Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
114 Opor


__ADS_3

Juano yang baru saja mendorong tubuh Maria, langsung tersenyum dan memainkan alisnya ke arah Maria, yang sangat terkejut dengan tingkah laku Juano.


“Jangan macam-macam loyo!”


“Kamu mau bukti kan, kalau aku bisa berdiri, ayo aku tunjukkan,”


“Ano!” teriak Maria sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kalau kamu menutupi wajahmu mana bisa kamu melihat aku berdiri tegak,”


Juano berkata dan mendekat ke arah Maria kemudian menarik tangan Maria yang masih menutupi wajahnya.


“Ano!”


“Apa, lihat aku sudah berdiri tegak kan? Sambil hormat aku juga bisa, dengan  mengangkat satu kaki pun aku juga bisa berdiri tegak,”


Juano berkata dan berdiri tegak tepat di depan Maria sambil berhormat dan juga mengangkat sebelah kakinya.


“Bukan tubuh kamu yang tegak,”


“Terus?”


“Sudahlah tidak perlu di bahas lagi, kita hentikan sandiwara ini, jangan sampai kita melangkah lebih jauh membohongi semuanya, biar aku saja yang menjelaskan pada mereka,”


Maria berkata dan beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya ingin keluar kamar sebelum tangannya di tarik oleh Juano dan membawanya ke dalam pelukannya.


“Aku mohon jangan lakukan itu, aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu Maria, dan ini bukan sandiwara,”


“Untuk apa? Agar mama Dina benar-benar sembuh total? Itu namanya bersandiwara Ano,” ucap Maria kemudian melepaskan diri dari pelukan Juano.


“Bukan hanya itu,”

__ADS_1


“Terus?”


“Mungkin bagi orang lain ini mustahil, tapi bagiku tidak, karena aku mencintaimu, dan aku ingin selalu berada di sampingmu,”


“Jangan mengada ada Ano, cinta? Dari mana datangnya itu cinta, jangan bicara omong kosong, kita saja belum lama mengenal. Sudahlah aku tahu tujuan kamu,”


Maria berkata sambil menggelengkan kepalanya kemudian membalik tubuhnya dan berjalan menuju arah pintu kamarnya.


“Kalau kamu tidak percaya tidak masalah, yang terpenting aku sudah mengatakan yang sejujurnya, dan jika kamu ingin membatalkan pernikahan kita yang sudah aku siapkan, aku hanya bisa pasrah, aku juga salah jika harus memaksaku. Tapi asal kamu tahu aku sungguh mencintaimu itu saja,”


Mendengar ucapan Juano, Maria menghentikan langkahnya sejenak lalu keluar dari kamar dan meninggalkan Juano.


Hembusan kasar keluar dari bibir Juano selepas kepergian Maria, lalu dirinya duduk di pinggiran tempat tidur, Juano memejamkan matanya sejenak sambil mengambil nafasnya dalam dan membuangnya dengan perlahan untuk menguatkan diri menghadapi kenyataan jika Maria benar-benar memutuskan untuk tidak menerima pinangannya.


“Ini salahmu Ano, kenapa kamu begitu tergesa gesa mengambil keputusan, kamu tahu Maria tidak seperti wanita yang lainnya,” ucap Juano pada dirinya sendiri kemudian beranjak dari tempatnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Maria, dan menuju meja makan.


 


Maria tidak peduli pada tatapan Juano, karena dirinya masih sibuk mencari keberadaan Oza, yang sudah tidak lagi berada di rumahnya.


“Baiklah, aku terima dengan senang hati takdir Mu Tuhan, meskipun aku harus merelakannya,” gumam Maria dalam hati, dan tangannya terus mengacak acak makanan yang ada  piringnya.


“Cie calon pengantin, apa kalian tidak akan makan, butuh tenaga untuk menuju hari H loh,” ujar mana Dina sambil menatap Juano dan juga Maria bergantian.


“Benar yang mama kamu katakan boy,” sambung Mario dengan menepuk punggung Juano yang duduk di sampingnya. “Bagaimana burungmu sudah bisa mematuk?” bisik Mario tepat di telinga jangan Juano.


“Tentu, apa aku harus mencobanya dulu?”


Mario yang mendengar perkataan Juano langsung menoyor kepalanya. Dan Juano pun melempar senyum ke arah Mario.


“Kan biar tahu, tester dikit tidak masalah bukan?”

__ADS_1


“Awas saja, kalau sampai terjadi, aku sediakan bumbu dapur untukmu,”


“Untuk apa?”


“Bikin opor burung,” ucap Mario di akhiri dengan memeluk bahu Juano dan keduanya langsung tertawa bersamaan.


Maria berdehem dan mengalihkan pandangan semua orang yang langsung menatap ke arahnya.


“Sayang ada apa denganmu, minumlah,”


Mama Dina berkata sambil menyodorkan air minum ke hadapan Maria.


“Terima kasih ma,”


“Iya sayang, ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja mah, hanya saja ada yang ingin aku katakan kepada mama,”


“Katakan saja sayang, apa yang ingin kamu katakan, mama akan mendengarnya.”


Bersambung...............


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2