Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
125 Terluka


__ADS_3

Ano mendorong tubuh Maria untuk menjauh, saat Maria tiba-tiba memegang senjatanya yang sekarang berdiri tegak dan kokoh sempurna, ketika tadi Maria dengan sengaja memegangnya dan sempat merabanya.


“Apa yang kamu lakukan Ano! Sakit tahu, kasar sekali jadi pria. Belum juga menikah sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga,”


Juano tidak merespon perkataan Maria, saat dirinya dengan bersusah payah menenangkan juniornya yang tidak sama sekali ingin tidur.


“Ano loyo, apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” tanya Maria tapi Juano tetap tidak menghiraukannya, yang sekarang malah memejamkan matanya. “Menyebalkan sekali jadi orang, dasar loyo.”


Maria berkata dan menyipitkan kedua matanya menatap ke arah Juano.


“Ano, tadi yang keras itu apa?”


Juano langsung membuka matanya dan menatap ke arah Maria.


“Apa kamu tidak tahu?”


“Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu loyo, atau jangan-jangan itu–


Maria menghentikan ucapannya beralih menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Apa?”


“Entah, apa kamu mengantongi sesuatu?”


“Bukan mengantongi, tapi membawanya ke mana pun,” jawab Juano kemudian menarik tangan Maria untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Ano sakit! Tadi kamu mendorongku sekarang kamu malah menarikku, apa kamu kira kita sedang bermain tarik tambang, ini bukan acara tujuh belas agustusan,”


“Jangan banyak bicara, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkan terong dari sarangnya,”


“Kamu gila terong tidak memiliki sarang,” sambung Maria, tapi tidak di hiraukan oleh Juano yang tiba-tiba menarik tangan Maria dan mengarahkannya ke juniornya yang masih berdiri tegak keluar dari pembungkus celana segitiga.


“Ano apaan sih, kamu–


Maria menghentikan perkataannya dan langsung membuka mulutnya saat dirinya baru menyadari jika yang sekarang dirinya pegang adalah adik kecil Juano, dan dengan segera Maria melepas tangannya, tapi Juano mencekal tangan Maria dan mengarahkan kembali ke juniornya.


“Kamu harus bertanggung jawab,”


“Ano!”


“Ano!” teriak Maria dengan panik sambil membangunkan Juano dengan menepuk nepuk pipinya, tapi tidak ada reaksi dari Juano.


“Anton, bos kamu kenapa?”


“Tenang saja nona, tuan baik-baik saja,” jelas Anton yang sedang fokus mengendarai mobil sambil tersenyum.


“Tenang kamu bilang, kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?”


*


*

__ADS_1


*


Anton yang sudah  memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Maria, langsung turun dari mobil lalu mengangkat tubuh Juano menuju rumah Maria dan membawanya ke dalam kamar Maria, atas perintah Maria yang masih begitu panik saat Juano belum juga sadarkan diri.


“Anton apa yang harus kita lakukan?”


“Sepertinya adik kecil tuan Ano terluka, dan nona bisa mengompresnya, kalau tidak nanti bisa membahayakan nyawanya,”


“Apa kami sudah gila! Kenapa tidak kamu saja,”


“Aku harus mencari obat untuk mengobatinya nona, saya permisi dulu,”


“Tapi– Maria menghentikan perkataannya saat Anton dengan terburu buru keluar dari kamarnya.


“Selamat bersenang senang tuan,” gumam Anton sambil tersenyum kemudian keluar dari rumah Maria.


“Apa tidak ada cara lain, gila saja kalau aku harus mengompresnya,” ucap Maria dan kakinya terus melangkah mondar mandir sambil berpikir.


“Ok iya, kenapa aku tidak menyuruh mbok Jum saja,”


Kemudian Maria keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan mbok Jum. Lalu Maria menepuk jidatnya, saat baru menyadari kalau mbok Jum tadi pagi meminta ijin, jika hari ini akan pergi mengunjungi saudaranya dan pulang mungkin malam hari.


“Ya ampun kenapa jadi begini, Anton juga lama sekali pergi membeli obat, apa dia beli obatnya di Libanon,” ucap kesal Maria kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan air kompresan ketika mengingat kembali perkataan Anton, jika nyawa Juano sedang dalam bahaya.


Bersambung.................

__ADS_1


__ADS_2