
Air mata terus meluncur membasahi pipi Maria, tapi kali ini bukan air mata kesedihan yang sudah satu minggu lebih keluar dari pelupuk matanya, melainkan air mata kebahagiaan, saat mengetahui Juano sang suami sudah tersadar dari tidur panjangnya.
Pandangan Maria terus tertuju pada ranjang di mana suaminya sedang terbaring, yang baru saja di pindah ke ruang perawatan, saat beberapa dokter yang menangani Juano, memeriksa intensif keadaan Juano kurang lebih tiga jam setelah Juano membuka matanya, dan memutuskan memindahkan ke ruang perawatan. Karena organ tubuhnya sudah berfungsi seperti sedia kala.
Maria masih saja berdiri di tempatnya dengan air mata yang masih membasahi pipi, tidak percaya yang sedang di tatapnya adalah sang suami.
Mario yang sedari tadi selalu berada di samping sang adik langsung menepuk bahunya.
“Kenapa hanya diam saja setelah suami kamu sadar?”
Bukannya menjawab pertanyaan, Maria malah membalik tubuhnya dan memeluk Mario, lalu menangis di pelukannya.
“Apa ini hanya mimpi? Tolong cubit aku,”
Tanpa pikir panjang Mario mencubit lengan Maria dengan keras.
“Sakit!!!!” teriak Maria lalu melepas pelukannya dan balik mencubit lengan Maria.
“Dasar bocah, kamu sendiri yang menyuruhku untuk mencubit, kenapa kamu mencubit balik,”
“Tapi mencubit nya pakai perasaan,”
Senyum lemah terukir dari kedua sudut bibir Juano yang melihat kekonyolan sang istri, yang entah mengapa sangat dirinya rindukan.
“Maria,”
__ADS_1
Panggil Juano dengan lemah, hingga suara yang keluar dari bibirnya seakan tidak terdengar di telinga Maria.
“Tuh suami yang kamu cintai memanggilmu,” ujar Mario sambil mendorong Maria untuk mendekat ke arah Juano, kemudian Mario keluar dari ruangan tersebut tidak ingin mengganggu keduanya.
Maria berjalan dengan perlahan mendekat ke arah Juano yang terus mengukir senyum. Kemudian menghentikan langkahnya dan menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi. Lalu Maria berjalan dengan cepat dan langsung memeluk Juano yang sedang terbaring di atas ranjang.
“Kamu jahat, kamu harus mengganti air mataku yang sudah berember ember keluar dari mataku, untuk menangisi kamu,”
Mendengar perkataan Maria, Juano mengangkat kedua tangannya dengan susah payah saat masih merasa tubuhnya tidak memiliki tulang, lalu balik memeluk Maria.
“Untuk apa kamu menangisiku?”
“Karena aku mencintaimu, dan aku tidak ingin kehilangan dirimu,”
“Oh iya, aku tidak percaya,”
“Dasar tukang ngompol, baru sembuh sudah membuat aku kesal,”
“Maaf sayang,” ucap Juano lalu menarik lengan Maria agar wajah Maria lebih dekat kewajahnya dan Juano langsung mencium bibir Maria, baru seper sekian detik Juano mencium bibirnya. Maria langsung melepas tautan bibirnya.
“Katanya cinta, tapi di cium tidak mau,”
“Bukannya tidak mau, tapi mulut kamu bau tau,”
Mendengar perkataan Maria bukannya kesal, Juano malah tersenyum senang, pasalnya selama tidur panjangnya Juano tidak melihat hal konyol yang di lakukan istrinya tersebut.
__ADS_1
“Tapi kalau nanti aku sudah gosok gigi, mau ya di cium?”
“Tidak mau sebelum kamu sembuh total,”
“Aku perlu asupan untuk cepat sembuh total, dan asupan itu hanya ini,” ujar Juano sambil memegang bibir Maria.
“Sejak kapan kamu jadi me sum begini?”
“Sejak bertemu denganmu,”
“Dasar buaya,” sambung Maria lalu menggigit jari Juano.
“Ah sayang sakit!”
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Oza yang sedang duduk di sebuah bangku yang berada di sebuah taman rumah sakit yang sama di mana Juano berada. Saat dirinya mengetahui jika Juano sudah terbangun dari tidur panjangnya.
“Mungkin aku tidak bisa memilikimu Maria, tapi setidaknya aku bisa bahagia karena darah yang mengalir di tubuh suamimu mengalir juga darahku,” ucap Oza pasalnya hampir setiap hari selama Juano koma, dirinya mendonorkan darahnya untuk Juano yang kehilangan banyak darah, yang kebetulan golongan daerah sama dengannya yang memiliki golongan darah AB saat rumah sakit kehabisan pendonor darah golongan AB yang memang susah di dapat.
“Tuan, kenapa anda di sini? Tuan harusnya ada di ruang perawatan Tuan,”
“Aku sudah baik-baik saja Sus,”
“Tapi Tuan, tubuh anda belum stabil, karena darah yang anda donorkan jumlahnya tidak sedikit,”
__ADS_1
“Baiklah,” ujar Oza lalu berdiri dari duduknya kemudian memegang lengan suster saat tubuhnya begitu lemas.
Bersambung......................