Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
95 Apa Adanya


__ADS_3

“Sayang,”


“Mama,” ujar Maria pada wanita paruh baya yang baru saja dirinya tabrak tepat di depan pintu kamar Juano.


Mama Dina langsung menatap ke arah Maria yang langsung memeluk mama Dina dan tangis Maria pun pecah di dalam pelukan mama Dina.


“Ano, apa yang terjadi?” tanya mama Dina pada putranya sambil memeluk Maria yang sedang menangis.


“Nanti aku jelaskan ma,”


“Mama tahu, Anton sudah menceritakan pada mama,”


“Menceritakan?”


“Iya, Anton memberi tahu mama kalau kamu menyuruh Maria menginap di sini,”


“Hanya itu?” tanya Juano penasaran, takut Anton memberi tahu yang sebenarnya terjadi, dan kebohongannya terbongkar.


“Memang apa lagi, ya hanya itu saja. Lagian juga tidak masalah Maria menginap disini,”


“Apa yang anda katakan?” tanya Mario dan menghampiri mama Dina dengan menahan marah saat mendengar perkataan wanita tersebut. “Anda ini wanita, tega sekali mengatakan hal seperti itu. Apa anda ingin menjerumuskan Maria untuk melakukan hal yang menjijikkan,” ujar Mario sambil menarik tangan Maria.


“Kamu siapa? Seenaknya saja menarik tangan menantuku,” sambung mama Dina dan menarik Maria ke dalam pelukannya lagi.


“Menantu?” tanya Mario penasaran.

__ADS_1


“Iya. Karena tidak akan lama lagi Maria dan Ano akan menikah,”


“Menikah?” tanya Mario sambil menatap ke arah Ano.


“Iya. Dan kamu siapanya Maria?”


“Aku kakaknya,”


“Apa Maria tidak memberi tahu kamu, jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih sejak lama? Dan tidak lama lagi mereka akan menikah. Dan tenang saja meskipun mereka berada di dalam kamar yang sama tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan,” jelas mama Dina sambil tersenyum ramah ke arah Mario saat dirinya tahu jika Mario adalah kakak kandung Maria.


“Apa anda sudah tidak waras? Pria dan wanita berada di dalam satu kamar, apa lagi kalau bukan—


“Aku tahu siapa anakku. Dan lebih enak kita berbincang bincang di ruang tamu. Dan aku akan memberi tahu kamu sesuatu,” sambung mama Dina memotong perkataan Mario. “Jika kamu takut terjadi yang tidak-tidak. Kita bisa menikahkan mereka secepatnya,” ujar mama Dina membuat Maria yang berada di dalam pelukan mama Dina langsung menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya menatap mama Dina, begitu pun dengan Juano yang tidak percaya pada ucapan sang mama.


Kemudian mama Dina menuju ke ruang tamu yang sudah tertata rapi tidak seperti semalam, dan mama Dina langsung menceritakan semuanya agar Mario percaya.


Setelah kepulangan Maria dan juga Mario dari apartemennya Juano langsung masuk ke dalam kamarnya dengan kesal di ikuti oleh mama Dina dari belakang.


“Apa mama sudah puas mempermalukan aku, dan juga menjatuhkan harga diriku sebagai pria? Pertama pada Maria dan sekarang pada Mario,”


“Kenapa kamu berkata seperti itu. Mereka harus tahu sayang. Lagian kamu juga akan sembuh dengan rutin melakukan terapi. Dan Maria juga menerima kamu apa adanya iya kan?”


“Bukan apa adanya tapi karena ada maunya,” gumam Mario dalam hati, kemudian menuju ke dalam kamar mandi.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi dan melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya, Juano langsung menatap adik kecilnya heran, karena tadi sempat berdiri tegak saat sedang memeluk tubuh Maria. Pasalnya selama ini meskipun Elis sudah merangsang dengan berbagai macam cara, adik kecilnya tetap saja tertidur pulas.

__ADS_1


*


*


*


Mario langsung memeluk tubuh sang adik saat keduanya sudah berada di parkirkan mobil apartemen Juano.


“Maafkan kakakmu ini Maria, yang tidak percaya padamu dan juga sudah melukai hatimu dengan perkataanku tadi,”


“Aku sudah memaafkanmu. Aku kira kamu akan berubah dan tidak menuduh seseorang tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu,” ujar Maria sambil melepas pelukan Mario.


“Karena aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat, dan sekali lagi maafkan aku adikku sayang, karena sudah membuat kamu menangis di hari ulang tahunmu,” ujar Mario dan Maria pun langsung menatap sang kakak.


“Berarti hari ini juga ulang tahunmu, dan kamu sudah bertambah tua dong?”


“Terus bagaimana dengan kamu?”


“Ya tentu saja beda aku baru dua puluh enam tahun dan kamu sudah–


“Jangan bicara umur,” sambung Mario sambil membekap mulut sang adik. “Selamat ulang tahun adikku sayang, tapi apa kamu benar-benar ingin menikah dengan Ano yang tidak bisa berdiri?”


“Tentu saja tidak, yang aku mau hanya uangnya saja lah,” gumam Maria dalam hati sambil tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil.


Bersambung..................

__ADS_1


 


__ADS_2