
Juano yang tidak mendapatkan jawaban dari Maria, melepas tangan Maria kemudian memeluk bahu Maria.
“Apaan sih, singkirkan tanganmu!”
“Aku sedang bertanya padamu kenapa kamu diam saja. Apa telinga kamu harus di periksa ke dokter THT?”
“Kapan kamu bertanya?”
“Tahun lalu,”
“Ya pantas saja aku tidak tahu. Kita mengenal juga belum,” ujar Maria yang langsung mengedarkan pandangannya kembali ke objek yang tadi mengalihkan pandangannya. Tapi Maria tidak mendapati seseorang yang sempat dirinya lihat, seseorang yang tidak asing bagi Maria.
“Dasar ondel-ondel,”
"Bodo amat."
Juano yang masih memeluk bahu Maria, kemudian berjalan memasuki tempat resepsi dan masih dalam posisinya. Dan Maria pun tidak menolak karena matanya masih saja mencari seseorang yang sempat tadi lihat di antara banyaknya tamu undangan yang menghadiri acara tersebut.
“Tidak mungkin dia ada di sini Maria. Mata kamu saja yang mulai rabun,” gumam Maria dalam hati, dan tatapannya langsung tertuju pada tangan Juano yang masih memeluk bahunya.
“Loyo, lepaskan tanganmu!”
Juano yang mendengar perintah Maria, bukannya melepas tangannya, tapi dirinya malah memeluk Maria agar lebih dekat degan Maria.
“Katanya mau jadi temanku. Masa begini saja tidak boleh, tadi aku sudah bilang. Kalau aku tidak akan tergoda denganmu dasar ondel-ondel,”
__ADS_1
“Bagus,” sambung Maria kemudian sebelah tangannya langsung memeluk pinggang Juano.
Setengah jam berlaku setelah acara sambutan dan juga yang lainnya, tibalah saat sesi berjabat tangan dengan kedua mempelai yang begitu serasi di atas panggung pelaminan.
“Kapan aku bisa jadi ratu sehari seperti itu, bersanding dengan pria yang aku cintai,” Maria berkata dengan senyuman yang mengembang dari kedua sudut bibirnya menatap Elis yang jauh dari tempatnya berada.
“Jangan berharap lebih, belum tentu pria yang kamu cintai juga mencintaimu,” sahut Juano yang mendengar apa yang Maria katanya tepat di telinganya agar Maria mendengar apa yang dirinya katakan, saat suara musik memenuhi gedung tersebut.
“Aku tidak dengar,” ujar Maria dengan kesal dan membalik tubuhnya.
Dan Juano langsung mencekal tangan Maria saat akan meninggalkan dirinya.
“Mau kemana?”
“Cari makanan. Aku lapar,”
“Nanti saja aku sudah lapar, dan aku lihat di sana ada–
“Tidak bisa,” ujar Juano memotong perkataan Maria dan menarik tangannya menuju panggung pelaminan.
Maria terus menggerutu dan cemberut ketika sedang mengantri menuju panggung pelaminan.
“Jangan cemberut begitu, senyum dong. Sebentar lagi kamu akan melihat pertunjukan,”
“Bagaimana aku tidak cemberut, saat aku sedang merasakan lapar, dan kamu bilang pertunjukan. Pertunjukan apa? Otakku tidak bisa berfikir saat sedang lapar,” ujar Maria tapi tidak di hiraukan oleh Juano yang langsung menggenggam tangan Maria saat akan naik ke panggung.
__ADS_1
Maria terus mengikuti perintah Juano agar aktingnya sebagai kekasih Juano meyakinkan Elis, yang sedang menatap dirinya dan juga Juano bergantian.
“Selamat untuk pernikahanmu,” ucap Juano saat sudah berada di hadapan Elis dan juga suaminya. “Semoga bahagia, dan terima kasih, setelah kita berpisah akhirnya aku bertemu dengan dia, wanita yang benar-benar mencintaiku,” Juano berkata sambil memeluk pinggang Maria yang langsung tersenyum kemudian menyadarkan kepalanya di bahu Juano.
Elis yang mendengar perkataan Juano hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Akting kalian sungguh sempurna. Dan maaf aku tidak percaya, karena aku tahu kamu wanita bayaran,”
“Kata siapa?” tanya Maria dengan senyum dari kedua sudut bibirnya.
“Karena aku tahu. Tidak ada satu pun wanita yang akan mau dengan Ano karena–
“Karena apa, loyo?” tanya Maria memotong perkataan Elis. “Aku sudah tahu, tapi saat bersamaku dia tidak loyo dan bisa menyetrum dan tiangnya juga besar dan panjang, iya kan sayang?”
Elis yang mendengar perkataan Maria pun langsung diam tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Jadi kamu tahu kan. Sarang kamu itu tidak cocok denganku,” sambung Juano dan tangannya langsung meraih tangan Elis dan memberikan gulungan kertas. “Ini kado pernikahanmu, bacalah,”
Elis pun langsung membuka gulungan kertas tersebut, setelah membacanya Elis langsung menatap Juano.
“Maksud kamu?”
__ADS_1
Bersambung...................