
Tiga hari menjelang hari pernikahan. Sepasang kekasih itu masih sibuk bergelung di bawah selimut. Hari ini sesuai rencana, Laura akan pulang ke panti, berpisah dengan Edward dan bertemu di hari pernikahan mereka.
Edward merasa tidak rela melepaskan sang kekasih mudanya. Ia ingin tetap mengukung gadis itu, sampai ia puas walau ia sendiri tidak akan pernah merasa puas dengan gadis itu.
“Papi, aku harus bangun. Ini sudah jam 7. Apa papi tidak ke kantor?” Laura mengusap lembut surai lebat milik sang pria, yang terbaring di atasnya.
“Nanti saja, Ra. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan mu. Kita akan berpisah selama 3 hari. Itu tidak akan mudah untukku.” Edward kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal kenyal kesukaannya.
“Kita hanya berpisah selama 3 hari, papi. Kita masih bisa melakukan panggilan video. Jaman sudah canggih. Bukan jaman batu lagi.”
“Bagiku itu sangat lama, Ra. Kamu tau, aku tidak bisa berlama-lama tanpa mu.” Entah pria itu berkata jujur atau hanya sekedar rayuan semata.
“Papi, hari ini aku harus bertemu dengan mbak Felisha. Dia akan membawa gaun pengantin ku. Ayolah bangun.” Gadis itu mencubit kecil punggung polos Edward.
“Panggil dia Felisha, dia akan menjadi adik iparmu.” Titah pria itu masih dengan mata terpejam.
“Tidak sopan. Kalian lebih tua 14 tahun dariku.”
“Aku tidak peduli.”
“Tetapi aku peduli, papi. Sedari kecil aku sudah di ajari sopan santun. Aku juga tidak mau nanti anak-anak ku menjadi tidak punya sopan santun, karena terbiasa mendengar para orang dewasa hanya memanggil nama saja.” Laura berujar panjang lebar.
Mendengar kata anak-anak, membuat Edward seketika mendongak. Dengan tatapan sayu khas bangun tidur, pria itu menatap sang pujaan hati.
“Kamu ingin punya anak berapa, Ra?”
“Papi mau punya berapa?” Gadis itu berbalik melontarkan pertanyaan.
“Sebanyak yang kamu bisa. Aku ingin rumah kita penuh dengan canda, tawa, teriakan, dan tangisan anak-anak.”
Gadis itu mencebik. Edward berucap dengan mudahnya seperti ia begitu berpengalaman mengurus bayi saja.
“Apa papi tidak kasihan padaku mengurus banyak anak?”
“Tenang saja. Aku sudah berpengalaman tentang hal itu. Meski bukan anak kandungku, tetapi Devano bayi, aku yang mengurusnya.”
Edward mengecup rahang gadis itu, dan sedikit menyesapnya. Membuat kulit putih Laura menjadi sedikit memerah.
“Apa iya? Palingan papi di bantu suster. Ujar gadis itu tidak percaya.
“Kamu tanyakan pada mama, memang ada mbak yang bekerja, bahkan sampai sekarang dia masih menjadi teman Devano. Tetapi, aku juga ikut mengurus bocah itu. Aku sering bergadang di tengah malam. Membawa dia imunisasi. Bahkan aku yang melatihnya berjalan.” Edward berucap panjang lebar. Ia mengingat kembali masa-masa dimana ia mengurusi Devano yang masih bayi merah, hingga bisa berjalan.
“Lalu susunya Devano? Maksudku, apa dia minum ASI?”
Kepala pria itu menggeleng. Saat itu keadaan Felisha masih belum stabil. Jangankan untuk menyusui, merawat dirinya pun tidak bisa.
“Devano minum susu formula, sayang. Untung saja, dia tidak ada alergi susu sapi, jadi aku bisa memberikan yang terbaik untuknya,.”
Laura mengangguk paham. Ia merasa iba kepada Devano, meski masih punya seorang ibu, tetapi nasibnya seperti anak yatim piatu.
“Aku jadi ingin bertemu dengan Devano.” Ujar gadis itu.
__ADS_1
“Nanti kamu akan bertemu dengannya. Kamu akan menjadi maminya. Kalian harus bisa berteman dengan baik.”
“Mami?” Laura mengerenyitkan dahinya.
“Mmm.” Edward menganggukkan kepalanya.
“Dia sudah punya mama, jadi kamu akan di panggil mami. Begitu juga anak-anak kita kelak. Mereka akan memanggil Felisha dengan sebutan mama. Dan memanggilku papi.”
Laura tersenyum mendengar ucapan Edward. Pria dewasa ini sudah memiliki bayangan kedepannya akan bagaimana.
Gadis itu meraih wajah tampan sang pria. Ia kemudian menyatukan bibir mereka. Terhanyut dalam cinta, dan tenggelam dalam lautan dosa.
Keduanya terbuai. Menikmati setiap detik dengan penuh dosa. Sebagai bekal untuk perpisahan mereka selama 3 hari.
Edward begitu memuja sang wanita yang ia rasakan selalu seperti seorang gadis. Ia selalu terlena akan rasa yang di berikan oleh gadis yang baru berusia 21 tahun itu.
“Laura Anastasia, aku mencintaimu.”
Kalimat yang selalu terucap dari bibir pria itu, di akhir perbuatan dosa mereka. Tidak lupa ia membubuhkan kecupan hangat pada kening sang wanita, sebagai tanda sayangnya.
Dan Laura, gadis itu biasanya akan membalas dengan ucapan terima kasih, atau sebuah senyuman. Namun pagi ini, gadis itu membalas ungkapan cinta sang pria.
“Aku juga mencintaimu, Edward Hugo.”
Pria itu tersadar dari rasa yang memabukkan. Ia menatap dalam mata sayu Laura. Dan Edward menemukan binar ketulusan di dalam mata gadis itu.
“Katakan sekali lagi, Laura.”
“Aku mencintaimu, Edward Hugo.”
Mereka melupakan waktu yang terus berjalan. Dan matahari yang kian meninggi. Yang tersisa di benak hanya meraih indahnya rasa.
*****
“Maaf, mbak. Aku terlambat. Apa mbak Felisha sudah lama menungguku?” Laura merasa tidak enak hati kepada calon iparnya. Mereka membuat janji temu jam 11 siang di panti. Namun gadis itu baru datang saat waktu menujukkan pukul 12 lewat 15 menit.
Felisha mencebik. Belum menjadi saudari ipar saja, gadis kecil ini sudah berani melanggar janji. Bagaimana nanti jika sudah menjadi ipar?
“Lumayan. Aku hampir saja pulang, jika dalam 15 menit kamu tidak datang.”
Kini mereka tengah berada di ruang tamu panti asuhan. Berbicara berdua untuk lebih saling mengenal. Meski sering berinteraksi melalui panggilan telepon, mereka perlu lebih mengakrabkan diri secara langsung.
Laura semakin merasa tidak enak. Andai saja ia tidak terlena dengan rasa, mungkin ia bisa pulang lebih awal.
“Maafkan aku, mbak.” Cicit gadis itu pelan. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya.
Felisha tersenyum melihat itu. Ia merasa hati Laura sangat mulia. Hanya karena terlambat datang, gadis itu sangat merasa bersalah.
“Apa kakakku melarang mu pergi?”
Tanpa sadar Laura menganggukkan kepalanya. Membenarkan ucapan Felisha.
__ADS_1
“Kenapa tidak kabur saja? Bukannya waktu itu kamu juga melakukannya?” Felisha mengingatkan kejadian perginya gadis itu dari penthouse Edward.
Kepala gadis itu menggeleng. Kali ini, ia tidak akan pergi tanpa seijin dari Edward.
“Apa kamu mencintai Ed?” Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir mama Devano itu, membuat kepala Laura terangkat.
Gadis itu mengangguk. Ia memang telah mencintai pria itu, entah sejak kapan.
“Aku mencintainya, mbak.” Jawabnya pelan.
“Aku harap kamu bisa memahami sifatnya. Dia pria pemaksa, posesif dan pencemburu. Jangan sampai kamu lelah dengan semua itu.”
Felisha menjelaskan. Ia tidak mau, kakaknya di tinggalkan gadis ini di kemudian hari. Hanya karena sifat pria itu.
Dalam keluarga mereka, sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Mulai dari sang kakek, menikah dengan cinta pertamanya dan sampai sekarang masih tetap bersama. Begitu juga mendiang papanya menikahi sang mama yang merupakan cinta pertamanya.
Sang mama masih tetap setia kepada mendiang papanya, meski sudah 20 tahun di tinggalkan. Tidak pernah sekalipun Felisha mendengar sang mama mempunyai teman laki-laki selain pak Indra sang asisten.
“Aku akan berusaha memahami sifatnya, mbak. Sejak awal pertemuan kami, dia sudah menunjukkan semua sifatnya itu. Jadi sampai saat ini, aku sudah terbiasa dengan hal itu.”
Felisha mendekat ke arah Laura, kemudian merangkul bahu gadis itu.
“Terimakasih, meski kamu masih muda, kamu bisa menaklukan pria dewasa itu.”
Laura membalas rangkulan itu.
“Terimakasih telah menerima ku, mbak. Maaf karena waktu itu aku salah paham kepadamu. Mungkin saat itu aku sudah mencintai Ed. Karena itu, aku memilih pergi dan tidak mau merusak keluarga kecilnya.”
“Kamu memang gadis yang sangat baik. Tidak salah jika mama begitu menginginkanmu menjadi menantunya.”
Rangkulan itu pun terurai. Perbincangan di lanjutkan dengan mencoba gaun pengantin yang telah di belikan oleh nyonya Hugo.
Setelah itu mereka keluar dari panti untuk melakukan perawatan tubuh menjelang hari pernikahan.
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift.
__ADS_1
Terimakasih banyak-banyak teman Readers.
❤️❤️❤️ I LOVE YOU FULL ❤️❤️❤️