Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
73 Makanan Enak


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, ketika Lery dan juga Mario baru sampai di kantornya. Dan Mario langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, sambil menatap punggung istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.


“Jangan menatapku apa kamu sudah bosan bekerja di sini?” tanya Mario kesal saat beberapa karyawannya menatap aneh dirinya. Bagaimana tidak, pasalnya di tangan kanan dan juga kirinya penuh dengan kantong plastik hitam yang berisi berbagai macam makanan yang di jajakan pedagang kaki lima yang Lery temui di sepanjang jalan menuju ke kantor.


Kemudian Mario menyusul sang istri yang sudah berdiri tepat di depan lift khusus, dan langsung masuk ke dalamnya saat lift tersebut sudah terbuka dan Mario segera menyusul sang istri.


“Sayang,”


“Hemm,” sambung Lery sambil bermain ponselnya.


“Buang saja ma ka nan i...” ucap Mario terbata saat Lery menatapnya dengan tajam.


“Itu makanan Mario. Kamu tahu mommy selalu memberi tahu aku. Kalau kita tidak boleh membuang buang makanan, itu namanya mubazir, dan itu namanya kita tidak bersyukur karena banyak di luar sana yang kekurangan makanan,”


“Ya sudah aku kasih ke mereka saja,”


“Mario!”


“Kenapa? Mommy juga pernah bilang padaku kalau kita itu harus bersedekah, dalam bentuk makanan, uang, tenaga dan masih banyak lainnya,”


“Tapi aku menginginkan makanan ini semua Mario,” sambung Lery sambil menunjuk kantong plastik yang berada di tangan suaminya.


“Apa kamu yakin?”

__ADS_1


“Tentu,”


“Tapi kamu tidak pernah memakan ini sayang dan...”


“Dan sekarang aku ingin memakannya,” sambung Lery memotong perkataan Mario.


“Tapi ini tidak higienis sayang,”


“Kata siapa?”


“Aku, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu sayang, karena telah makan makanan yang di jual di pinggir jalan,”


“Setidaknya tidak membuat orang mati kan,” ujar Lery kemudian keluar terlebih dulu dari dalam lift setelah lift tersebut sudah terbuka. “Dan jangan bicara apa pun lagi Mario,” ucap Lery saat Mario ingin mengatakan sesuatu dan Mario pun tidak jadi mengatakan apa yang akan dirinya katakan, dan langsung berjalan mengikuti sang istri.


Lery dan juga Mario langsung menghentikan langkahnya sebelum keduanya masuk ke dalam ruang kerjanya. Saat melihat Maria tidur dengan berbantalkan kedua tangannya di atas meja dengan nyenyaknya.


“Tidak bisa seperti itu. Dia harus profesional, dan ini saatnya dia bekerja bukannya molor,”


“Maria sangat profesional Ma...” ucapan Lery berhenti ketika Mario sudah menghampiri Maria dan Lery pun ikut menyusul menghampiri sang suami.


Brak


Mario menggebrak meja kerja Maria dengan kencang, membuat Maria hanya menggeliat dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


“Maria!”


“Apa sad boy. Ngomong-ngomong terima kasih ya uang yang kamu berikan lebih dari cukup. Besok lagi ya,” ucap Maria yang masih memejamkan matanya. Membuat Mario dan juga Lery langsung saling menatap mendengar perkataan Maria. Dan Mario langsung menggebrak meja kerja Maria dengan kencang sambil memanggil nama Maria. Membuat Maria langsung membuka matanya dengan terkejut.


“Mario, kakak ipar,” ucap Maria sambil membenarkan rambut dan juga kemeja yang di kenakannya kemudian mengukir senyum ke arah Lery. “Maaf keti...”


“Jelaskan apa yang baru saja kamu katakan,” sambung Mario memotong perkataan sang adik.


“Yang mana? Mau bicara saja sudah di potong perkataanku,”


“Maria! Jangan bercanda,”


“Aku juga tidak bercanda Mario,”


“Terus tadi kamu mengatakan sad boy dan uang. Apa maksudmu?”


“Kapan aku mengatakannya?”


“Maria! Jangan membuat aku emosi apa kamu...”


“Apa? Menjual diri? Sempit sekali pikiranmu. Banyak cara untuk mendapatkan uang Mario. Kenapa harus menjual diri, cih murahan sekali,” ujar Maria sambil menatap tangan kiri Mario yang penuh dengan kantong plastik hitam. “Itu apa?”


“Makanan enak. Ayo kita makan bersama,” jawab Lery sambil mengambil kantong plastik di tangan suami kemudian menarik tangan Maria menuju ruang kerjanya, meninggalkan Mario yang langsung menghembuskan nafasnya kasar sambil menggeleng gelengkan kepalanya menatap kedua wanita yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


“Tadi janji setelah sampai di kantor aku boleh memupuk. Tapi janji tinggallah janji, malang sekali dirimu adik, layu sebelum menegang huff,” ujar Mario yang langsung menyusul kedua wanita yang sangat berharga bagi dirinya.


Bersambung..............


__ADS_2