TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 107. Apa Anak Itu Leo?


__ADS_3

Damian menatap tidak suka ke arah Leo dan Edward yang sedang bercengkerama. Sifat berbeda Leo tunjukkan saat bersamanya. Pemuda itu terlihat lebih hangat kepada Edward, ketimbang dengannya.


Kedua tangannya mengepal di dalam saku celana bahan yang di gunakan. Sungguh, Damian ingin sekali memukul teman semasa sekolahnya itu.


Kenapa Edward selalu bisa mengalihkan perhatian orang yang Damian sayangi? Mulai dari Teresha, hingga sekarang Leo.


Haruskah Damian melakukan cara paling kejam, agar pria itu tidak menganggu hidupnya lagi?


“Kamu hanya datang kesini di akhir pekan? Lihat apa yang akan terjadi akhir pekan nanti, saat kamu kembali kesini. Aku pastikan Leo takkan sehangat itu padamu.”


Damian menyeringai, ia berencana menghasut Leo agar benci kepada kakak iparnya.


Damian memang belum melakukan tes DNA, namun iya sudah merasa yakin jika Leo memang putranya. Selain dari wajah pemuda itu yang sangat mirib dengannya pada saat masih remaja, Damian juga melihat beberapa sifat Leo yang seperti Teresha.


Jika memang benar Leo adalah putranya, maka pemuda itu mewarisi gen kedua orang tuanya. Wajah tampan dari sang ayah, dan sifat pendiam seperti sang ibu.


“Pak Damian?” Ibu Maria datang, wanita paruh baya itu menepuk lengan Damian. Membuat pria dewasa itu menoleh.


“Oh, ya Bu?” Damian mengurai kepalan tangannya di dalam saku. Mengeluarkan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.


“Apa ibu bisa bicara sesuatu?”


“Tentu.”


Ibu Maria mengajak Damian berbicara berdua di ruang tamu. Ada hal penting yang mengganjal di hati wanita paruh baya itu. Ia hanya ingin memastikan, setelah itu baru membicarakan dengan Laura.


“Ada apa, bu?” Tanya Damian setelah mendudukkan bokongnya di atas sofa.


“Ibu ingin bertanya, apa nak Damian punya tujuan lain datang ke tempat ini? Dari yang ibu lihat, sepetinya nak Damian sangat ingin dekat dengan Leo.”


Ibu Maria menjeda ucapannya. Dari pantauannya, selama hampir dua minggu pria ini datang ke panti, sangat gencar melakukan pendekatan dengan Leo. Namun, pemuda itu bersikap biasa saja. Berbeda saat kedatangan Edward, Leo bahkan yang menghampiri Edward lebih dulu.


“Apa nak Damian—,”


“Saya sedang mencari anak saya yang dulu di buang oleh istri saya Bu.” Damian menyela ucapan ibu Maria. Mungkin sudah seharusnya dia memberitahu wanita paruh baya itu, siapa tau dengan begitu, ia bisa lebih dekat dengan Leo.


“Apa anak itu, Leo?”


“Saya belum pasti, Bu. Hanya saja, wajah Leo saat ini, sangat mirip dengan saya saat masih remaja seusia Leo. Awalnya saya percaya, jika anak saya telah tiada saat di lahirkan, namun saat melihat Leo, saya merasa jika anak saya masih ada.” Damian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Pandangan pria itu menerawang jauh. Dulu ia begitu mencintai Teresha, sampai tega melakukan hal kotor agar wanita itu menjadi miliknya, namun hati wanita itu tidak pernah terbuka untuknya. Hanya ada nama Edward, meski di dalam perutnya ada bayi milik Damian.

__ADS_1


“Apa nak Damian ingin melakukan tes DNA untuk membuktikannya?” Tanya ibu Maria lagi.


“Sebenarnya saya ingin, Bu. Namun sepertinya, Leo tidak tau apa-apa. Yang ia tau, dirinya adalah anak pemilik panti ini.”


“Ya..”


Ibu Maria menghela nafasnya berat.


“Tolong berikan waktu, nak Damian. Ibu akan membicarakan ini terlebih dulu dengan Laura, dia sangat menyayangi Leo. Panti ini berdiri juga karena Leo. Dia anak pertama yang di temukan oleh orang tua Laura. Mereka juga sudah menganggap Leo anaknya sendiri.”


Damian menoleh ke arah ibu Maria. Ia mendengarkan dengan seksama, ucapan wanita paruh baya itu.


“Laura dan Leo, mereka adalah adik kakak yang tidak terpisahkan. Kemana-mana selalu bersama. Jadi, ibu ingin membicarakan ini dengan Laura terlebih dulu. Ibu harap, nak Damian mau menunggu.”


Ibu Maria pun menoleh ke arah lawan bicaranya, dan pria itu mengangguk sebagai jawabannya.


*****


Pasangan Edward dan Laura, duduk sedikit jauh dari anak-anak yang sedang sibuk bermain dengan mainan yang di bawakan oleh Devano.


Dari tempat mereka duduk, dapat terlihat dengan jelas, apa saja yang anak-anak lakukan. Jadi kedua orang dewasa itu masih bisa memantau, meski sudah ada Leo bersama mereka.


Edward meraih jemari sang istri yang sedari tadi berada di atas pahanya. Menggenggam hangat, menyalurkan kekuatan, agar wanita muda itu tidak merasa sendirian.


“Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu, baby.”


“Bantu aku bicara dengan Leo, pi. Aku tidak tau harus memulai darimana. Ini begitu sulit untukku.“


Edward melepas genggaman tangannya. Menggantikan dengan dekapan hangat pada pundak Laura, menyandarkan kepala wanita muda itu pada pundaknya sendiri.


“Kamu tenang saja, baby. Kita akan berbicara bersama-sama dengan Leo. Kita jelaskan pelan-pelan. Mungkin di awal Leo tidak akan terima, tetapi aku yakin adikmu akan mengerti pada akhirnya.”


Usapan lembut pria itu berikan pada lengan sang istri.


“Aku takut Leo marah padaku, pi. Selama ini kami tidak pernah bertengkar. Yang aku takutkan, sekalinya kami bertengkar justru membuat kami terpisah.”


“Sstt.” Edward menarik tubuh sang istri, kemudian mendekapnya dengan hangat.


“Jangan berkata seperti itu, percayalah semuanya akan baik-baik saja.”


Saat sedang berpelukan seperti itu, tanpa mereka sadari, Leo melihatnya. Pemuda itu merasa ada yang aneh dengan sang kakak.

__ADS_1


“Ada apa, kak?” Tanya Leo mendekat ke arah pasangan yang tengah saling memeluk satu sama lain.


Edward dan Laura saling mengurai pelukannya. Dengan cepat, Laura mengusap pipinya yang sedikit di basahi air mata yang terlanjur menganak sungai.


“Tidak apa-apa, dek. Kakak hanya merasa terharu melihat kalian bermain. Apalagi Devano bisa dengan cepat bergaul dengan anak-anak yang lain.” Laura berdusta. Ia belum siap menceritakan sebuah kenyataan yang akan menguncang hati sang adik.


“Benarkah? Apa kak Ed, menyakiti kak Lala?” Tanya Leo tidak percaya.


“Benar, dek—.”


“Kamu tenang saja, Leo. Selamanya aku akan berusaha agar tidak menyakiti kakakmu. Bukannya sudah aku katakan padamu dulu, jika aku sangat mencintai kakakmu? Aku akan selalu berusaha membuat dia bahagia.”


Deretan kalimat yang keluar dari bibit Edward, membuat Laura menatap pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Pria dewasa yang dulu hanya membutuhkannya saat sebelum tidur, kini membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia.


Cinta dan kasih sayang yang berlebih, membuat Laura tenggelam dalam lautan kebahagiaan. Apalagi, pria itu juga menyayangi keluarganya di panti asuhan, membuat wanita itu semakin bahagia.


Edward ikut menatap mata sang istri. Ia menyunggingkan senyum indahnya.


“Jangan menatapku begitu, baby. Disini banyak anak-anak di bawah umur. Kita tidak bisa menuju puncak disini.” Pria itu berbisik, karena adik iparnya masih ada di dekat mereka.


Mendengar ucapan suaminya, membuat Laura menatap nyalang. Ia kemudian mencubit lengan pria dewasa itu. Bagaimana tidak, pikiran suaminya itu, selalu tidak jauh dari kegiatan menguras tenaga di atas ranjang.


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Terima kasih banyak ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2