
“Merin,”
“Merin,” ucap Mario dan juga Lery bergantian, saat putrinya yang datang bersama dengan pengasuhnya yang mengikutinya dari belakang.
“Papa, Mama,” Merin menghambur memeluk Mario yang sudah merentangkan tangannya menyambut kedatangannya.
Merin melepas pelukan Mario dan berjalan menghampiri Lery yang sedang tersenyum ke arah Merin dan melambaikan tangannya agar mendekat ke arahnya yang sedang duduk di atas ranjang sambil menyusui si kembar.
“Mama oke? Mama baik-baik saja?” tanya Merin begitu menggemaskan saat sudah mendekati Lery.
“Mama oke sayang, dan mama baik-baik saja, Merin sini,”
Lery menepuk tempat di sebelahnya agar Merin duduk di sampingnya. Lalu Mario mengangkat tubuh sang putri dan mendudukkannya di samping sang istri.
“Mama,” ucap Merin sambil bersabar di bahu Lery.
“Ada apa sayang?”
“Apa adik aku semua boy?”
“Iya sayang memangnya kenapa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Lery, Merin malah menangis, membuat Mario dan juga Lery bingung.
__ADS_1
“Sayang kenapa kamu menangis?” tanya Lery sambil memeluk anak sambungnya dan membawa ke dalam pelukannya setelah menaruh salah satu anak kembarnya di sampingnya.
“Aku tidak punya teman,”
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa di sekolah ada yang tidak suka denganmu? Apa si kembar tidak ingin berteman denganmu?”
“Tidak, bukan itu Ma,”
“Terus kenapa kamu menangis sayang?” tanya Lery sambil meraup wajah sang putri dan menghapus air matanya.
“Aku mau adik girl bukan boy Ma, agar aku bisa bermain boneka bukan bermain mobil mobilan,”
Mendengar jawaban sang putri Lery menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya. Tapi tidak dengan Mario yang tersenyum bahagia dan menghampiri keduanya.
“Apa Merin ingin punya adik girl?” tanya Mario dan Merin pun langsung menganggukkan kepalanya. “Tenang saja sepulang dari rumah sakit mama dan juga papa akan memberi adik girl untuk Merin,”
“Tentu saja tidak, kalau tidak percaya tanya sama mama,”
Lery langsung melotot ke arah Mario setelah mendengar perkataannya.
“Ma, apa benar yang di katakan papa?”
“Tentu sayang, karena mama sayang dengan Merin, dan apa pun yang Merin inginkan pasti mama kabulkan,” jawab Mario sebelum sang istri menjawabnya.
__ADS_1
“Terima kasih Ma, aku sayang Mama, dan aku tunggu adik girl, dari perut Mama ini,” ucap Merin lalu menciumi perut Lery.
Dan Lery terus menatap kesal ke arah Mario yang sedang tersenyum sambil menunjukkan jari ibunya yang di himpit jari telunjuk dan juga jari tengahnya.
*
*
*
Maria berjalan menuju tempat tidur setelah dirinya membersihkan wajahnya. Dan matanya tertuju pada Juano yang sudah memejamkan matanya di atas tempat tidur.
Dengan perlahan Maria naik ke atas tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut yang sama yang digunakan oleh Juano.
Maria membalik tubuhnya untuk menatap Juano, dengan perasaan yang tidak bisa di artikan. Senyum terukir dari kedua sudut bibirnya saat menatap lekat wajah Juano, mengingat kembali Juano begitu romantis saat mengajaknya berdansa di pinggir kolam renang tidak jauh dari gazebo setelah keduanya menyelesaikan makan malam.
“Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta padaku, sebelum aku membuktikan padamu betapa besarnya cintaku padamu,”
Maria begitu terkejut mendengarkan perkataan Juano, yang ternyata belum tidur. Lalu Maria segera membalik tubuhnya dengan perasaan malu.
Tapi detik kemudian Juano mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
“Ano,” ucap Maria dengan pelan.
__ADS_1
“Aku tahu kamu belum siap, dan aku tidak akan pernah memaksamu Maria. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi izinkan aku untuk tidur sambil memelukmu seperti ini,” pinta Juano dan Maria pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Maria, lalu Juano pun langsung mengeratkan pelukannya.
Bersambung........................