Terpaksa Menikahi Asisten

Terpaksa Menikahi Asisten
93 Tegak


__ADS_3

“Nona Lery,” ujar mbok Jum saat sudah membuka pintu rumah. “Mbok kira non Maria yang pulang,”


“Maksud mbok Jum?” tanya Mario penasaran saat mendengar perkataan mbok Jum. “Apa Maria tidak ada di rumah? Apa dia sedang pergi ke car wash?"


“Cara wash? Bukan tuan, nona Maria dari kemarin belum pulang, tuan,”


“Dari kemarin?”


“Iya tuan, kemarin nona Maria mengunjungi kediaman mama dari tuan Ano. Dan malamnya nona bilang ingin menginap di rumah temannya,” jelas mbok Jum.


“Teman yang mana?” tanya Mario penasaran pasalnya selama ini setahu Mario, Maria tidak pernah sekalipun menginap di rumah temannya. Yang ada teman Maria yang menginap di rumahnya.


“Nona tidak memberi tahu teman yang mana tuan,” jelas mbok Jum dan Mario pun langsung menghubungi ponsel sang adik, tapi tidak ada jawaban dari Maria.


“Ya ampun, ini anak membuat aku kuatir,” ujar Mario sambil mematikan sambungan ponselnya untuk kesekian kali, saat dirinya menghubungi semua teman Maria yang dirinya tahu. Tapi semua mengatakan Maria tidak menginap di rumahnya.


“Mungkin dia menginap di rumah temannya yang lain, yang kamu tidak tahu sayang,” ujar Lery untuk menenangkan sang suami.

__ADS_1


“Aku mengenal semua temannya sayang,” sambung Mario kemudian menghubungi ponsel sang adik kembali.


“Maria!” teriak Mario saat ponsel sang adik ada yang mengangkatnya.


“Maaf tuan, nona Maria masih tidur. Ini saya asisten tuan Ano. Dan nona Maria ada disini,” ujar Anton dari balik sambungan ponsel milik Maria yang dirinya angkat saat Maria semalam meninggalkan ponselnya di meja dapur, ketika Maria membuat jus lemon untuk Juano.


Dan Mario langsung mematikan sambungan ponsel miliknya dengan kesal.


“Sayang ada apa?” tanya Lery saat melihat kekesalan di wajah sang suami.


“Kamu pulang saja, aku akan menyuruh sopir menjemputmu. Aku ada urusan,” jawab Mario sambil mencium kening sang istri kemudian meninggalkan Lery yang begitu penasaran.


Juano yang baru saja membuka matanya tepat saat jam di kamarnya menunjukkan pukul sepuluh pagi, langsung memegangi keningnya kemudian menatap ke samping kanan tapi tidak mendapati ada Maria, saat dirinya semalam tidur di pangkuan Maria sambil menggenggam tangan Maria, agar Maria tidak pulang dan tetap terus bersamanya, ketika Juano merasa lebih baik jika berada di dekat Maria.


Juano yang akan turun dari tempat tidur langsung mengerutkan keningnya, saat telinganya mendengar suara aneh dari dalam kamarnya tepatnya dari arah sofa yang berada di dalam kamar.


Juano berjalan menghampiri arah suara tersebut dan langsung memalingkan wajahnya, saat menatap pemandangan yang berada di depannya. Ketika Maria tidur dengan pulas di atas sofa dengan mulut yang terbuka dan terus mengeluarkan suara dengkuran, tapi bukan itu yang membuat Juano memalingkan wajahnya, pasalnya dirinya melihat pemandangan yang membuat aliran darahnya seketika memanas, saat jubah mandi yang sejak semalam membalut tubuh Maria terbuka dan memperlihatkan gunung kembar Maria dengan choco chips berwarna merah muda, dan juga memperlihatkan kain segitiga berwarna maroon, saat salah satu kaki Maria turun ke lantai.

__ADS_1


“Ya ampun ada apa denganku,” Juano terus memalingkan wajahnya dan langsung membalik tubuhnya saat jantungnya berdetak tidak sesuai irama, tapi dirinya langsung menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kembali untuk menghadap ke arah Maria dan mendekatinya.


Dan dengan sekuat tenaga dirinya menahan rasa aneh yang terus menjalar ke seluruh tubuh, yang tidak pernah dirinya rasakan selama ini. Kemudian Juano mengangkat tubuh Maria, saat dirinya merasa tidak tega melihat Maria tidur di atas sofa dengan posisi yang tidak nyaman, lalu membawanya ke tempat tidur.


Maria yang sudah berada di atas tempat tidur langsung memeluk tubuh Juano, hingga Juano terjatuh di sampingnya, saat Maria yang memang tidur dengan pulas mengira Juano guling, yang biasanya dirinya peluk saat tidur.


Juano yang tiba-tiba di peluk oleh Maria, pasrah dan refleks memeluk balik tubuh Maria dan terus memeluk Maria meskipun wanita yang memeluknya tersebut mulai melonggarkan pelukannya.


Senyum terukir dari kedua sudut bibir Juano saat menatap wajah Maria yang hanya berjarak beberapa senti darinya, dan tangannya pun reflek membelai wajah Maria.


“Ya ampun kenapa denganku,” gumam Juano dalam hati dan menarik tangannya yang masih membelai wajah Maria saat irama jantungnya tidak beraturan, dan tubuhnya mulai memanas. Apa lagi saat adik kecilnya tiba-tiba berdiri tegak di bawahnya. “Ada apa ini,” gumam Juano lagi sambil melepas pelukannya dan ingin menjauh dari Maria, tapi Maria yang sudah mengendurkan pelukannya, langsung memeluk tubuh Juano kembali.


Gubrak


 


Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2