
Laura merasa dirinya sangat beruntung, di balik musibah hutang 300 juta yang menghampirinya, kini gadis itu mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa.
Mendapat suami tampan yang sangat mencintainya, keluarga pria itu juga sangat menyayangi dirinya, membuat wanita muda itu merasa paling bahagia saat ini.
Tidak penting semua kemewahan ini, yang terpenting adalah cinta kasih dari keluarga barunya. Untuk apa hidup bergelimang harta, jika tidak mendapat penerimaan dari keluarga suami?
“Kamu menyukainya?” Edward membelitkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
Kini mereka tengah berdiri di balkon kamar mereka, memandangi indahnya halaman belakang, yang juga terdapat kolam renang disana.
“Aku menyukainya, papi.” Ucap Laura lirih.
Wanita mana yang tidak menyukai di berikan hadiah rumah sebesar ini beserta isinya? Tidak hanya isi di dalam rumah, di basemen rumah ini juga sudah terdapat dua mobil baru atas nama Laura.
“Maaf jika rumahnya tidak sesuai keinginanmu. Aku hanya berniat memberi kejutan kecil, jadi aku tidak meminta pendapatmu saat membeli rumah ini.” Pria itu menjelaskan setelah mendengar nada lirih dari ucapan sang istri.
Kepala Laura menggeleng, ini sudah lebih dari cukup.
“Papi, ini semua sudah sangat berlebihan untukku. Aku sangat menyukai semua ini.”
Laura berbalik, kemudian mengalungkan tangannya di leher sang suami.
“Ayo kita ke penthouse, barang-barangku masih ada di sana.”
“Tidak perlu. Yang tertinggal di sana, biarkan di sana. Sesekali waktu kita akan menginap disana. Di ruang ganti semuanya sudah tersedia. Aku juga sudah membawa alat-alat belajar mu ke rumah ini. Ada di ruang kerja, bersebelahan dengan meja kerja ku.” Ucap Edward panjang lebar.
Bibir Laura menganga mendengar semua ini. Ia kemudian melepaskan pelukan sang suami, bergegas ke ruang ganti.
Wanita muda itu membuka lemari sebelah kanan, matanya membulat sempurna saat mendapati lemari itu penuh dengan pakaian wanita, mulai dari setelan untuk kuliah, dress untuk pesta, pakaian santai, pakaian tidur, bahkan pakaian dalam.
Di meja rias juga sudah terdapat peralatan make-up, skincare, parfum dan alat-alat penunjang lainnya.
Edward juga menyiapkan tas untuk sang istri, mulai dari tas tangan, tas selempang, hingga tas punggung kesukaan Laura.
Tak lupa pria itu juga menyiapkan aksesoris penunjang penampilan istrinya. Mulai dari jam tangan, hingga perhiasan.
“Papi?”
“Ada apa? Kenapa berteriak? Apa ada kecoa? Ini rumah baru, bagaimana bisa ada tamu tak di undang masuk?” Edward mencecar sang istri dengan banyak pertanyaan.
Kepala Laura menggeleng cepat. Ia kemudian menunjuk semua yang ada di sana untuknya.
“Kamu tidak menyukainya? Mau di ganti?”
Laura kembali menggeleng. Ini benar-benar di luar nalarnya.
“Darimana papi tau ukuran ku?” Laura menunjuk ke arah tempat pakaian dalam.
“Oh ayolah, sayang. Berapa kali kita sudah tidur bersama? Tidak terhitung. Tentu aku sudah hafal ukuran mu.” Jawab Edward sambil mencebikan bibirnya.
Pipi Laura mendadak panas mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
‘Dasar pria tua mes*um’
“Akh” Laura berteriak ketika secara tiba-tiba Edward mengangkat tubuhnya. Dengan sigap ia mengalungkan tangannya di leher sang suami.
“Ayo kita mencoba ranjang yang baru.”
“Papi.. Aku masih datang bulan.” Ucap Laura saat tubuhnya telah mendarat di atas ranjang yang sangat empuk.
“Benarkah? Bukannya sudah empat hari?” Pria itu tidak ingin di bohongi. Ia pun memeriksa sendiri dengan meraba celana berbahan katun yang sang istri gunakan.
Seketika mood Edward menguap, saat merasakan sebuah penghalang tebal di bagian sana.
“Ya sudah. Kita coba ranjang ini besok.” Pria itu bangkit, kemudian berjalan ke arah pintu.
“Lalu nanti malam kita tidur dimana, papi?” Laura sengaja menggoda sang suami.
Namun pria itu tidak menangggapinya. Dan menghilang di balik pintu.
******
Keesokan harinya, perdebatan kecil terjadi di antara pasangan pengantin baru itu.
Laura ingin menggunakan mobil tuanya untuk pergi ke kampus, tetapi Edward tidak mengijinkan, meski mobil itu telah ikut ke rumah baru mereka.
Edward ingin istrinya menggunakan mobil yang baru ia belikan. Di tambah harus menggunakan sopir kemana pun wanita itu pergi.
Laura memutar otaknya, akhirnya ia menemukan sebuah ide.
Begitulah kalimat yang wanita itu ucapkan. Sehingga membuat sang suami mengalah. Membiarkan sang istri kembali menggunakan mobil tua peninggalan sang mertua, yang terpenting wanita itu mau menggunakan sopir.
“Bos.” Johan masuk ke ruang kerja sang atasan. Kini Edward telah kembali bekerja di kantornya.
“Ada berita apa?” Tanya Edward sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Johan meletakan sebuah map di depan sang atasan. Setelah 3 hari melakukan penyelidikan, kini orang suruhannya telah memberikan hasil.
“Ini biodata tentang Damian Wicaksana yang bos minta.”
Johan kemudian mengambil tempat duduk di seberang Edward.
“Menurut yang aku baca.” Tangannya menunjuk map yang kini telah di buka dan di baca oleh atasannya.
“Kertas yang satunya. Mengatakan jika Damian Wicaksana pernah menghamili seorang wanita bernama Teresha Hadi. Saat mereka berumur 19 tahun.”
Edward menutup map itu.
“Jelaskan.” Perintahnya. Ia enggan membaca terlalu banyak. Karena sang asisten pasti akan menjelaskan intinya.
“Damian mencintai Teresha sejak kalian SMA, namun—,”
“Aku kenal dengan yang wanita?” Tanya Edward menyela ucapan Johan.
__ADS_1
Johan mengangguk. Ia membuka kembali map yang telah Edward tutup.
“Teresha Hadi, teman sekolah bos, nyonya Felisha dan pak David. Mungkin nyonya Felisha tau wanita itu. Bos kan jarang bergaul dulu. Jadi bos mungkin tidak terlalu kenal.”
Johan menghela nafasnya pelan.
“Teresha tidak mencintai Damian, dia menyukai bos, itu sebabnya Teresha menolak cinta Damian, sehingga membuat pri itu nekat melakukan tindakkan kotor, agar bisa memiliki wanita itu.” Johan menjelaskan panjang lebar.
Perasaan Edward menjadi tidak menentu.
“Lanjutkan.”
“Saat wanita itu hamil, mereka sempat menikah. Namun beberapa bulan kemudian, Teresha pergi meninggalkan rumah keluarga Wicaksana. Jadi, menurut kesimpulan ku, kemungkinan besar, Leo adik nona Laura memang anak dari Damian. Mungkin saja setelah kepergiannya, Teresha melahirkan dan membuang anak itu, karena tidak mau berurusan dengan keluarga Wicaksana.”
“Apa keluarga pria itu tidak berusaha mencari keturunan mereka?” Edward bertanya dengan nada dingin.
“Keluarga Teresha mengatakan jika bayi itu telah meninggal bos.”
“Lalu pernikahan mereka?”
“Mereka sudah bercerai, saat Damian mengetahui anaknya meninggal. Teresha pun kini tidak berada di negara ini. Kabarnya ia tinggal di negara tetangga.”
Edward berusaha menerka, merangkai semua penjelasan Johan. Hingga dia mendapatkan kesimpulan.
“Jo. Apa mungkin wanita itu menolak Damian karena aku?” Bukan merasa bangga karena telah di cintai oleh teman sekolahnya, tetapi Edward merasa bersalah karena menyebabkan Leo terpisah dari orang tuanya.
“Aku rasa iya, bos. Cinta memang menyesatkan bos. Seperti Damian yang tega berbuat kotor demi mendapatkan Teresha. Begitu juga Teresha, ia tega membuang anaknya sendiri, demi bisa bebas dari Damian. Dan mungkin wanita itu berharap bisa hidup bersama bos.”
Johan mengedikan bahunya di akhir ucapannya.
Sementara Edward di landa kebimbangan. Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini pada sang istri.
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
Terima kasih banyak ❤️❤️
__ADS_1