Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
71 Sad Boy


__ADS_3

Maria yang baru keluar dari kamarnya dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya, untuk berangkat ke kantor saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi langsung menuju meja makan untuk sarapan yang sudah di sediakan oleh mbok Jum.


Maria yang sudah duduk di kursi meja makan terus saja menguap saat dirinya masih merasakan kantuk yang luar biasa. Bagaimana tidak, karena dirinya baru saja tidur, saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, ketika dirinya harus mengurus pria asing yang sama sekali tidak dirinya kenal. Saat Maria memutuskan membawa pria tersebut untuk pulang ke rumahnya.


“Mbok. Apa pria itu sudah bangun?” tanya Maria pada mbok Jum yang sedang menyantap sarapan bersama dengan nya. Saat Maria sudah menganggap mbok Jum sebagai kerabatnya sendiri, dan Maria selalu meminta mbok Jum untuk makan bersama.


“Belum non. Memang siapa pria itu? Apa pacar non Maria?”


“Enak saja. Aku kenal juga tidak mbok,”


“Terus kenapa non Maria membawa dia pulang ke rumah?”


“Karena aku tidak tahu harus membawanya ke mana,” jawab Maria. “Sudahlah mbok jangan di bahas lagi aku sudah lapar dan ingin sarapan,”


“Baik non,”

__ADS_1


Setelah selesai menyantap sarapannya Maria langsung menuju kamar yang sering Mario tempati saat berkunjung ke rumah tersebut, untuk melihat pria asing yang dirinya bawa pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kemudian Maria langsung menarik selimut yang masih menutupi tubuh pria tersebut untuk membangunkannya, tapi tetap saja pria tersebut tidak berkutik sedikit pun.


“Oh jangan salahkan aku. Jika aku berbuat kasar padamu, dasar sad boy,” ucap Maria saat mengingat pria tersebut sangat menyedihkan, hanya karena di tinggal kekasihnya sudah membahayakan dirinya sendiri dengan cara mengemudi dalam keadaan mabuk berat. Kemudian Maria mengambil gelas kaca yang terisi penuh dengan air putih yang terdapat di meja nakas di samping kanan tempat tidur tersebut. Dan Maria langsung menyiram air tersebut ke wajah pria asing yang begitu tampan dan dilihat dari wajahnya masih sangat muda.


“Sial!” teriak pria tersebut yang langsung membuka matanya dan terbangun dari tidur lelapnya. “Aku ada di mana? Dan kamu siapa?” tanya pria tersebut ketika dirinya baru sadar, di mana dirinya sekarang berada dan terlebih lagi melihat Maria  yang sedang bertolak pinggang sambil menatapnya tajam.


“Aku penculik. Dan aku akan meminta tebusan kepada orang tuamu. Aku tahu kamu dari kalangan atas pasti keluarga kamu banyak uang bukan? Tidak usah banyak-banyak lima milyar saja. Modal aku keliling dunia,” jawab Maria sambil tersenyum sinis.


“Jangan bercanda. Aku tahu kamu orang baik,”


“Siapa bilang,” sambung Maria sambil menarik tangan pria tersebut untuk turun dari tempat tidur. “Sekarang bangunlah dan segera keluar dari rumahku, rumahku ini bukan hotel dan juga penginapan yang seenaknya saja dimasuki orang asing,”


“Kenapa dia tahu. Apa dia...” Maria menghentikan perkataannya dan segara keluar kamar menyusul pria asing tersebut.


Setelah Maria keluar dari dalam kamar, Maria tidak sama sekali mendapati pria tersebut.

__ADS_1


“Ke mana dia apa dia bisa teleportasi. Secepat itu dia menghilang,”


“Baru saja dia keluar rumah dengan terburu buru non,” ujar mbok Jum yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


“Dasar sad boy tidak tahu berterima kasih dengan benar. Setidaknya berikan uang atau apa ke, mobil juga aku tidak menolak. Karena sudah menolongnya. Tidak tahu apa aku sudah mengangkat tubuhnya yang berat itu,” gerutu Maria sambil menuju meja makan untuk mengambil tas miliknya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Tapi saat dirinya sudah mengambil tas dan membalik tubuh nya, Maria langsung terkejut saat pria tersebut sudah berada tepat di belakang nya.


“Ish kau mengagetkan aku saja,” ujar  Maria sambil mengelus dadanya. “Aku kira...”


“Kamu kira apa? Aku akan pergi tanpa memberi imbalan padamu?” tanya pria tersebut memotong perkataan Maria.


“Iya, kamu tahu kan sekarang, semuanya membutuhkan uang,”


“Dan ini imbalan untukmu karena sudah menolongku,” sambung pria tersebut sambil memberikan amplop di tangan Maria kemudian segara pergi meninggalkan Maria. “Dimana mana wanita sama saja semuanya di ukur dari uang,” gerutu pria tersebut.

__ADS_1


“Aku mendengarnya sad boy. Karena uang segalanya. Kalau tidak ada uang kamu bisa apa sad boy!” teriak Maria saat dirinya mendengar apa yang di katakan pria tersebut. Lalu menatap amplop yang berada di tangannya dengan tersenyum senang.


Bersambung................


__ADS_2