
Juano dan juga Maria masih diam dengan pikirannya masing-masing, setelah Juano dengan sengaja mencium bibir Maria.
Sesekali Juano yang sedang mengemudikan mobilnya melirik Maria, entah mengapa hatinya begitu gembira melihat reaksi Maria saat dirinya tadi mencium bibir Maria, meskipun dia sudah minta maaf tapi tidak mendapat balasan dari Maria yang hanya diam terpaku.
“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Maria, dan aku pastikan itu,” gumam Juano dan terus melebarkan senyumannya.
“Ya Tuhan apa tadi itu yang di namakan ciuman yang sesungguhnya, kenapa rasanya berbeda dengan dulu, saat aku berciuman dengan mantan pacarku ketika masih kuliah,”
Gumam Maria ketika mengingat lagi ciuman Juano berbeda dengan ciuman yang dulu pernah dirinya lakukan dengan sang kekasih meskipun hanya sekali.
“Maria,” ujar Juano memecah keheningan di dalam mobil.
Maria yang mendengar Juano memanggil namanya langsung menoleh ke arah Juano dan tatapan keduanya langsung bertemu meskipun hanya sesaat.
“Oh iya, apa kamu menghabiskan cake yang aku kirimkan?”
“Tidak,”
“Kenapa?”
“Nanti kamu terus meledekku seperti ondel-ondel, jika aku menghabiskan cake itu jika tubuhku membengkak,”
“Itu kan hanya cake, bukan makanan,”
“Ish dasar loyo bodoh, kamu itu sekolah tidak sih, kamu tahu berapa kalori yang tersimpan di dalam satu potong cake?”
“Tidak tahu,”
“Ya udah diam saja,”
“Ih ko begitu tidak asyik ah,”
“Bodo amat,” ujar Maria sambil menyadarkan punggungnya di jok mobil tempatnya duduk. Dan Juano yang mendengar perkataan Maria langsung tersenyum entah mengapa semenjak mengenal Maria hari harinya begitu berwarna.
“Sial kenapa macet sekali jalanan,” ucap kesal Juano saat mobil yang di kendarainya tidak sama sekali bergerak.
“Ya sudah sabar saja, nanti juga bergerak, kamu tahu kan ini ibu kota, dari pada banyak mengeluh mending belokan mobil kamu ini di restoran depan, perut aku lapar,”
“Tidak mau,”
__ADS_1
“Idih, aku sangat lapar loyo,”
“Uangku menipis,”
“Dasar pelit, uang kamu tidak akan pernah habis sampai tujuh belas turunan,”
“Mana ada sebanyak itu yang ada kan tujuh turunan,”
“Suka-suka mulut aku mau berapa juga,”
“Tetap saja aku tidak akan memberhentikan mobil ini,”
Juano berkata sambil menginjak pedal gas saat jalanan sudah tidak macet lagi.
“Dasar menyebalkan,” ujar Maria sambil melipat keduanya kemudian menyandarkan punggungnya di jok mobil, dan tidak lupa bibirnya terus mencibir Juano.
“Tau tidak, kalau bibir kamu begitu kamu tambah cantik,”
“Kamu tidak pantas menggombal loyo,”
“Apa aku bicara padamu, orang aku sedang berbicara sendiri dan lihat tuh kembaran kamu,” ujar Juano sambil menunjuk ondel-ondel keliling yang berada di seberang jalan.
“Yakin, kamu tidak akan merindukan aku?”
“Tidak akan, pergi yang jauh sana,”
“Oke,” ucap Juano sambil tersenyum dan menatap Maria yang sekarang fokus menatap keluar jendela.
*
*
*
Setelah hampir dua jam Juano mengendarai mobilnya di tengah kemacetan ibu kota, tibalah keduanya di halaman rumah Maria.
Dan Maria langsung mengerutkan keningnya ketika melihat ada mobil Mario yang sudah terparkir di halaman rumah.
“Tumben sekali dia datang ke rumah, aku harap tidak ada masalah,” ucap maria dan turun dari mobil Juano.
__ADS_1
Dan tatapan Maria beralih pada Juano yang ikut turun dari mobil.
“Siapa yang menyuruhmu turun?”
“Apa salah?”
“Tentu, pulanglah perutku terasa mual ketika melihat dirimu,”
Juano yang mendengar ucapan Maria hanya tersenyum kemudian berjalan mendahului Maria menuju pintu rumahnya.
“Juano!”
Maria berteriak dan segera menghampiri Juano.
“Stop! Siapa yang menyuruhmu masuk?”
“Tidak ada,” jawab Juano yang langsung menarik tangan Maria dan masuk ke dalam rumah.
“Ano lo–
Maria tidak meneruskan perkataan saat sudah berada di dalam rumah, ketika tatapannya tertuju ke arah ruang tamu yang sudah penuh dengan orang.
“Adik kesayangan sudah pulang?” tanya Mario dan berjalan menghampiri sang adik dan tangannya refleks menampik tangan Juano yang masih memegang tangan Maria.
“Tunggu satu minggu lagi kalau sudah halal, baru boleh pegang-pegang,”
Maria yang mendengar perkataan Mario langsung mengerutkan keningnya.
“Jangan berdiri di depan pintu, tidak baik untuk calon pengantin sepertimu,”
“Apa maksudmu?” tanya Maria yang tidak paham pada apa yang di katakan oleh Mario.
“Jangan berlaga tidak tahu, apa Ano tidak memberi tahu kamu, jika minggu depan kalian akan menikah dan kita berkumpul di sini untuk membahas acara pernikahan kalian,” jelas Mario sambil memegang kedua bahu Maria untuk menghadap ke arahnya.
“Aku sangat bahagia Maria, sebentar lagi adikku ini akan menikah, apa lagi jika orang tua kita masih hidup, pasti mereka merasakan apa yang aku rasakan sekarang,”
Mario berkata kemudian memeluk sang adik dengan erat, dan tatapan Maria tertuju pada Juano untuk meminta penjelasan.
Tapi Juano hanya mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju ruang tamu di mana sudah ada sang mama.
__ADS_1
Bersambung..............