Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
109 Memilih


__ADS_3

Maria yang baru masuk ke dalam ruangan Oza langsung tersenyum manis saat Oza yang sedang duduk di kursinya juga tersenyum ke arahnya. Kemudian Maria berjalan mendekat ke arah Oza dengan dada yang berdebar debar, saat menatap Oza pria yang dirinya suka masih mengukir senyum kearahnya.


“Sepertinya hari ini sangat menyenangkan untukmu,” ucap Oza saat Maria sudah berdiri tepat di hadapannya.


“Tentu,” sambung singkat Maria dan Oza yang mendengar perkataan Maria langsung mengerutkan keningnya.


“Apa itu karena pria yang bersamamu Maria? Kalau kamu begitu bahagia dengannya, aku ikhlas melepasmu dan merelakan kamu, dan aku akan selalu bahagia melihat kamu bahagia seperti ini, dan saatnya sekarang aku menuruti kemauan mommy,” gumam Oza dalam hati dan terus tersenyum ke arah Maria.


“Bagaimana aku tidak senang, melihat senyumanmu yang begitu menyejukkan hati ini, andaikan rasa sukaku kepadamu ini , kamu balas. Tentu saja aku salah satu orang yang sangat beruntung bisa memilikimu Oza,” gumam Maria dalam hati dan matanya tidak berkedip sedikitpun karena tatapannya terus tertuju ke arah Oza.


“Maria. Maria,” ucap Oza untuk kesekian kalinya saat Maria tidak merespon panggilnya. “Maria!”


“Iy iya Tuan. Eh maaf Oza  ada apa?”


“Silakan duduk,”


“Baik,” sambung Maria yang langsung duduk tepat di kursi di depan meja kerja Oza.


“Rapat jam sepuluh bukan?”


“Betul, dan aku belum menyiapkan berkas untuk rapat,”


“Tidak masalah, aku yang akan memimpin rapat dan aku sudah menyiapkannya tadi,”


“Maaf,”


“Tidak apa, santai saja,”


“Terus kamu memanggilku kemari untuk apa?”

__ADS_1


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu,”


“Apa?”


“Ini tentang masa depanku, dan aku butuh kamu,”


“Aku siapa,”


Maria berkata sambil tersenyum dan hatinya langsung berbunga bunga mendengar apa yang Oza katakan.


“Terima kasih, kamu bersedia membantuku,”


“Maksud kamu?”


Maria bertanya ketika merasa penasaran mendengar perkataan Oza, kemudian Maria mengerutkan keningnya saat Oza mengeluarkan dua lebar foto yang berbeda dan menyodorkannya ke hadapan Maria.


“Jodoh yang sudah mommy tentukan untukku, meskipun aku tidak menginginkan, karena yang aku mau hanya dirimu Maria, tapi kamu sudah bahagia dengan orang lain dan aku pun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan mommy,” gumam Oza dalam hati sambil menatap Maria yang sedang fokus menatap kedua foto wanita di hadapannya.


“Oza aku bertanya padamu siapa dia?” tanya Maria lagi saat tadi dirinya tidak mendapat jawaban dari Oza yang malah melamun.


“Satu bernama Ais dan satu lagi bernama Isyah, dan mereka adalah saudara kembar, anak dari teman mommy,”


“Terus?”


“Aku harus memilih salah satu untuk di jadikan istri. Menurut kamu yang mana yang pantas untukku?”


Deg!


Seketika hati Maria hancur lebur mendengar apa yang dikatakan oleh Oza, keringat dingin tiba-tiba keluar dari pori-pori tubuhnya. Dan sebisa mungkin Maria menahan air mata yang siap kapan saja meluncur dari pelupuk matanya. Saat pria yang di sukainya malah memintanya untuk memilih wanita lain sebagai calon istrinya.

__ADS_1


“Maria jangan jadikan dirimu lemah, kamu harus tahu batasanmu, kamu dan juga Oza bagaikan langit dan juga bumi, meskipun kamu menyukainya dia tidak akan pernah menyukaimu, sadarlah,” gumam Maria menyemangati dirinya sendiri.


Maria langsung menghembuskan nafasnya kemudian ersenyum ke arah Oza.


“Dua duanya cantik aku suka, mungkin yang ini, mommy suka wanita yang berhijab bukan. Yang ini cocok untukmu,” ujar Maria sambil menunjuk salah satu foto wanita yang menggunakan hijab.


Oza langsung mengambil ke dua foto yang berada di hadapan Maria kemudian memasukkannya ke dalam laci.


“Terima kasih Maria, aku akan memilih wanita yang kamu pilih,”


“Sama-sama, apa aku boleh keluar?”


“Silakan,”


Maria langsung beranjak dari duduknya kemudian segera keluar dari ruang kerja Oza.


Air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya meluncur bebas membasahi pipinya, ketika Maria sudah keluar dari dalam ruang kerja Oza, kemudian Maria berjalan dengan terburu buru menuju toilet.


“Bodoh kamu Maria, untuk apa kamu menangis, ini tidak benar kamu harus ingat, ini tidak benar. Buang perasaan kamu pada Oza. Jangan sampai kamu bersedih hanya karena kamu menyukainya dalam diam. Kamu tahu jodoh di tangan Tuhan,” ucap Maria sambil menunjuk dirinya sendiri pada cermin yang ada di hadapannya, saat dirinya sedang berdiri di depan wastafel yang ada di toilet.


“Tapi aku tidak bisa begini, aku akan mengatakan sejujurnya tentang perasaanku, apa pun jawabnya aku akan ikhlas menerimanya, yang terpenting aku sudah mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku padanya,” ujar Maria sambil menghapus air matanya dan keluar dari dalam toilet dengan terburu buru.


 


 Bersambung..................


 


 

__ADS_1


__ADS_2