TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 128. Hamil 5 Minggu.


__ADS_3

Dokter yang bertugas di hotel Hugo, menyarankan Edward membawa istrinya ke rumah sakit Hugo. Dan Edward pun setuju. Di rumah sakit itu, para dokter juga tak kalah hebat dari rumah sakit lain.


Dan dokter itu pun menghubungi dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit Hugo, memberitahu jika pemilik rumah sakit akan datang bersama sang istri, dalam keadaan darurat.


“Apa masih sakit?” Tanya Edward di dalam mobil. Tangan kanannya sibuk memegang kemudi, sementara tangan kiri pria itu mengenggam jemari tangan Laura.


“Sedikit, pi. Hati-hati saja, jangan ngebut.”


“Aku takut terjadi sesuatu, sayang. Jika benar kamu hamil, itu anak pertama kita.”


Laura tersenyum. Ia merasa bahagia mendengar Edward mengucapkan kata anak kita.


Setelah dua puluh menit, mobil Edward tiba di depan pintu lobby rumah sakit Hugo. Seorang perawat pun telah siaga menanti kedatang mereka dengan membawa kursi roda.


“Tolong parkirkan mobil ku.” Edward melempar kontak mobilnya pada petugas keamanan yang sedang berjaga.


“Baik, tuan.”


Edward kemudian menuntun Laura untuk duduk di atas kursi roda. Laura hanya menurut. Meski terkesan berlebihan, namun Ia tidak mau membuat drama dengan menolak kursi roda itu.


“Dimana ruangan dokter kandungannya?” Tanya Edward sembari mendorong kursi roda yang di duduki oleh istrinya.


“Mari saya antar, tuan, nyonya.”


Perawat itu mengantar sang pemilik rumah sakit menuju poli Obgyn, dimana dokter kandungan bertugas disana.


Beberapa perawat dan dokter yang mereka lewati, sedikit membungkuk memberi hormat. Namun ada yang bertanya-tanya, siapa kah wanita yang sedang bersama atasan mereka itu.


“Silahkan, tuan, nyonya.” Perawat itu membukakan pintu.


“Pi, aku jalan saja.”


Edward menurut. Ia meninggalkan kursi roda itu di depan pintu. Kemudian menuntun sang istri untuk masuk kedalam ruangan dokter kandungan.


“Selamat sore, tuan dan nyonya Hugo.” Seorang dokter wanita berusia 40 tahun menyapa dengan ramah kedatangan pasangan suami istri itu. Dia telah di beritahu jika Edward akan datang dengan istrinya. Maka ia berinisiatif memanggil wanita yang bersama Edward itu, dengan sebutan nyonya Hugo.


“Dok, tolong periksa istriku.” Ucap Edward tanpa basa-basi.


Dokter wanita itu tersenyum. Ia meminta perawat mengisi data diri pasien. Setelah itu mencatat beberapa hal, mengenai masalah datang bulan terakhir, menimbang berat badan, serta mengecek tekanan darah.


Setelah itu, Laura di minta untuk berbaring di atas ranjang. Dengan sigap, Edward membantu sang istri. Meski sudah ada perawat yang membantu disana.


Setelah Laura berbaring, perawat itu menyelimuti kaki hingga perut bawah Laura, kemudian menyingkap ke atas, kemeja yang wanita itu gunakan.


Laura merasa geli, saat perawat mengolesi gel dingin, di atas perutnya.

__ADS_1


Dokter pun menempelkan alat USG, pada perut yang telah di olesi gel.


Dokter meminta Edward dan Laura melihat ke arah monitor yang ada depan mereka. Disana terlihat kondisi di dalam perut Laura. Meski hanya hitam dan putih.


Di dalam monitor, terlihat ada sebuah lingkaran seukuran kelereng, di dalam lingkaran itu terdapat sebuah titik kecil.


Mata Edward berkaca-kaca. Ia tau apa maksud dari gambar di layar monitor itu. Karena dulu ia sering menemani Felisha dan David saat melakukan pemeriksaan kehamilan.


Dengan refleks pria berusia 35 tahun itu mengecup ubun-ubun sang istri. Yang membuat Laura menoleh pada wajah pria itu.


Laura mengerenyitkan dahi, melihat mata suaminya yang memerah.


“A-ada apa, pi? Itu artinya apa?” Tanya Laura pada Edward sembari menunjuk layar di depannya.


Edward menggeleng sambil tersenyum. Ia kembali mengecup kening wanita itu.


“Kamu hamil, sayang. Kita akan punya anak.” Ucap pria itu penuh kasih.


Laura tersentak. Di dalam perutnya kini ada kehidupan lain. Seperti tak percaya dengan ucapan sang suami, Laura menoleh ke arah sang dokter yang berdiri di sisi sebelah kanan ranjang.


Dokter wanita itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.


“Iya, nyonya. Selamat, usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke lima.”


Mendengar ucapan dokter, istri dari Edward itu merasa terharu, ia tak sanggup menahan air mata, sehingga tanpa permisi mengalir keluar.


Dokter kemudian menjelaskan beberapa hal, sambil menggerakkan anak panah pada layar monitor.


“Dok, keadaannya baik-baik saja, kan? Tadi istriku mengalami kram, aku takut terjadi sesuatu dengan janin kami, dok.”


“Semuanya baik-baik saja, tuan. Untung kalian cepat tanggap, jika tidak, mungkin sesuatu hal buruk akan terjadi.”


Dokter itu menghela nafas pelan. Kemudian menyimpan kembali alat USG nya, melihat itu, dengan sigap perawat membersihkan perut Laura dari sisa gel tadi.


Dokter mengajak Laura dan Edward duduk di depan meja kerjanya. Kemudian menuliskan resep vitamin dan susu untuk ibu hamil.


“Apa nyonya mengalami mual bahkan sampai muntah di pagi hari?”


Laura menggeleng. Memang ia tidak pernah mengalami mual, tidak ada tanda-tanda kehamilan yang ia rasakan, kecuali datang bulan yang sudah tidak ia dapatkan. Tetapi Laura tidak memperhatikan itu, ia pikir mungkin karena ia lelah, dan stres karena sedang mengurus skripsi, jadi tamu bulanannya datang terlambat.


“Hanya saja, akhir-akhir ini nafsu makan ku bertambah dokter. Terkadang, ingin sekali makan sesuatu. Setelah dapat, rasanya lega sekali.”


“Itu wajar, nyonya. Anda sedang mengidam.”


Dokter kemudian menjelaskan tentang makanan apa saja yang baik untuk ibu hamil, dan apa saja yang harus di hindari selama 3 bulan masa kehamilan atau yang sering di sebut trimester pertama kehamilan.

__ADS_1


Dokter juga menyarankan supaya Laura menghindari hal-hal yang membuatnya setres. Dan meminta Edward agar menjaga perasaan sang istri, karena selama kehamilan, perasaan seorang wanita akan berubah sensitif.


Bahkan terkadang akan mengalami perubahan mood, secara mendadak. Edward mengangguk paham.


“Hmm, dok?” Edward yang sedari tadi mendengarkan kini mengemukakan suara.


“Ya, tuan?”


“Itu, apa selama kehamilan ini, aku dan istriku boleh melakukan hubungan suami istri?”


Mata Laura membulat sempurna mendengar pertanyaan sang suami. Ia pun refleks mencubit lengan pria dewasa itu.


“Aw. Sakit, sayang.”


Dokter di hadapan mereka tersenyum. Ia tau ini pengalaman pertama untuk pemilik rumah sakit itu memiliki anak.


“Melihat kondisi janin yang nyonya Hugo kandung, kalian boleh melakukan hubungan suami istri, sehari satu kali cukup atau paling ideal dua kali seminggu.”


Dokter itu menghela nafasnya pelan.


“Tetapi ingat, jangan membuang di dalam, karena itu dapat memicu terjadinya kontraksi pada otot rahim.”


Laura dan Edward secara kompak menganggukkan kepalanya. Setelah semua hal terasa jelas, mereka berdua pun undur diri.


“Sayang, kamu tunggu di mobil, aku akan menebus resep dulu.” Namun Laura menggeleng, ia ingin ikut mengantri bersama sang suami.


Edward membuang nafasnya kasar. Ia tidak boleh marah, mengingat pesan yang dokter sampaikan tadi. Harus menjaga perasaan wanita hamil.


Setelah obat dan susu di dapat, mereka pun kembali pulang.


“Pi, tas ku masih tertinggal di hotel.”


“Kita ambil sekarang.”


Pria itu menuntun sang istri memasuki mobil. Membantu memasangkan sabuk pengaman. Kemudian ia menduduki kursi di belakang kemudi.


.


.


.


T. B. C.


Maaf ya Genks, kalo ada yang ga tepat dalam penjabaran pemeriksaan kehamilan.

__ADS_1


Ini aku tulis sesuai dengan yang pernah aku lalui, ya walau cuma pernah ke dokter kandungan sekali, setelah itu harus di kuret.


🤗🤗


__ADS_2