
Beberapa hari berlalu, Leo masih belum menerima apa yang Laura ungkapkan. Hatinya belum bisa menerima jika dia bukan anak kandung dari Ayah Adi dan ibu Angelina.
Siang hari setelah bel pulang sekolah berbunyi, Leo memutuskan mengunjungi tempat peristirahatan kedua orang tuanya.
Sudah lama ia tak mengunjungi makam mereka. Biasanya Laura akan mengajaknya berkunjung di akhir pekan.
“Yah, Bu. Aku datang.” Remaja itu duduk di antara dua gundukan tanah, yang menyembunyikan ayah dan ibunya. Ia tidak perduli jika celananya kotor.
Leo meletakkan satu tangkai mawar, di atas makam sang ayah, dan satu tangkai lagi di atas makam sang ibu.
“Maaf, aku baru datang sekarang. Aku sibuk belajar, dan juga mengajari adik-adik.” Leo menghela nafasnya pelan.
“Kakak sudah menikah, apa dia sudah berkunjung kemari? Dia menikah dengan orang kaya, suaminya juga memperbaiki panti kita.”
Leo memandang bergantian batu nisan yang terbuat dari marmer itu.
“Yah, Bu? Apa benar aku bukan anak kandung kalian? Apa benar kak Lala bukan kakakku?”
Kedua manik mata remaja itu mulai mengembun. Ia memiliki sifat seperti Laura, mudah menangis jika menyangkut keluarganya.
“Aku berharap semua ini hanya lelucon. Kalian orang tua ku, kan? Aku tidak mau menjadi anak orang lain.” Tanpa di minta, air mata Leo pun turun dengan deras mengaliri pipinya.
Remaja itu menekuk kedua lututnya, sejajar dengan dada, kemudian ia memeluk dan menumpangkan kepalanya di atas lutut.
“Aku tidak mau menjadi anak orang lain. Aku anak kalian, aku adik kak Lala.” Gumamnya di sela tangisan yang kian tak terbendung.
Dengan posisi masih memeluk lutut, Leo kembali memandangi dua gundukan tanah itu secara bergantian.
Ia terbayang senyum sang ibu, wanita paruh baya yang selalu memberinya dekapan hangat, saat ia dalam kesedihan, namun ia tidak bisa mengingat tentang ayahnya. Ia hanya mengenali pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu dari bingkai-bingkai foto yang terpajang di panti.
“Yah, kata kak Lala, ayah yang melihatku pertama kali. Terima kasih, Yah. Ayah telah menyelamatkan hidupku. Jika bukan ayah, mungkin nasib ku tidak akan sebaik ini sekarang.” Leo kembali menegakan posisi duduknya, ia menurunkan lutut dan duduk bersila.
“Aku janji, Yah. Aku akan menjaga panti, dan meneruskan cita-cita ayah. Aku tidak akan meninggalkan panti, meski orang tua kandungku adalah orang kaya.”
Pemuda itu mengusap kedua pipinya yang sangat basah.
“Yah, bu. Terima kasih sudah merawatku, hingga aku sebesar ini. Tanpa kalian aku pasti sudah tiada. Maaf aku belum bisa membahagiakan kalian, tetapi aku akan berusaha membahagiakan keluarga di panti.”
Kepala pemuda itu kembali tertunduk. Begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, namun tak semua bisa ia keluarkan, air mata lebih dulu mengalir, membuat rangkaian kata yang ingin terucap, hanyut bersama derasnya air yang mengalir di pipi.
“Aku menyayangi kalian.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Seorang petugas makam yang melihat dan mendengarkan Leo sedari tadi, merasa terharu. Ia mengenal remaja itu. Tak menyangka jika pemuda tanggung itu memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
“Orang tuamu pasti bangga memiliki putra seperti mu, nak.”
Leo menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat seorang pria paruh baya, yang sedang menggenggam sapu, berdiri tak jauh di belakangnya.
Leo pun tersenyum ke arah penjaga makam itu.
Matahari pun beranjak turun, langit di upuk barat mulai memerah, Leo memutuskan kembali pulang ke panti asuhan.
Hatinya sedikit lega setelah berbicara dengan kedua orang tuanya, meski tak ada yang menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
*****
“Dimana istriku?” Edward bertanya kepada asisten rumah yang di beri nama Bu desa oleh sang istri.
“Sejak pulang kuliah, nyonya tidak turun, tuan.”
Dahi Edward berkerut, kedua alisnya hampir menyatu, mendengar jawaban wanita dewasa itu.
“Apa dia sudah makan siang?”
“Nyonya bilang sudah makan di kampus, tuan.”
“Ya sudah, minta pekerja dapur menyiapkan makan malam. Aku akan menemui istriku.”
Tanpa mendengar jawaban dari asisten rumahnya, Edward berlalu menapaki anak tangga, menuju lantai dua rumah itu.
Pandangan pria itu menyapu di seluruh ruangan bersantai di depan kamarnya, namun sang istri tidak ada disana.
Ia juga membuka pintu ruang kerjanya, yang juga menjadi ruang belajar sang istri, namun kosong.
Dengan langkah lebar, Edward bergegas menuju kamar tidur mereka, membuka pintu dengan sedikit kasar. Ia mendapati sang istri yang tertidur di sofa bed, yang tersedia di balkon kamar.
Perlahan pria itu mendekat, duduk di samping sang istri yang sedang meringkuk seperti seorang bayi.
Deg..
Pria itu tersentak, ia mendapati jejak air di sudut mata Laura yang tengah terpejam.
Laura terusik, wanita muda itu menggeliat. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati sang suami tengah menatapnya sendu.
“Papi.” Dengan cepat Laura bangkit dan merengkuh pundak suaminya. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher pria matang itu.
“Ada apa?” Edward membalas pelukan sang istri, dan mengusap lembut punggung wanitanya.
“Aku takut, aku bermimpi, Leo meninggalkan panti.” Ucapnya lirih.
“Sstt.. tenanglah sayang, itu hanya bunga tidur. Semuanya pasti baik-baik saja.”
“Aku takut, pi.”
Wanita muda itu mengeratkan pelukannya di leher sang suami. Menghirup dalam aroma tubuh Edward yang mampu memberinya ketenangan.
“Percaya padaku, sayang. Semuanya baik-baik saja. Nanti kita hubungi ibu, ya.”
Laura mengangguk, namun masih tenggelam dalam pelukan sang suami.
“Pi, tolong kirim penjaga di panti. Pak Toto tidak mungkin bisa mengawasi Leo sendiri.”
Laura mendongak, menatap penuh harap pada sang suami.
“Tentu, aku bahkan akan meminta orang untuk memasang kamera pengawas. Kamu tenang saja, jangan terlalu banyak berpikir.”
Sebuah kecupan Edward labuhkan di kening sang istri, berharap bisa memberikan ketenangan untuk wanita muda itu.
__ADS_1
“Kamu sudah makan siang? Kata asisten rumah, kamu tidak turun sejak pulang kuliah?”
“Aku sudah makan bakmi tadi di jalan.”
“Kamu tidak bohong?”
“Tanyakan pak sopir, aku bahkan mentraktirnya.”
Edward memicingkan matanya pada sang istri.
“Jadi kamu makan berdua dengan pria lain?”
“Astaga, papi. Aku makan dengan pak sopir. Jangan berlebihan deh.”
Laura memukul lengan suaminya. Sepertinya ia perlu mengajak sang suami ke dokter kejiwaan, untuk mengonsultasikan masalah rasa cemburunya yang berlebihan itu.
“Lagi pula, pak sopir kita juga usianya sudah 45 tahun. Mana mungkin aku tertarik.” Wanita itu mendengus kesal.
“Kamu lupa? Suamimu bahkan 14 tahun lebih tua darimu.”
“Ah, iya aku lupa. Aku kira suamiku berusia 17 tahun. Karena sifat cemburunya terlalu berlebihan.” Sindir Laura.
“Kamu berani menyindir suamimu, hmm?” Edward meraih pinggang sang istri, kemudian menggelitik di area sensitif itu. Membuat gelak tawa Laura pecah.
Edward pun ikut tertawa, ia sengaja melakukan hal itu, supaya kesedihan di hati istrinya menguap.
Beberapa hari setelah berbicara dengan Leo, Edward melihat Laura terus saja murung, keceriaan yang selalu terpancar di wajah manis itu, lenyap entah kemana.
Tidak ada yang bisa Edward lakukan, ia tau hati istrinya penuh rasa ketakutan, takut akan di tinggalkan oleh adiknya, Leo.
Puas melihat tawa di wajah sang istri, Edward merengkuh pinggang Laura. Mendekap erat raga yang jiwanya kini telah rapuh.
“Aku mencintaimu, Laura.”
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
Terima Kasih Banyak, Banyak, Banyak, Banyak ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1