
Satu minggu kemudian
Sudah satu minggu sejak Mario di nyatakan koma. Dan sudah satu minggu ini belum ada tanda-tanda Mario akan sadarkan diri. Dan juga sudah satu minggu Lery selalu berada di rumah sakit menemani sang suami. Dan selalu berada di dalam ruang ICU saat dokter memperbolehkan Lery untuk masuk ke dalam untuk berinteraksi langsung dengan Mario untuk memancing sistem motorik berharap Mario akan segera sadarkan diri. Seperti sekarang ini Lery terus menggenggam tangan Mario dan menatap wajah Mario yang terlihat pucat dengan banyaknya alat medis yang menempel di seluruh tubuhnya.
“Mario sayang apa kamu tidak merindukan aku? Kenapa kamu tidur begitu lama di sini. Pulanglah apa kamu tidak ingin tidur sambil memeluk aku? Mario kenapa kamu diam saja? Kamu tahu Merin dan juga Marco sangat merindukan kamu. Dan menunggu kamu pulang dan ingin bermain bersamamu,” ucap Lery diakhiri dengan menghembuskan nafasnya kasar dan air mata yang selama ini dirinya tahan jatuh juga. Karena sudah bermacam macam cara Lery lakukan untuk merangsang sistem motorik tapi tetap saja hasilnya nol besar. Lery yang sudah tidak memiliki perkataan yang akan dikatakan lagi langsung merebahkan kepalanya di samping lengan Mario ketika dirinya duduk di kursi samping ranjang Mario. Dan itu yang selalu dilakukan Lery selama seminggu ini siang maupun malam tidak peduli kepada kesehatannya sendiri.
“Baiklah Mario aku sudah lelah seperti ini. Tidurlah sesuka hatimu aku tidak peduli lagi. Percuma aku mengharap dirimu untuk pulang. Karena aku tidak ingin melihat kacung seperti dirimu,” ucap Lery sambil menegakkan kepalanya dan menghapus air matanya kemudian beranjak dari duduknya. Dan ingin meninggalkan ruang ICU tersebut tapi dirinya urungkan saat melihat pergerakan jari-jari Mario. Membuat Lery langsung menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter.
Lery terus mondar mandir tepat di depan ruangan di mana Mario mendapat perawatan khusus. Saat dokter menyuruhnya untuk menunggu di luar ruangan.
“Ya Tuhan kabulkan permintaanku sadarkanlah suamiku,” gumam Lery penuh harap karena tadi dia yakin melihat jari-jari Mario yang bergerak.
“Sayang ada apa?” tanya mommy Lery yang tiba-tiba datang saat melihat putrinya terus saja mondar mandir.
__ADS_1
“Mommy,” ucap Lery yang langsung memeluk sang mommy. “Mom aku melihat jari-jari Mario bergerak,” ucapnya sambil tersenyum ke arah mommynya. Senyum yang baru sekarang terukir dari kedua sudut bibirnya setelah sekian lama senyum tersebut hilang.
“Syukurlah sayang akhirnya doa kamu terkabul,” ujar mommynya tapi tidak dihiraukan oleh Lery yang langsung menarik tangan sang mommy menuju ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan Mario.
“Bagaimana dok keadaan suamiku. Tadi aku benar-benar melihat jari-jari suamiku bergerak,”
“Saya tidak bisa mengatakan apa pun lagi,”
“Kenapa dokter mengatakan itu?” sambung Lery dengan cemas dan senyum yang sedari tadi menghiasi bibirnya langsung lenyap entah ke mana.
“Benarkah dok. Terima kasih Tuhan,” ucap Lery yang langsung memeluk sang mommy.
“Benar, tapi kita harus terus memeriksa keadaan tuan Mario. Sebelum di pindah ke ruang perawatan,” terang dokter tersebut.
__ADS_1
“Baik dok terima kasih sebelumnya,”
*
*
*
Setelah Mario menjalani pemeriksaan lebih lanjut selama hampir tiga jam. Akhirnya Mario dipindah ke ruang perawatan. Saat dokter memastikan semua sistem motorik dan organ tubuh Mario sudah kembali seperti sedia kala.
Lery yang sudah berada di dalam ruang perawatan Mario langsung menghampiri Mario yang masih memejamkan matanya di atas ranjang. Kemudian Lery langsung membelai wajah Mario saat tidak ada lagi alat medis yang menempel di tubuh Mario seperti saat di dalam ruang ICU. Dan Lery langsung tersenyum saat Mario membuka matanya.
“Mario suamiku akhirnya aku...”
__ADS_1
“Siapa kamu?” tanya Mario memotong perkataan Lery.
Bersambung...........