Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
17 Papa Mario


__ADS_3

 


“Apa saudaramu menghubungimu dan menyuruhmu untuk mengunjungi nya?” tanya Lery setelah Mario menutup sambungan ponselnya.


“Aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengizinkanku,”


“Aku membutuhkan kamu disini Mario,”


“Baiklah aku tidak akan pergi,” ucap Mario sambil mencium pipi anak Lery.


“Jangan terus menciuminya. Kamu belum mandi kata dia papa Mario bau,”


“Apa kamu tidak salah dengan apa yang kamu katakan?”


“Tidak. Aku tidak salah. Kalau kamu tidak ingin di panggil papa juga tidak masalah. Aku juga tahu anak ini bukanlah anak kamu. Aku saja yang terlalu berlebihan. Jadi maafkan aku,”

__ADS_1


“Bukan itu maksudku Lery. Aku sungguh merasa senang dengan apa yang kamu katakan tadi,” sambung Mario dan terus menciumi anak Lery karena pada dasarnya Mario sangat menyayangi anak kecil.


“Mario,” panggil Lery dan Mario langsung menatap ke arah Lery.


“Ada apa?”


“Aku ingin minta tolong kepadamu. Sampaikan kepada Brian anaknya sudah lahir. Bagaimana pun dia harus tahu kalau aku sudah melahirkan dan Marco adalah anaknya. Aku sudah coba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Dan aku pernah datang ke apartemennya tapi dia tidak tinggal lagi di sana,” jelas Lery membuat Mario langsung tersenyum sinis.


“Dan untuk satu ini aku tidak ingin membantumu. Aku sudah pernah mengatakan padamu jauh-jauh hari siapa Brian. Tapi kamu tidak percaya. Dan sekarang aku tidak ingin dia menyakitimu tepatnya menyakiti Marco anak kamu. Kalau tahu siapa ayah kandung yang sebenarnya yang tidak mengakui anak kamu ini sebagai anaknya,”


“Sekarang aku tanya padamu. Apa kamu pernah berubah dengan sikap dan prilaku kamu?”


“Apa kamu sedang memojokkan aku Mario,”


“Kamu pikir sendiri,” sambung Mario yang langsung mengangkat anak Lery dan menimangnya.

__ADS_1


 


*


*


*


Dua bulan kemudian.


Setelah usia Marco menginjak dua bulan. Lery sudah memulai aktivitasnya seperti semula dan sibuk dengan perusahaannya yang hampir dua bulan dirinya tinggal. Meskipun begitu Lery tetap memberikan asi eksekutif untuk Marco. Hubungannya dengan Mario pun masih sama bagaikan orang asing yang tinggal satu rumah. Hanya saja sekarang Lery bisa menjaga ucapannya terhadap Mario meskipun tidak seratus persen. Karena saat Lery sedang lelah dengan pekerjaannya penghinaan untuk Mario masih saja terlontar dari mulutnya. Kadang membuat Mario begitu jengah kepada Lery dan tidak hanya sekali dirinya berniat untuk keluar dari rumah. Tapi selalu dirinya urungkan saat menatap Marco bayi gembul yang selalu membuat harinya menjadi lebih baik meskipun Marco bukanlah darah dagingnya. Karena Marco selalu ingin dekat dengan Mario di banding dengan Lery ibu kandungnya sendiri. Seperti hari ini di akhir pekan Marco terus menangis di dalam gendongan Lery dan juga pengasuhnya. Dan Mario yang ingin keluar rumah untuk mengunjungi Merin anaknya, saat sudah hampir dua bulan Mario tidak pulang untuk menemui Merin. Dirinya urungkan dan langsung mengambil alih Marco dari gendongan Lery. Dan ajaibnya Marco langsung terdiam di gendongan Mario.


“Akhirnya bisa diam juga. Dan bagus kalau begitu,” ucap Lery yang langsung mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar Marco. “Oh iya Mario kamu tidak ingin ke mana-mana hari ini kan? Karena aku akan pergi bertemu dengan teman temanku setelah sekian lama aku tidak berkumpul dengannya. Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Lery yang keluar dari kamar Marco tanpa mendengar perkataan Mario yang ingin mengatakan sesuatu.


“Itulah mama kamu sayang. Papa harap nanti kamu bisa merubah mama kamu menjadi ibu yang baik untuk kamu dan bisa merubah sikap dan perilakunya. Iya sayang,” ucap Mario sambil menidurkan Marco di tempat tidurnya dan Mario langsung mengambil ponsel miliknya di dalam kantong celananya saat ponselnya berdering.

__ADS_1


*Like*Komen*Bersambung..............


__ADS_2