
Mario langsung menghembuskan nafasnya lega setelah selesai menyelesaikan rapatnya dengan tuan Licon klien baru yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan sang istri. Dan salah satu pengusaha yang terkenal di negaranya. Dan ini salah satu klien besar yang sangat penting untuk perusahaan yang sekarang dirinya pegang.
Mario yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung mengambil ponsel miliknya yang di letakkan di atas meja untuk menghubungi sang istri.
“Mario sayang kamu sudah telat setengah jam. Kamu bilang rapat selesai jam satu siang. Dan perjalanan dari kantor ke rumah hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Tapi sekarang sudah pukul setengah tiga, tapi kamu belum juga pulang,” ucap Lery dari balik sambungan ponsel saat Mario menghubunginya.
“Maafkan aku sayang. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku untuk pulang lebih awal. Karena aku harus bertemu dengan brand ambassador yang sudah tuan Licon pilih hari ini juga,”
“Mario sayang kenapa harus menggunakan brand ambasador segala?”
“Entahlah tuan Licon yang menginginkannya. Katanya untuk menarik investor asing agar tertarik untuk menanam modal di proyek yang akan kita garap,” jelas Mario karena dirinya hanya mengikuti kemauan tuan Licon dan Mario mengiyakan permintaan kliennya tersebut dan tidak ingin mengecewakannya.
“Baiklah atur saja. Segera selesaikan pekerjaanmu dan cepatlah pulang aku merindukanmu,”
“Aku juga merindukanmu sayang muach muach muach,” sambung Mario yang langsung menutup sambungan ponselnya.
Dan tidak berselang lama pintu ruang kerja Mario dibuka oleh sekretaris nya yang tak lain dan tak bukan adalah Maria adik kandungnya.
“Mario makan siang lah dulu. Jangan sampai karena pekerjaan kamu lupa dengan kesehatanmu,” ujar Maria sambil membawa paperbag yang berisi makan siang untuk Mario yang baru saja dirinya pesan dan meletakan nya di meja tamu yang berada di ruang kerja Mario.
“Bagaimana denganmu?” tanya Mario yang langsung beranjak dari duduknya menghampiri sang adik yang sedang sibuk mengeluarkan makanan dari dalam kantong paperbag.
__ADS_1
“Jelas saja aku juga akan makan siang,” sambung Maria yang langsung duduk di sofa dan menyantap makanan yang baru saja dirinya keluarkan.
“Hati-hati nanti tersedak,”
“Tidak akan, karena yang aku makan ini makanan mahal,”
“Keren sekali kamu belum gajian sudah membelikan makanan mahal ini untukku,” ujar Mario sambil menunjuk steak wagyu yang berada di hadapannya. “Adik yang pengertian,”
“Enak saja siapa juga yang membelikannya untukmu, tadi aku membayarnya menggunakan kartu kredit milikku,” ujar Maria sambil nyengir kuda ke arah Mario.
“Dasar anak nakal begini nih. Setiap aku menyuruh kamu mengambil dompetku yang tertinggal di mobil pasti ada saja kelakuan kamu. Mana dompet milikku?”
“Bagus bukan?”
“Bagus apanya, yang ada nanti aku jadi kambing,” ucap Maria mengingat kembali setiap hari Lery selalu membawakan bekal untuk Mario dan juga untuk dirinya.
“Sudahlah aku sudah lapar jangan bicara lagi. Karena sebentar lagi aku harus menemui brand ambassador yang tuan Licon pilih,” jelas Mario yang langsung menyantap makan siangnya.
“Mario,”
“Makanlah jangan bicara,”
__ADS_1
“Apa benar ibu kandung Merin sudah kembali ke Indonesia?” tanya Maria membuat Mario langsung menghentikan makan siangnya.
“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?”
“Aku takut dia akan merusak rumah tanggamu dan mengambil Merin dirimu dan lebih parahnya lagi dia akan mengambil kamu dari Lery,”
“Tidak akan,” sambung Mario yang langsung menyantap makan siangnya kembali.
“Aku sering mendengar itu dari mulutmu dulu. Tapi nyatanya kamu kembali lagi padanya,” ujar Maria mengingat kembali jika Mario sering mengatakan hal seperti itu tapi ujungnya kembali lagi menjalin kasih dengan ibu kandung Merin yang bagaikan candu bagi Mario.
“Itu dulu sekarang aku sudah memiliki Lery. Dan Lery dengan anak-anak yang sekarang menjadi prioritasku,”
“Baguslah. Mudah mudahan yang kamu katakan benar. Awas saja jika...” ucapan Maria berhenti saat pintu ruang kerja Mario di buka oleh seseorang.
Bersambung...................
__ADS_1