
“Mama,” teriak Merin yang baru masuk ke dalam ruang perawatan mama Dina di ikuti oleh Mario dari belakang, yang setiap hari menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk membawa makanan yang Maria sukai, meskipun Maria juga tidak menyentuhnya sama sekali, jika tidak di paksa.
Lalu Maria pun langsung melepas pelukannya dan dengan segera menghapus air matanya lalu turun dari ranjang perawatan mama Dina, kemudian merentangkan tangannya menyambut kedatangan Merin yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri.
“Aku melindukan Mama,” ujar Merin yang sudah menghambur memeluk Maria.
“Mama juga merindukan Merin sayang,”
Maria melepas pelukannya beralih meraup wajah Merin.
“Apa Mama menangis? Kenapa ada ail mata di pipi mama. Mama pelnah bilang kalau aku tidak boleh menangis, kenapa sekalang mama menangis, apa ada yang nakal sama mama?”
“Siapa yang menangis, mama tadi kelilipan sayang, sekarang sapa dulu oma,”
“Oke mama,” ucap Merin dan menghampiri mama Dina, yang sudah beberapa kali bertemu dengannya.
“Sudah berapa hari kamu tidak mandi, muka kamu kucel, dan banyak keriput pasti kamu lupa memakai skin care, dan pasti setelah Ano sadar dia tidak akan mengenalimu, aku yakin itu,” bisik Mario di telinga Maria, tapi tidak di hiraukan oleh Maria yang berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut meninggalkan Merin dan mana Dina yang sedang bercanda.
Mario mengikuti Maria dan duduk di sampingnya.
“Makanlah, aku membawa makanan kesukaanmu, jangan sampai kamu sakit, tenang saja, Ano pasti akan segera sadar, karena dokter di rumah sakit ini tidak di ragukan lagi,”
“Tapi–
“Maria, tidak ada kata tapi, tapi yakin jika suami kamu akan segera sadar dari komanya, dan kalian bisa bersama kembali,” sambung Mario memotong perkataan Maria.
“Entahlah perasaanku tidak bisa tenang,”
“Karena kamu takut kehilangan Ano, yang artinya kamu sangat mencintai suami kamu,”
Mendengar ucapan Mario, Maria mengangkat kepalanya lalu menatap sang kakak, kemudian memeluknya.
__ADS_1
“Maaf,”
Mario mengerutkan keningnya lalu melepas pelukan sang adik, beralih memegang kedua bahunya meminta penjelasan, dari arti maaf yang baru saja Maria katakan.
“Maksud kamu?”
Maria yang belum pernah menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Jauno hingga akhirnya menjadi istrinya, memutuskan untuk menceritakan tanpa ada yang di tutup tutupi lagi pada Mario.
Lala Mario memeluk sang adik setelah Maria menceritakan semuanya.
“Itu lah cinta, datang tanpa kita sadari, dan kita baru menyadari, saat orang yang mencintai kita, tidak ada di samping kita, dan sekarang saatnya kamu buktikan pada Ano, kamu juga mempunyai cinta yang besar untuknya,”
“Aku akan mengatakan padanya, dan juga membuktikannya,” sambung Maria yang sudah melepas pelukannya.
“Bagus, sekarang kamu makanlah, kamu butuh tenaga untuk membuktikan pada suamimu jika kamu memiliki cinta yang besar untuknya, jangan sampai Ano sadar nanti melihat kamu seperti ini, macam gembel, baju sudah berapa hari tidak ganti, rambut acak acakkan dan badan kurus seperti sapu lidi,”
“Gembel kamu bilang, aku ini adikmu, berarti kamu juga gembel,” sambung Maria lalu beranjak dari duduknya.
“Aku mau mandi,”
Mario mengukir senyum di kedua sudut bibirnya, setelah kepergian Maria, karena dirinya bisa melihat sifat sang adik kembali lagi, setelah hampir tujuh hari kehilangan sosok Maria yang di kenalnya.
Maria begitu cemas, saat dirinya memutuskan untuk mengetahui keadaan Juano bersama dengan Mario, dan meninggalkan Merin dan juga mama Dina. Pasalnya saat dirinya sampai di mana sang suami berada, dokter tidak mengizinkan Maria masuk ke dalam seperti biasa, dan dirinya hanya bisa Melihat dari balik kaca ruang ICU, dan melihat beberapa dokter dan perawat sedang menangani suaminya.
Lalu Maria berjalan menghampiri Anton yang juga terlihat cemas.
“Anton apa yang terjadi?” tanya Maria pasalnya Anton lah yang selalu mengawasi suaminya jika dirinya tidak ada.
“Saya kurang tahu Nona, tapi tadi saya melihat tuan Oza keluar dari dalam ruangan saat saya baru kembali dari toilet, dan tidak berselang lama dokter dan juga suster langsung masuk ke dalam dengan terburu buru,”
Mendengar perkataan Anton, Maria lalu mengerutkan keningnya, belum juga Maria ingin bertanya kembali, pintu ruang ICU di buka dari dalam oleh salah satu dokter. Dan Maria dengan antusias mendekat ke arah dokter tersebut.
__ADS_1
Bersambung...................
__ADS_1