
Maria terus tertawa saat mama Dina menceritakan jika Juano tidak sama sekali menyukai semua jenis hewan, tidak seperti kebanyakan anak laki-laki pada umumnya.
“Jadi hingga saat ini Ano belum pernah sama sekali mengunjungi zoo?” tanya Maria terkejut dan terus menahan tawa, saat mama Dina memberi tahu Maria, jika dari kecil Juano tidak pernah mau bila di ajak bertamasya ke kebun binatang.
“Iya sayang, makanya tadi dia begitu terkejut saat dia tahu kamu menginginkan acara resepsi di adakan di taman Safari, apa kamu tidak ingin mencari tempat lain?”
“Tidak Ma, aku tetap menginginkan acaranya di adakan di sana,”
Juano yang sedang terbaring di atas ranjang dan juga sudah sadarkan diri, beranjak dari tidurnya menghampiri mama Dina dan juga Maria yang sedang duduk di sofa yang terdapat di ruang perawatannya.
“Sayang, aku mohon cari tempat lain, kalau nanti tiger dan juga teman temannya datang dan memberi selamat pada kita bagaimana, aku belum menunjukkan padamu betapa kokohnya milikmu, sudah di makan duluan sama mereka,” ujar Juano dan mendudukkan tubuhnya di samping Maria,”
“Jangan mengada ada itu tidak mungkin, sudah jangan seperti anak kecil, masa sama binatang saja takut, cemen amat malu sama bayi,”
“Sayang aku mohon,” pinta Juano sambil memeluk bahu Maria di akhiri dengan menyandarkan kepalanya di bahunya.
“Kalian itu serasi sekali,” ujar mama Dina saat melihat kemesraan yang ada di hadapannya apa lagi saat tangan Maria mengelus kepala Juano. “Benar apa yang di katakan Maria, malu sama anak kecil masa begitu saja takut, mama rasa tidak masalah sekali kali mengadakan acara resepsi yang berbeda dengan yang lainnya, ini juga untuk sekali se umur hidup iya kan sayang,” ujar mama Dina sambil menatap Maria yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Tapi Ma–
__ADS_1
“Tidak ada tapi tapian, mama setuju dengan keinginan Maria,” mama Dina memotong perkataan sang putra kemudian beranjak dari duduknya. “Mama tinggal dulu, ada urusan yang harus mama selesaikan, bay sayang,”
Setelah kepergian mama Dina dari ruangan tersebut, Juano masih dalam posisinya saat merasakan nyaman.
“Ano,” Maria coba menyingkirkan kepala Juano.
“Biarkan sejenak lagi aku bersandar di sandaran paling nyaman,”
“Loyo, kamu tidak pantas menggombal, singkirkan kepalamu,”
“Tidak mau, aku mengatakan yang sebenarnya, dan sekali lagi terima kasih karena kamu tidak menolakku Maria, dan aku berjanji akan menjadikan ratu di dalam rumah tangga kita,”
Maria yang mendengar perkataan Juano langsung menyingkirkan kepalanya dengan kasar lalu menghadap ke Juano.
“Ko begitu sih, ya tidak lah,”
“Bagaimana tidak, ratu, raja, selir itu berkaitan loyo,”
“Iya juga ya, ya sudah aku tarik ucapanku tadi, dan kamu akan selalu aku banggakan dan menjadi satu satunya ibu dari anak anakku nanti,”
__ADS_1
“Tuh kan, aku bukan pahlawan yang harus di banggakan,”
“Ya ampun Maria, sekali saja kamu tersanjung gitu dengan kata-kata yang terlontar dari bibirku,”
“Sekarang bukan saatnya banyak bicara, tapi–“
Maria menghentikan ucapannya saat Juano tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga terjatuh di atas sofa dengan posisi terlentang.
"Aku tidak akan berbicara, tapi aku akan membuktikannya."
“Ano!” teriak Maria tapi tidak di hiraukan oleh Juano yang langsung mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Maria.
Dan Maria yang mendapat ciuman mendadak dari Juano, hanya pasrah dan memejamkan matanya menikmati sentuhan kenyal yang sungguh berbeda apa lagi saat Juano menyesap bibirnya, seakan ada rasa aneh keluar dari dalam tubuhnya, dan reflek Maria melingkarkan tangannya di leher Juano.
Brak!
Seseorang membuka pintu ruang perawatan Juano, dan mengakhiri ciuman panas dari keduanya.
__ADS_1
Bersambung.........................