
Juano yang mendengar Maria memanggil namanya langsung menepikan mobilnya dan menghentikannya.
“Kenapa berhenti?”
“Aku adalah salah satu orang yang mematuhi peraturan berkendara, jadi berbicara saat mobil sudah berhenti,”
“Pret, tidak ada peraturan yang melarang orang berbicara saat sedang menyetir, kamu jangan mengada ada. Cepat lajukan mobilnya, kalau aku terlambat dan di pecat, aku tidak ada pemasukan lagi loyo,”
“Kamu tinggal bekerja di perusahaanku gampang bukan?”
“Ogah kalau harus menjadi rekan kerjamu,”
“Meskipun dengan gaji dua kali lipat?”
“Hooh, tabungan aku sudah lebih dari cukup, jadi sekarang yang aku cari tinggal cinta, siapa tahu aku bisa mendapatkan Oza, kalau sudah menjadi nona Oza, aku juga bisa mendapatkan hartanya juga, iya kan,”
“Dasar matre,”
“Kebutuhan,” sambung Maria dengan tersenyum.
“Kalau jadi istriku mau tidak?”
“Jangan bercanda tidak asyik. Dasar loyo,”
“Iya iya maaf. Oh Iya tapi kamu memanggilku ada apa?”
“Apa ya, aku lupa,” jawab Maria sambil nyengir kuda ke arah Juano yang langsung menggelengkan kepalanya dan melajukan mobilnya kembali. “Oh iya aku ingat. Kenapa kamu belum kembali ke Singapura?”
__ADS_1
“Oh itu, aku ada urusan lagi selama seminggu,”
“Urusan apa?”
“Kepo,” jawab Juano singkat dan tersenyum ke arah Maria yang kebetulan sedang melotot ke arah Juano.
“Dasar loyo menyebalkan,”
“Biarin. Oh iya kamu cek saja m banking kamu,”
“Apa kamu sudah mentransfer sisa bayaranku?” tanya Maria antusias dan Juano langsung menganggukkan kepalanya.
Kemudian Maria mengambil ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas. Dan seketika mata Maria langsung melotot sambil menatap layar ponselnya saat sudah mengecek m banking nya.
“Ano,”
“Heem,”
“Tidak. Itu sekalian bonus, karena kamu susah menemaniku malam itu dan juga saat ke acara resepsi pernikahan Elis.”
“Terima kasih,”
Maria berkata dan dengan reflek langsung memeluk lengan Juano. Senyum terukir dari bibir Juano dan tangan kanannya langsung mengelus rambut Maria dengan wangi segar yang membuat Juano merasakan tenang.
“Apa apaan sih aku bukan anak SD, singkirkan tanganmu,” ujar Maria saat mengetahui tangan Juano mengelus rambutnya dan Maria langsung menampiknya.
“Maaf, tapi aku lihat sepertinya di rambut kamu ada ketombe,”
__ADS_1
“Jangan mengadi adi, rambutku bebas ketombe,”
“Aku yang melihatnya,”
“Tapi aku yang memiliki kepala,”
“Apa kamu bisa melihat kepalamu sendiri, tidak kan?”
“Oh iya kamu benar juga,” sambung Maria kemudian mengambil cermin yang selalu ada di dalam tasnya. Dan Juano yang melihat tingkat laku Maria langsung tersenyum.
“Bersiaplah Maria, ada kejutan yang tidak bisa kamu tolak,” gumam Juano dalam hati sambil mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya.
*
*
*
Tepat pukul sembilan pagi Maria sampai tepat di lobi perusahaan tempat dirinya bekerja, dan dengan terburu buru Maria turun dari mobil Juano saat mengingat jam sepuluh akan di adakan rapat yang di pimpin oleh Oza.
Juano hanya bisa tersenyum sambil menatap punggung Maria yang berlari menuju lift, kemudian Juano mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.
Maria yang sudah sampai meja kerjanya langsung bergegas menyiapkan berkas-berkas yang akan di bawanya ke ruang rapat.
Tapi belum lama Maria duduk dan fokus di hadapan layar laptop, telepon interkom di mejanya berbunyi, dan Maria langsung mengambil gagang telepon tersebut saat telepon interkom berasal dari ruangan yang biasa digunakan Mario yang sekarang di gantikan sesaat oleh Oza.
“Halo,” ucap Maria saat sudah menaruh gagang telepon tepat di telinganya. “Baik,” ucap Maria lagi yang langsung beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju ruangan Oza.
__ADS_1
Bersambung..................
Jangan bilang sedikit, yang bilang sedikit yuk kita ngopi nanti tak bisikin gimana pusingnya pala barbie 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 wkwkwkwkwk