Kenapa aku tidak pernah bertemu ayah, ma? Apa ayah tidak menyayangi aku?”


Edward kembali mendekap tubuh sang putra. Ia kembali teringat pesan terakhir sang sahabat.


“Sayang, ayahmu sangat menyayangi mu. Tidak ada yang lebih menyayangi mu melebihi dirinya. Kamu percaya sama papa. Suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali bersama ayah dan kakek-kakek mu.” Edward berucap panjang lebar. Ia tidak mau menambah luka pada hati bocah kecil itu.


“Papa?”


“Iya, sayang?”


“Apa aku tetap boleh memiliki papa?”


“Tentu, sayang. Papa milikmu.”


“Lalu tante itu?” Devano melihat ke arah pintu. Disana nampak sang nenek dan istri papanya sedang menangis dan berpelukan.


“Mami, sayang. Mulai sekarang panggil dia mami.” Edward ikut melihat ke arah pandang sang putra.


“Jadi aku mempunyai dua ibu? Aku tidak mempunyai ibu tiri?”


“Iya, sayang. Kamu memiliki mama, dan juga memiliki mami. Kamu tidak memiliki ibu tiri.”


Edward mengujami kepala Devano dengan kecupan. Untuk saat ini, masalah bisa sedikit teratasi, ia akan menceritakan semuanya nanti saat Devano telah beranjak remaja.


“Mama.. apa aku boleh ke tempat ayah? Aku ingin berkenalan dengan ayah.” Bocah itu mengusap air yang keluar dari hidungnya.


Ia memang baru berusia 8 tahun, tetapi ia sudah mengerti maksud ucapan sang mama. Ayahnya berada di surga. Itu artinya sang ayah telah tiada.


“Tentu, sayang. Besok kita ke tempat ayah. Mama juga akan mengajak mu melihat foto-foto ayahmu. Ada di kamar yang lain. Dan itu masih banyak.” Felisha tersenyum di sela tangisnya.


“Kemarilah, Fel.” Tangan Edward terulur merengkuh bahu sang adik. Mereka bertiga berpelukan di atas ranjang.


“Aku menyayangi kalian.”


Di ambang pintu. Nyonya Hugo dan Laura juga berpelukan. Mereka mengikuti Edward menaiki tangga, dan menyaksikan semuanya.


Laura berjanji dalam hatinya, ia akan menyayangi Devano seperti menyayangi anak kandungnya sendiri.


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Terimakasih banyak-banyak ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2