Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
116 Stop Kontak


__ADS_3

Juano langsung beranjak dari tidurnya dan memeluk mama Dina dengan erat kemudian isak tangis keluar dari bibirnya.


“Sekali lagi maaf ma. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mama, aku sungguh minta maaf ma,”


Mama Dina yang mendengar putranya menangis langsung melepas pelukan sang anak, beralih meraup wajah Juano dan menghapus air matanya.


“Idih masa sudah mau jadi calon suami masih saja menangis malu sama Maria, kalau melihat calon suaminya menangis seperti ini,”


Juano yang mendengar perkataan mana Dina langsung mengerutkan keningnya.


“Maksud mama?”


“Tidak ada maksud apa-apa, jadi pria itu jangan cengeng, dan satu lagi mama kecewa padamu, kenapa kamu tidak bilang kalau Maria ingin resepsi pernikahannya di gelar secara meriah dengan tema kerajaan yang megah dan juga autdoor,”


“Apa!”


Juano begitu terkejut dengan apa yang di dengarnya dari sang mama.


“Kenapa? Kamu kira kamu orang susah, bukan Ano sayang, kamu bisa mengabulkan semua apa yang diinginkan Maria,”


“Maria tidak mengatakan apa pun lagi selain itu ma?” tanya Juano penasaran dan menyipitkan matanya untuk menatap mama Dina.


“Tidak, hanya itu yang Maria katakan kepada mama, memang mau mengatakan apa lagi, atau jangan-jangan kamu dan Maria sudah... Ah tidak mungkin kamu kan belum sembuh,” ujar mama Dina sambil menggelengkan  kepalanya.


“Kata siapa?”


Mama Dina yang mendengar pertanyaan Juano langsung menatap intens sang putra untuk mencari jawaban dari sorotan mata sang anak.

__ADS_1


“Atau jangan-jangan kamu...”


“Jangankan satu menit ma, satu jam aku juga kuat berdiri,” sambung Juano memotong perkataan mama Dina yang langsung membuka mulutnya tidak percaya, kemudian memeluk tubuh Juano dengan penuh kebahagiaan dan langsung melepas pelukannya beralih meraup wajah putranya.


“Kamu tidak sedang berdusta kan?”


“Untuk apa, tidak ada gunanya,”


“Berarti burung kamu hanya mau dengan sarang eksekutif dan itu hanya pada Maria?”


“Iya ma, setiap aku menyentuh kulitnya, setrumnya sangat kuat,”


Mendengar jawaban dari Juano mama Dina langsung mencubit lengan sang anak.


“Mama sakit,”


“Itu ibarat kata ma,” ujar Juano dengan tersenyum senang, dan rasa pusing yang sedari tadi dirinya rasakan hilang entah ke mana, saat tahu jika Maria tidak jadi membatalkan pernikahannya dan tetap  menerimanya.


“Kenapa senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan kamu sudah tes drive duluan,”


“Ya belum ma, aku juga tahu batasannya ma, meskipun darahku suka mendidih jika berdekatan dengan Maria,”


“Bagus itu, dan itu yang seharusnya di jaga oleh seorang pria jangan pernah memaksa pasangan untuk melakukan terlebih dahulu meskipun nanti akan menikah, mengerti?”


“Mengerti ma. Oh ya ma, Maria ke mana?” tanya Juano penasaran.


“Dia sedang ke butik teman mama, fitting baju untuk acara kalian,”

__ADS_1


“Jangan bercanda ma ini malam hari,”


“Benar mama tidak bohong, karena teman mama esok hari akan mengikuti pameran di luar negeri jadi menyuruh Maria untuk datang sekarang juga,”


Juano yang mendengar perkataan mama Dina langsung turun dari ranjang.


“Mau ke mana?”


“Menyusul calon istriku ma,” ujar Juano penuh dengan antusias.


“Kamu diam saja disini, Maria bersama dengan kakaknya dan juga kakak iparnya. Dokter menyuruhmu melakukan rawat inap malam ini,”


“Oh mama, aku–


“Ano!”


*


*


*


Sementara itu di butik milik teman mama Dina, Maria sudah berganti gaun untuk yang ketiga kalinya, dan ketiga begitu cocok untuk Maria.


“Kakak ipar dari ketiga ini mana yang bagus untukku?” tanya Maria pada Lery yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari Maria yang sedang berdiri di depan cermin yang mengelilingi setengah bagian butik tersebut.


“Aku lebih suka yang lengan panjang dan tertutup,” sambung seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan di mana Maria berada.

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2