
Maria yang mendengar perkataan mama Dina, mengalihkan pandangannya pada Juano yang sedang menundukkan kepalanya.
“Aku tahu apa yang ingin kamu katakan Maria, aku akan menerima kenyataan pahit ini. Tuhan bantu aku untuk berlapang dada menerima semuanya.”
Juano bergumam dan terus menundukkan kepalanya dengan perasaan yang campur aduk, hingga keringat dingin yang berada di dahinya mulai keluar dari pori-pori.
“Sayang, mama disini kenapa kamu malah menatap ke arah Ano, Ano tidak akan pergi ke mana pun, dia akan terus berada di sampingmu, asal kamu tahu dia seharian sibuk untuk mengurus acara pernikahan kalian, sampai dia lupa makan, dan sekarang giliran waktunya sudah senggang dia malah hanya mengacak acak makanan yang ada di piringnya,” jelas mana Dina dan satu tangannya meraih tangan Maria dan menggenggamnya.
“Dan sekarang apa yang ingin kamu katakan sayang?”
“Em,” entah mengapa kata-kata yang sudah dari tadi Maria susun enggang keluar dari bibirnya.
“Sayang kenapa?”
Maria yang mendengar pertanyaan mama Dina, coba untuk mengutarakannya lagi, tapi lagi dan lagi mulutnya seakan terkunci, kemudian Maria memejamkan matanya dan membuang nafas dengan perlahan.
“Ya Tuhan kenapa susah sekali untuk mengatakan tidak, aku tidak ingin menyakiti siapa pun, jika aku terus bersandiwara apa lagi dengan menikah, sesuatu yang sangat sakral, aku harus bisa menolak,” gumam Maria di sela-sela hembusan nafasnya yang keluar bibirnya.
“Maria ada apa denganmu? Apa kamu sakit?”
Tanya Mario dan beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang adik yang terlihat tidak baik-baik saja,”
“Tidak hanya saja–
Bruk!
__ADS_1
Tiba-tiba kepala Juano ambruk di atas meja dan menghentikan perkataan Maria.
“Sayang!”
“Ano!”
Teriak mana Dina dan juga yang lainnya bergantian, kemudian semuanya beranjak dari duduknya menuju ke arah Juano untuk membangunkannya, begitu pun dengan Maria yang begitu kuatir
*
*
*
Juano membuka matanya perlahan saat dirinya sudah terbaring di atas ranjang, dan tangan kirinya memegangi keningnya saat dirinya merasa pusing, matanya tertuju pada tangan kanannya yang terasa linu ketika jarum infus sudah terpasang di sana, kemudian mata juano mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tempatnya kini berada, dan pandangannya berhenti pada mama Dina yang sedang duduk di atas kursi tidak jauh dari dirinya.
“Sayang kamu sudah bangun?”
Mana Dina bertanya saat sudah di dekat sang putra sambil mengelus rambutnya dan senyum kebahagiaan terus terukir dari kedua sudut bibirnya.
“Kenapa aku ada di sini ma?”
“Apa kamu lupa beberapa jam lalu kamu jatuh pingsan?”
“Maaf ma,” ujar Juano saat sudah mengingat semuanya.
__ADS_1
“Untuk apa sayang, kamu tidak salah. Harusnya mana yang minta maaf padamu, karena mama begitu antusias dengan pernikahan kalian, dan mama menyuruhmu untuk mengurus berkas- bekas pernikahan kalian seorang diri, dan membuat kamu kelelahan dan jatuh pingsan seperti ini,”
“Bukan itu ma tapi...”
Juano menghentikan perkataannya dan matanya kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tersebut.
“Apa kamu sedang mencari Maria sayang?” tanya mana Dina tahu apa yang sedang di cari oleh sang putra dan Juano langsung menganggukkan kepalanya.
“Ma,”
“Kenapa sayang?”
“Maaf,”
“Untuk apa lagi?”
“Pasti Maria sudah mengatakan pada mama semuanya bukan?”
“Tentu, dan mama kecewa padamu sayang,”
Deg!
Juano yang mendengar perkataan mana Dina seketika merasakan sesak di dadanya.
Bersambung.......................
__ADS_1
Dikit ya nanti siang lagi, jangan lupa like komen meskipun hanya lanjut, nex, up atau apalah,,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣wkwkwkwkwk