Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
35 Kacau


__ADS_3

 


“Apa yang aku lakukan ini benar?” ucap Mario pada dirinya sendiri saat dia sedang duduk di depan rumah minimalis di mana Merin tinggal, saat dirinya mengingat kembali kejadian terakhir bersama dengan Lery.


“Tentu saja tidak. Benar dari mana? Harusnya kamu bekerja bukannya bengong seperti ayam yang sedang sakit,”


“Diam. Aku sedang pusing,”


“Lebih pusing aku, sudah tiga hari kamu tidak bekerja. Dan setiap pagi melamun. Merusak pemandangan tanaman aku saja,”


“Mau kamu apa? Aku di rumah salah aku tidak pulang juga salah,”


“Aku mau kamu kerja itu saja titik. Kita bukan dari golongan atas yang hanya berpangku tangan terus dapat uang. Kita dari orang biasa,”


“Aku juga tahu. Sekarang diamlah aku tidak ingin berdebat denganmu hari ini,”


“Aku juga tidak,”


“Bagus dan sekarang pergilah,”


“Kamu yang harusnya pergi. Antar Merin ke sekolah aku lelah,”


“Tidak mahu kalau cuma sama papa,” sambung Merin yang tiba-tiba ke luar dari dalam rumah dan siap berangkat ke sekolah. “Kemalin papa di tekolah hanya bengong. Di tanya tama miss di tekolah diam taja aku mayu ma. Hali ini aku tekolah tanah mama ya?”


“Sama papa saja sayang. Mama mau bikin kue untuk Merin Oke?”


“Tidak mahu. Tapi kalau tama papa dan juga mama aku mahu,” jawab Merin sambil menggengam tangan mamanya dan juga papanya.


“Oke papa dan mama akan mengantar Merin,” sambung Mario sambil menuntun Merin menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah tersebut.


“Papa belhenti,” ucap Merin sambil menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Ada apa anak kesayangan papa?”


“Hali ini aku cekolah mahu naik motol,”


“Tidak bisa sayang, kamu tidak kasihan dengan muka mama? Muka mama perawatannya mahal loh. Merin tahu papa tidak bekerja nanti siapa yang kasih uang ke mama,”


“Dasar matre,”


“Harus. Hari gini tidak matre yang ada tidak hidup. Makan perlu uang semuanya menggunakan uang,” sambung mama Merin tapi tidak dihiraukan oleh Mario yang langsung menuntun Merin keluar dari halaman rumahnya menuju rumah di sampingnya.


“Permisi bu,” ucap Mario ketika sudah berada di halaman rumah tetangganya yang bersebelahan dengan rumahnya.


“Iya. Oh ini papa Merin?” tanya wanita paruh baya tetangga Mario sambil tersenyum ke arah Mario.


“Iya bu saja papa Merin. Oh iya bu mau pinjam motor boleh?”


“Tentu saja boleh. Kalau papa Merin yang pinjam. Aku baru lihat papa Merin ternyata seperti artis luar negeri,”


“Jangan panggil ibu dong. Panggil saja sis,”


“Oh maaf sis,”


“Nah gitu dong ini kuncinya papa Merin ganteng,” ucap wanita paruh baya tersebut sambil memberikan kunci motor miliknya pada Mario.


“Terima kasih sis,”


“Hanya itu saja,”


“Maksud sis?” tanya Mario penasaran.


“Nanti malam aku ingin mengundang papa Merin untuk makan malam di rumah,”

__ADS_1


“Ada acara apa bu?”


“Bia...”


“Kami permisi dulu,” sambung mama Merin memotong perkataan wanita paruh baya tersebut dan langsung menarik tangan Mario menuju motor.


“Apaan sih main tarik aja. Cemburu ya?”


“Jangan banyak bicara Merin sudah telat,”


“Siap mama Merin yang cantik,” ucap Mario yang langsung naik ke atas motor dan langsung melajukan motornya menuju sekolah Merin. Dan tanpa disadari ada mobil yang membuntuti motor Mario.


*


*


*


Setelah sampai sekolah Merin, Mario dan juga mama Merin menunggu Merin di bangku tunggu yang tidak jauh dari kelas Merin. Kemudian Mario menyandarkan kepalanya di bahu mama Merin yang duduk di sampingnya.


“Biarkan aku bersandar di bahumu sebentar saja,” pinta Mario membuat mama Merin membiarkan Mario terus bersandar di bahunya. “Kenapa hidupku jadi kacau seperti ini?”


“Itu kesalahanmu sendiri Mario,”


“Apa yang harus aku lakukan,”


“Kembalilah kepada kami. Dan perbaiki dirimu sebelum mengambil keputusan, dan jadilah suami dan ayah yang baik mulia sekarang,"


Bersambung............


 

__ADS_1


 


__ADS_2