
Lery tidak menjawab pertanyaan Mario, karena dirinya langsung menunjuk ke arah seseorang yang berdiri di samping penjual cilok yang di kerumuni pembeli.
“Itu bukannya–
“Camel,” sambung Lery memotong perkataan Mario.
“Untuk apa dia ada di situ, apa dia mau beli cilok juga?”
“Entah lah,” jawab Lery yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Camel. Yang begitu mencolok di tengah kerumunan banyaknya wanita yang sedang antri membeli cilok.
“Lery, kamukah itu?” tanya Camel sambil tersenyum saat Lery sudah mendekatinya dan menarik tangannya menjauhkan dari kerumunan tersebut.
“Kenapa kamu ada disini?” tanya Lery untuk meminta penjelasan, pasalnya setahu Lery, Camel adalah wanita yang anti dengan tempat-tempat seperti ini, dan berkerumun dengan orang-orang yang jelas-jelas jauh dari kelasnya, karena selama mengenal sahabatnya tersebut, tempat mainnya hanya di klub malam dan juga kafe elite.
“Aku sedang menemani calon suamiku berjualan cilok,”
Lery yang mendengar jawaban Camel langsung tertawa.
“Camel, Camel. Apa kamu sudah tidak waras,” ujar Lery dan terus menertawakan Camel. “Sejak kapan seleramu turun drastis jadi kang cilok?”
“Seleraku tetap sama berondong tampan, yang bisa membuat aku klepek-klepek dan juga basah, dan aku jatuh cinta padanya,”
Lery yang mendengar jawaban dari sahabatnya tersebut, menoleh ke arah penjual cilok yang belum sempat dirinya perhatikan.
Dan alangkah terkejutnya Lery, saat mendapati penjual cilok tersebut sangat lah tampan, melebihi tampannya Mario. Dan Lery lebih terkejut lagi, pria tersebut masih sangat muda.
“Jangan terkesima, dia calon suamiku. Kamu sudah memiliki Mario,”
__ADS_1
Camel berkata sambil menepuk bahu Lery yang masih terus menatap pria yang Camel klaim sebagai calon suaminya.
“Tampan kan, apa lagi itunya, besar panjang beh, bikin nagih pokoknya,”
Lery menyipitkan matanya ke arah Camel mengisyaratkan Camel untuk menceritakannya.
“Ceritanya panjang, kamu tidak akan paham,”
“Apa kamu sudah tidur dengannya? Apa dia salah satu berondong bayaran yang sering kamu gunakan jasanya? Kamu tahu bukan, mereka sering memeras sugar mommy seperti dirimu,”
“Tapi dia berbeda, dan dia bukan salah satu berondong yang sering aku sewa,”
“Tapi kamu bilang tadi, miliknya besar dan panjang, kalau kamu tidak menyewanya terus?” tanya Lery penasaran.
“Ceritanya panjang, dan dia berbeda dengan para berondong yang aku sewa, dan dia sudah membuat aku terkesima, kamu pikir saja, kalau dia ingin memerasku tentu saja dia tidak akan berjualan cilok, hingga dini hari demi keluarganya,”
“Aku pastikan itu tidak mungkin, aku sudah mengenal dia dan juga keluarganya,”
“Tapi dia masih bocah Camel, kamu jangan bercanda dan ingin menikah dengan dia,”
“Dia sudah dua puluh tahun, dan itu sudah cukup umur untuk menikah Lery,”
“Dua puluh tahun? Apa kamu tidak bercanda? Kamu sendiri sudah mau menginjak usia kepala empat, apa kamu tidak berpikir dulu, terlebih lagi dia penjual cilok, bagaimana reaksi anak kamu dan juga papi kamu, kalau kamu akan menikah dengan seseorang yang derajatnya jauh dari kamu?”
“Ya ampun Lery, kenapa kamu bicara tentang derajat apa kamu tidak ingat kamu menikah dengan siapa?”
Lery yang mendengar pertanyaan Camel langsung terdiam karena yang di katakan oleh Camel benar adanya.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, anakku dan juga papi pasti akan menerima dia,”
“Jika dia?”
“Aku akan terus berusaha, agar mereka menerima calon suamiku, karena aku yakin meskipun dia usianya lebih muda dariku, dia pria yang bisa menjadi kepala keluarga yang baik untukku dan juga putriku,”
“Mudah mudahan, aku berdoa untuk kebaikanmu,” sambung Lery, saat dirinya tahu Camel mengatakannya dari dalam hatinya.
“Ya ampun sayang lihatlah, aku mengantri dari tadi, tapi aku hanya dapat cilok empat biji karena sudah habis terjual.”
Mario menghampiri sang istri sambil menentang plastik yang berisi empat buah cilok yang sudah di beri saus kacang dan juga kecap.
“Aku tahu sekarang kamu hobi makan cilok, baiklah besok aku akan membawakan cilok buatan calon suamiku ke rumahmu, dan sekarang aku pamit dulu bay,” ujar Camel sambil mencium pipi Lery kemudian berjalan menghampiri pria yang dirinya sebut calon suaminya.
Mario yang mendengar perkataan Camel langsung melongo.
Bersambung.............
Jangan menyuruhku untuk bikin kisah Camel di sini, 😅😅😅😅😅
Karena Camel akan di buatkan novel sendiri, tapi entah kapan.🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 wkwkwkwk
__ADS_1