TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 109. Edward Bercerita.


__ADS_3

Keesokan harinya, Edward memutuskan mengantar sang istri pergi ke kuliah. Pria itu juga ada urusan pekerjaan di kampusnya.


Laura enggan menolak, karena menolak pun percuma. Suaminya adalah pria teritoriter yang pernah ia temui selama 21 tahun ia hidup di dunia.


Untung saja, sang suami memberhentikan mobil yang mereka tumpangi di parkiran khusus petinggi, rektor dan juga dosen kampus. Jadi tidak akan ada mahasiswa yang melihatnya. Jika sampai ada, entah akan segempar apa gosip yang di beredar di tempat menuntut ilmu itu.


“Pulang nanti, mampir ke kantor ya. Aku ingin makan siang denganmu.”


Edward berucap, sembari melepaskan belitan sabuk pengaman di tubuhnya. Pria tampan itu menatap penuh cinta ke arah sang istri yang juga sedang melakukan hal yang sama.


“Iya, papi.” Jawab Laura setelah terbebas dari sabuk pengaman.


Edward meraih kepala wanita muda itu, melabuhkan sebuah kecupan hangat. Kemudian, di lanjutkan dengan mengecup singkat bibir tipis Laura. Salam perpisahan yang wajib mereka lakukan, walau dalam keadaan terburu-buru.


Mereka pun keluar dari mobil dan berpisah arah. Edward menuju gedung para petinggi, sementara Laura menuju gedung tempat para mahasiswa menuntut ilmu.


“La, katanya pagi ini ada seminar bisnis.” Melani berujar setelah mereka duduk di bangkunya masing-masing.


“Terus urusannya dengan aku apa?”


“Lah, bukannya yang ngisi seminar itu, suami kamu?” Melani berbisik, sambil mencondongkan wajahnya kedepan.


Seketika membuat Laura memutar kepalanya, menoleh ke arah Melani yang duduk di belakangnya.


“Kamu tahu dari mana, Mel?”


“Di depan ada banner nya, Oneng. Lewat mana sih tadi?”


“Lewat belakang, kan bareng dia tadi berangkatnya.” Dan Laura pun teringat sesuatu.


“Tunggu, jadi pekerjaan yang dia maksud itu, mengisi seminar di sini?”


Laura buru-buru bangkit, ia mengambil tasnya. Kebetulan dosen yang mengajar kelas pagi ini, tidak datang.


“Eh, Oneng. Mau kemana?” Melani ikut mengambil tasnya, dan mengejar sang sahabat.


“Mau kemana sih?” Tanyanya lagi setelah langkah mereka sejajar.


“Ke aula, ikut seminar.”


Melani terperangah mendengar ucapan sang sabahat. Sejak kapan sahabatnya itu suka mengikuti seminar? Ia pun bergegas mengikuti langkah kaki Laura.


Mereka sampai di depan aula. Benar saja, di depan tempat pertemuan itu berdiri sebuah banner yang menampakkan wajah tampan pemilik universitas swasta itu.

__ADS_1


“Kenapa aku sampai tidak tau?” Gumam Laura memandang gambar sang suami yang nampak gagah walau tanpa senyuman di wajahnya.


Laura pun memasuki ruangan besar itu, ia memilih duduk di bangku deretan paling depan. Ia ingin melihat dari dekat bagaimana penampilan sang suami saat sedang melakukan presentasi.


Hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya acara di mulai. Pembawa acara memperkenalkan satu persatu tokoh yang kan mengisi seminar itu.


Ada dua orang tokoh di atas panggung, satu orang pengusaha di bidang pertambangan, yang telah merintis kariernya mulai dari seorang pekerja tambang, hingga menjadi pengusaha sukses.


Dan satunya lagi, adalah Edward. Pengusaha muda, pemilik kampus itu.


Edward meminta mengisi acara lebih dulu, karena ia akan ada pertemuan dengan klien setelah ini.


Pria berusia 35 tahun itu memperkenalkan diri terlebih dulu. Setelah itu, ia bercerita tentang awal mula ia menjadi seorang pengusaha.


Memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar tidak pernah menyerah dalam memulai usahanya.


Sesekali terdengar riuh tepuk tangan para peserta seminar, di akhir kalimat yang suami dari Laura Anastasia itu ucapkan.


Hampir 30 menit Edward bercerita, ia memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk bertanya kepadanya.


Ada beberapa mahasiswa yang bertanya seputar bisnis, namun ada juga yang bertanya tentang masalah pribadi.


“Maaf, pak. Sedikit melenceng dari konteks pembicaraan. Saya penasaran, apa bapak sudah menikah atau masih sendiri?”


Edward menyeringai kecil, pandangan matanya tanpa sengaja beradu dengan sang istri.


“Aku sudah menikah.” Pria itu menunjukkan cincin yang melingkar indah di jari manis tangan kirinya.


Riuh sorak para mahasiswi pun menggema di ruangan luas itu. Mungkin dari tadi banyak yang penasaran dengan status pria tampan, yang memiliki banyak usaha itu.


“Wah.. siapa ya wanita beruntung yang menjadi pendamping hidup pak Edward?” Sang pembawa acara berceletuk. Pria kemayu itu ikut memanasi para mahasiswi.


“Siapa pun dia, sudah pasti wanita yang sangat cantik, sehingga mampu menarik hati seorang pengusaha sibuk seperti pak Edward ini.” Sang pengusaha tambang ikut menimpali.


Edward kembali menatap sang istri, namun yang di tatap justru memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak melihat pria tampan yang sedang menatapnya.


“Istriku mungkin tak secantik wanita kebanyakan, dia seorang gadis sederhana, pekerja keras, dan penyayang keluarga. Jujur, aku jatuh cinta padanya bukan karena wajah, tetapi karena sifatnya. Ia lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri.”


Sebuah senyuman terkembang di wajah tampan Edward, membuat para mahasiswi semakin terkesima.


“Dulu, bahkan sampai tiga bulan yang lalu, aku tidak pernah memikirkan tentang pernikahan. Bagiku, hidup dengan mama dan adikku saja sudah cukup. Tetapi, setelah bertemu dengan dia,— pandangan Edward terkunci pada sosok wanita muda yang kini menundukkan kepalanya.


“Aku justru ingin hidup dengannya seumur hidupku.”

__ADS_1


“Wah.. sepertinya, kisah perjalanan cinta pak Edward lebih menarik untuk kita simak ya, teman-teman. Dan dari ucapan pak Edward tadi, sepertinya beliau adalah pengantin baru?” Pembawa acara kembali bersuara.


“Ya..” Dan para mahasiswi pun bersorak.


“Baiklah, aku masih memiliki sedikit waktu untuk bercerita.” Edward melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Aku dan istriku, bertemu 3 yang bulan lalu tanpa sengaja. Setelah itu kami mulai dekat, dia gadis tangguh, namun di balik itu, dia hanya seorang gadis yang rapuh, karena telah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ke rumah Tuhan.”


Edward menghela nafasnya pelan.


“Hal itu lah yang membuatku jatuh cintanya padanya, aku ingin membahagiakan dia, memberikan cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Menjaga dan memanjakannya adalah janjiku kepada mendiang orang tuanya, meski aku belum pernah bertemu mereka.”


Para peserta seminar yang kebanyakan adalah mahasiswi, merasa terharu mendengar cerita cinta sang pemilik kampus.


“Maaf, pak. Apa kami boleh tau, siapa wanita beruntung itu?” Salah satu mahasiswi unjuk tangan, sembari melontarkan pertanyaan.


Pendengar pertanyaan itu, membuat kepala Laura kembali tegak. Dengan perasaan takut ia menatap sang suami, sembari menggeleng kecil. Berharap suaminya itu tidak mengungkap identitasnya.


Edward tersenyum penuh makna. Ia pun mengangguk kecil, menjawab gelengan kepala sang istri.


“Siapa pun dia, yang jelas akua sangat mencintainya. Aku sudah berjanji, tidak akan mengungkap identitasnya tanpa seijin darinya.”


“Wah.. ternyata pak Edward kita ini, bucin sekali ya, teman-teman.” Sang pria kemayu cekikikan sendiri.


“Ups.. saya hanya bercanda, pak.” Ucapnya lagi ke arah Edward. Namun pria itu tak menanggapi.


Edward pun menyudahi pembahasannya, kemudian menyerahkan waktu kepada pengusaha tambang.


Laura pun berdiri. Ia meninggalkan ruangan itu, tanpa memperdulikan sahabatnya yang masih tertinggal disana.


Wanita itu berlari menyusul sang suami ke tempat parkir khususnya.


“Papi.” Serunya saat mendapati Edward sedang membuka pintu mobil.


Edward menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum menyambut kedatangan sang istri yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.


“Aku juga sangat mencintai, papi.” Ucap Laura di dalam dekapan pri dewasa itu.


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2