Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
142 Sayang


__ADS_3

“Kepo,”


“Ish menyebalkan sekali, dasar tukang ngompol,”


Mendengar perkataan Maria, Juano kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


“Itu ngompol enak sayang,”


“Dasar jorok, mana ada ngompol enak dasar aneh, dari loyo, tukang pingsan dan sekarang tukang ngompol. Sarapan sudah siap, lepaskan tanganmu,”


“Tidak mau, sebelum kamu– Juano menghentikan ucapannya beralih memonyongkan bibirnya ke arah Maria.


“Bau jigong, aku mau mandi dulu,” tolak Maria tahu apa yang di inginkan Juano, lalu mendorong wajah Juano dan melepas pelukannya lalu berlari menuju kamar mandi sambil menjulurkan lidahnya untuk meledek Juano.


“Sungguh menggemaskan istriku.”


*


*


*


Juano terus menggenggam tangan sang istri dan sesekali mencium punggung tangannya, saat keduanya sudah berada di dalam mobil menuju rumah mama Dina.


“Apa ada hal serius, kenapa mama menyuruh kita menemuinya sepagi ini?”


“Entahlah sayang, aku juga tidak tahu. Mama hanya menyuruh kita untuk segera menemuinya,”


Juano menjawab pertanyaan sang istri dan sekarang beralih merangkul bahunya dan membawa ke dalam pelukannya.


Anton yang sedang mengemudikan mobil langsung berdehem dan Juano yang duduk tepat di belakangnya menendang bangku pengemudi yang di dudukinya.


“Ano apa yang kamu lakukan?”


“Tidak ada, dia jomblo akut pasti dia iri dengan kemesraan kita,”


Maria beralih menyingkirkan tangan Juano yang masih memeluk bahunya dan duduk menjauh.


“Ada apa?”


“Aku tidak suka, ada orang lain melihat kita seperti tadi,”


“Kita sudah menjadi suami istri, tidak ada salahnya bermesraan bukan. Lagi pula hanya ada Anton di sini,”

__ADS_1


“Tetap saja–


“Ya sudah oke, maafkan aku,” ujar Juano memotong perkataan Maria dengan senyum yang menghiasi kedua sudut bibirnya, tidak ingin memaksa Maria, takut Maria malah menutup pintu hatinya kembali.


“Kalau menggenggam tangan kamu boleh?”


Juano menatap ke arah Maria, meminta persetujuan, dan Maria pun langsung tersenyum sambil meraih tangan Juano.


Juano begitu bahagia saat Maria terus menggenggam tangannya. Dan Juano mengerutkan keningnya saat sang istri meminta Anton untuk menepikan mobil yang di kendarai nya.


“Maria, pom bensin masih jauh, tidak mungkin kamu akan buang air kecil di pinggir jalan kan?”


“Amit-amit, memang aku gila apa buang air kecil di pinggir jalan,”


“Terus kenapa kamu menyuruh Anton untuk berhenti?”


“Kamu lihat itu?”


Maria menunjuk ke arah seberang jalan, dan mata Juano langsung mengikuti ke mana jari Maria menunjuk.


“Talas bogor?”


“Iya, dan aku ingin membelinya,”


“Untuk di ambil getahnya lalu aku oleskan ke muka kamu, ya tentu saja untuk di makan Ano. Dan aku akan membuat cake untukmu dengan itu pasti kamu nanti ketagihan dengan cake buatan aku,”


“Cake? Memang bisa talas di buat cake? Dan satu lagi apa kamu bisa membuat cake?”


“Au ah gelap, jangan banyak bertanya, dan jangan meremehkan aku,” jawab Maria lalu mencoba membuka pintu mobil sebelum Juano menahan tangannya.


“Kamu tunggu di mobil, aku yang akan membelikan untukmu,”


“Tidak mau, nanti kamu tidak bisa memilih mana yang pulen dan juga tidak, kamu yang tetap di sini,”


“Tidak mau, aku ingin ikut,”


Juano yang memutuskan untuk ikut terus menggenggam tangan Maria dan menyebrang jalan bersama sama.


Maria yang sudah memilih beberapa talas bogor yang di inginkannya langsung tersenyum senang.


“Seperti anak kecil saja, di supermarket dekat rumah mama juga banyak talas bogor seperti ini,”


“Tapi beda Ano sayang,”

__ADS_1


Mendengar perkataan Maria, Juano tidak percaya lalu dirinya refleks memeluk sang istri.


“Ano! Lepaskan!”


Dan Ano pun langsung melepas pelukannya beralih memegang ke dua bahu Maria.


“Maria, apa aku tidak salah dengar? Tadi kamu bilang sayang? Apa aku sedang tidak bermimpi?”


“Memangnya aku bicara apa?”


“Sayang,”


“Dan kenapa kamu terlihat senang begitu?”


“Karena kamu memanggilku dengan sebutan sayang,”


“Ih lebay siapa juga yang memanggilmu sayang, maksud aku, sayang buang uang lebih untuk beli talas bogor di supermarket, kalau di sini harganya jauh lebih murah, dan lebih segar iya kan?”


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Juano, sambil melepas tangannya dari kedua bahu Maria dengan raut wajah kecewa.


“Jangan cemberut begitu, lagian apa romantisnya kata sayang, makanan sisa di buang juga di bilang sayang kan?”


“Benar juga,”


“Sudahlah kamu bawa dompet tidak, aku lupa membawa dompet,”


Juano langsung memegang belakang celananya untuk mencari dompet, dan kemudian Juano menepuk jidatnya.


“Kenapa?”


“Dompetku juga tertinggal, aku ambil dulu, kamu tunggu di sini oke,"


Juano langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah jalan. Membuat Maria menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tapi detik kemudian senyumnya hilang saat melihat ada mobil oleng yang mendekat ke arah Juano, dan Maria pun langsung berlari menghampiri Juano.


“Ano! Awas!”


Brak!!!!!!!!!!!!!


Bersambung..........................


Di wajibkan untuk komen apa yang terjadi selanjutnya, karena aku yakin kalian bisa menebaknya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


 

__ADS_1


 


__ADS_2